Potensi Energi Alternatif Biodiesel
Posted by Aktual Press on 17th November 2016
| 642 views
Pabrik pengolahan minyak goreng bekas jadi biodiesel di Kota Denpasar yang beroperasi sejak 2013 ini didirikan oleh Caritas Switzerland dan dikelola Yayasan Lengis Hijau. Foto : Luh De Suriyani
Pabrik pengolahan jelantah jadi biodiesel di Kota Denpasar beroperasi sejak 2013, didirikan oleh Caritas Switzerland dan dikelola Yayasan Lengis Hijau. Foto : Luh De Suriyani

AktualPress.com— Anggota DPR I Wayan Koster menyebut pengelolaan jelantah menjadi biodiesel mendukung transportasi ramah lingkungan di Bali. Pernyataan tersebut dilontarkan pada saat Kampanye Bio Bus di Sekolah Green School, Badung, Bali, pada Jum’at lalu (11/11/2016).

Putera daerah yang membidangi pendidikan, olahraga, pariwisata di parlemen itu mengungkapkan bahwa badan anggaran telah menganggarkan dana program energi baru dan terbarukan.

“Tepat di Badung karena hotel restoran terbanyak. Ini perlu regulasi. Bisa buka ruang baru untuk menjawab lingkungan sehat, mengolah limbah kembali, dan bisnis baru,” kata Koster.

Harga biodiesel memang harus memperhatikan harga solar industri karena masih minimnya kesadaran menggunakan sumber energi terbarukan.

Faktanya, menjual biodiesel tak mudah karena industri masih memilih solar yang harganya sedikit lebih murah.

Biosolar dihasilkan tak hanya dari jelantah yang mayoritas sawit, tapi juga banyak diversifikasi dari tumbuhan lain.

Tentunya, ini lebih ramah lingkungan karena terbuat dari sumber daya hayati,  sehingga lebih mudah terurai.

Pabrik Pengolah Jelantah Jadi Biodiesel

Yayasan Lengis Hijau melalui unit usahanya PT. Bali Hijau Biodiesel baru beroperasi tiga tahun di Kota Denpasar, Bali. Dirintis oleh Caritas Switzerland, lembaga bantuan sosial global dari Swiss bekerja sama dengan pemerintah kota Denpasar. Merk biodiesel yang dihasilkan diberi nama Ucodiesel, jenis B100 khusus olahan jelantah.

Menginjak tahun ketiga, Direktur PT Bali Hijau Diesel Endra Setyawan mengatakan pabrik ini sudah menghasilkan 500an ribu liter biodiesel, berasal dari 350an ribu liter jelantah yang didapatkan di Bali dan sisanya sekitar 300an ribu liter dari Surabaya.

Biodiesel yang diperoleh sekitar 75% dari bahan baku jelantah. Harga jual Ucodiesel per Agustus ini Rp9500 per liter. Sementara harga solar industri sekitar Rp9000an per liter.

Di tahun pertama, tantangannya adalah kesulitan mencari minyak goreng bekas, karena harus bersaing dengan para pengepul jelantah.

Padahal minyak  goreng  secara  aman  hanya  dapat  digunakan  maksimal  3  kali,  dengan  suhu  di bawah  125 derajat  celcius, tapi banyak yang berani membeli lebih mahal untuk dijual kembali.

Memasak minyak goreng dengan  suhu  di atasnya,  mempercepat  oksidasi  dan  degradasi  minyak goreng.  Pada proses  penggorengan  menghasilkan  berbagai  radikal  bebas  yang  bersifat karsinogen,  diserap  dan  merusak  gizi  makanan  membahayakan  kesehatan.

Selain itu, jelantah dapat  merusak  sel-sel tubuh,  membran  dan  fungsi  sel  tubuh,  memicu  peningkatan  risiko  stroke,  obesitas,  jantung, dan lainnya.

Pengolahan daur ulang jelantah menjadi Biosolar di Lengis Hijau ini menerapkan teknik filtrasi mekanis  dikombinasikan dengan  konversi kimia.

Memanfaatkan  mesin dengan  teknologi  modern  FuelMatic  GSX 3 dari Inggris, dengan kapasitas produksi 1.000 liter per satu kali proses dengan durasi 8 jam.

Lengis Hijau menyebut biosolar dapat digunakan langsung untuk mesin diesel atau campuran solar. Tidak dibutuhkan modifikasi mesin untuk penggunaannya. (Zainab)

 

 

 

SHARE THIS: