30.000 Pasubayan Desa Adat Bali Gelar Aksi Tolak Reklamasi Teluk Benoa
Posted by Aktual Press on 28th December 2016
| 618 views

tolak-reklamasiAktualPress.com— Pasubayan (persaudaraan) desa adat melakukan aksi longmarch dan panggung seni menyuarakan penolakan reklamasi oleh Pasubayan (persaudaraan) Teluk Benoa, Bali, pada Hari Ibu 22 Desember 2016.

Sejumlah 30.000 warga adat Bali memukul kulkul bertalu-talu sebagai simbolis mengusir energi jahat agar penguasa dapat berpikir jernih di tahun mendatang, yaitu dengan mendengar aspirasi rakyat untuk menolak reklamasi Teluk Benoa.

Longmarch dilakukan sesuai rute aksi-aksi sebelumnya yang sudah berjalan 4 tahun. Massa mengepung kantor Gubernur Bali, kemudian dilanjutkan dengan menyebar kendaraan komando di empat titik terpisah.

Dalam kendaraan pickup dan truk ini akan tampil sejumlah seniman dan musisi yang konsisten terlibat dalam aksi-aksi penolakan reklamasi.

Tiap panggung dihidupkan dengan orasi perwakilan desa-desa adat dan komunitas kelompok muda dari seluruh kabupaten di Bali yang hadir.

Pimpinan desa adat Kuta I Wayan Swarsa selaku Koordinator Pasubayan Desa Adat Tolak Reklamasi Teluk Benoa menyampaikan orasinya bahwa hari Ibu menjadi momentum untuk mengingatkan pada keberpihakan ibu pertiwi, yakni tanah dan laut Indonesia. Lebih lanjut, ia menceritakan kesucian ibu dalam wiracerita Mahabrata.

Pada kesempatan itu, I Wayan “Gendo” Suardana mengingatkan agar upaya reklamasi tak kunjung usai. Ia meminta warga terus bersuara agar tak ada ruang untuk memuluskan rencana investasi oleh PT TWBI ini.

Koordinator ForBALI tersebut menyebut selama dua bulan terakhir ada rapat di Kemenkopolhukam yang membahas tentang reklamasi Teluk Benoa. Selain itu, rapat digelar di komisi IV DPR RI digelar Rapat dengar Pendapat umum antara komisi IV DPR RI dengan PT. TWBI.

“Artinya saat kita diam maka akan ada pihak lain yang akan bergerak maju. Oleh karena itulah kita tidak boleh diam, kita harus terus bergerak. Hanya itu modal kita untuk menghambat laju rencana reklamasi Teluk Benoa,” ujar Gendo.

Seni adalah Suara Kebangkitan Rakyat Bali

15665491_1502071969821348_8617825336394601076_nSelama hampir 4 tahun aksi longmarch tolak reklamasi ini melatih sejumlah anak muda untuk orasi di depan banyak orang. Hal yang baru dalam demokratisasi dan kebebasan berpendapat di Bali.

Salah satu panggung yang menarik perhatian adalah Barong dan Rangda Go Green dari pemuda Sanur.

Barong merupakan simbol spirit kebaikan ini ditarikan dua orang dan terbuat dari bahan-bahan daur ulang seperti koran bekas. Demikian juga Rangda yang pakaiannya sebagian dirangkai dari koran bekas. Puluhan pemuda membuat musik dari baleganjur dan kentongan bambu.

Dramatari Barong dan Rangda ini menjadi simbol kebangkitan semangat dharma (kebaikan) yang merontokkan sifat-sifat kebatilan seperti tamak terutama dalam eksploitasi lingkungan.

Di sudut lain ada penampilan Inguh (Lawak Bali), atraksi gamelan Baleganjur Rarekulaikers dan band-band populer yakni Superman Is Dead, The Dissland, Nosstress, Jony Agung and Double T, The Hydrant, Made Mawut, Lanang OI, The Djihard, The Bullhead, Poison and Rose, The Ledorz, dan Relung Kaca.

Tiap band menyanyikan karya-karyanya yang sangat relevan dengan tekanan lingkungan dan kekuasaan saat ini.

Misalnya The Hydrant dengan liriknya yang sederhana tapi tajam. “Hati-hati ada proyek, maaf ada galian pipa. Proyek ini proyek itu lah masyarakat semua protes. Ada proyek yang bikin sengsara, ada proyek yang bikin kaya raya. Hati-hati ada proyek… reklamasi,” seru Marshello vokalisnya.

Aksi berlangsung selama 3 jam ini berakhir setelah pemukan kentongan bersamaan diiringi penampilan grup band fenomenal asal Bali, Superman Is Dead. (Zainab)

SHARE THIS: