Masyarakat Sipil Indonesia Tolak Monsanto
Posted by @Editor on 3rd October 2016
| 812 views
Jagung produk Monsanto (foto:kabarbisnis.com)
Jagung produk Monsanto (foto:kabarbisnis.com)

AktualPress.com—Monsanto, perusahaan penghasil benih dan produk pangan GMO, juga hadir di Indonesia. Pada April 2015, Monsanto melakukan kemitraan dengan pemerintah untuk melatih petani menggunakan bibit transgenik (GMO). Sementara pada Desember 2015, Kementerian Pertanian menyatakan melepas benih pertama hasil program rekayasa genetika, yaitu benih jagung produksi Monsanto Indonesia.

Berita pelepasan benih transgenik ini disampaikan oleh anggota Komisi Keamanan Hayati Program Rekayasa Genetika, Bambang Purwantara pada 1 Desember 2015. Menurut Bambang, Mosanto telah mengantongi persetujuan keamanan lingkungan, keamanan pangan dan pakan. Proses penilaian dan pengujian dilakukan secara ketat dan berhati-hati. Melibatkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan sejumlah Kementerian.

Sementara itu, proyek kemitraan Monsanto, Cargill, Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dimulai pada April 2015 dengan menggandeng 100 petani jagung di Mojokerto Jawa Timur. Dalam proyek bernama Proyek Percontohan Kemitraan Keberlanjutan Jagung/ Corn Sustainability Partnership Pilot Project di bawah Kemitraan Pertanian Berkelanjutan di Indonesia/ Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture (PISAgro) ini, ada 50 hektar kebun yang akan ditanami benih transgenik.

Protes Masyarakat Sipil

Masyarakat sipil yang peduli pada keamanan pangan pun menyatakan protesnya di media sosial. Di situs laporpresiden.id, seseorang bernama Shintia Dian Arwida menulis surat berikut ini.

Kepada Yth.
Bapak Presiden Jokowi

Mohon hentikan penggunaan benih GMO untuk meningkatkan produksi pertanian. Benih GMO adalah benih yang sudah diubah genetiknya melalui proses yang tidak alami dan melibatkan sel-sel yang bersifat karsinogenik. Contohnya: kentang atau tomat yang dikawinkan dengan gen ikan, ikan yang dikawinkan dengan gen pertumbuhan ternak. Produk ini tidak melalui proses pengujian efek karena pihak perusahaan yang menghasilkan produk ini sudah invest sangat besar dan menginginkan pengembalian modal dalam jangka waktu singkat. Masyarakat Eropa dan Amerika sudah lama membuat gerakan menolak produk GMO sehingga perusahaan penghasil “melempar” produk mereka ke negara berkembang. Dalam jangka panjang sangat mungkin muncul efek yang merugikan bagi kesehatan manusia dan juga lingkungan akibat pemakaian benih GMO. Selain concern ini, petani kecil juga akan menghadapi  masalah hak paten benih seperti pernah terjadi kasus antara Monsanto dan petani kecil di Jawa Timur awal tahun 2000.

Sementara itu, FanPage “Indonesia Against Monsanto and GMOs” merilis ciri-ciri dan fakta produk pangan hasil rekayasa genetik, yaitu sebagai berikut:

Ciri-ciri produk transgenik:

– Warnanya sangat cerah
– Ukuran relatif lebih besar dibanding yang alami
– Biji/Daun/Batangnya tidak bisa ditanam kembali, kalaupun bisa, tidak menghasilkan buah
– Hampir tidak ada cacat/lobang/bekas dimakan serangga pada daun
– Kalau ditumpuk dalam jumlah banyak, ukurannya relatif sama
– Rasa lebih tawar dibanding yang alami

Fakta tentang produk transgenik:
1. Merupakan produk laboratorium yang menggunakan teknologi yang sangat berbeda dengan pembibitan alami, dan menimbulkan berbagai resiko dibandingkan bibit alami.
2. Dapat menimbulkan keracunan, alergi dan kurang bergizi dibandingkan dengan yang alami.
3. Tidak terjamin keamanannya.
4. Tidak meningkatkan produksi hasil pertanian.
5. Tidak menurunkan penggunaan pestisida, malah membutuhkan lebih banyak pestisida.
6. Menimbulkan masalah serius bagi petani termasuk toleransi herbisida “gulma super”, kualitas tanah terganggu, dan meningkatkan kerentanan penyakit pada tanaman.
7. Mempunyai berbagai macam efek ekonomi.
8. Merusak kualitas tanah, mengganggu ekosistem, dan mengurangi keanekaragaman hayati.
9. Tidak memberikan solusi yang efektif untuk perubahan iklim.
10. Membutuhkan energi yang lebih banyak seperti tanaman bukan alami lainya.
11. Tidak menyelesaiakan permasalahan kelaparan dunia, tetapi mengalihkan permasalahan dari intinya, menimbulkan kemiskinan, kurangnya akses terhadap pangan dan semakin kurangnya akses terhadap lahan untuk pertanian. (dayu)

SHARE THIS: