Faktor-faktor Kebangkrutan VOC
Posted by Aktual Press on 2nd January 2017
| 1493 views

kehancuran-vocAktualPress.com— Eksistensi maskapai dagang Hindia Timur alias Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) berakhir pada akhir tahun 1799. VOC dikenal sebagai pemonopoli rempah-rempah di bumi nusantara.

Kebangkrutan VOC disebabkan besarnya pengeluaran ditambah korupsi dan utang yang mencapai 136,7 juta gulden.

Maskapai milik kerajaan Belanda yang berdiri pada 20 Maret 1602 tersebut mengeksploitasi kekayaan nusantara. Mereka membeli rempah-rempah dengan harga murah dari petani pribumi, lalu menjual dengan harga tinggi di Eropa.

Demi memperbesar keuntungan, agar tercapai Gold & Glory bagi Kerajaan Belanda, maka hak Oktroi pun diberikan kepada VOC.

Maka, sejak hari itu VOC menjadi perpanjangan tangan kerajaan di nusantara. VOC diizinkan mencetak mata uang sendiri dan diberi wewenang memungut pajak di daerah kekuasaan mereka.

Terkait urusan dengan kerajaan lain, termasuk kerajaan dari Eropa, mereka diberi kuasa untuk membangun hubungan diplomatik, membuat perjanjian dagang, memaklumkan perang, membuat perjanjian damai, dan diperbolehkan membangun angkatan perang sendiri.

VOC acap kali mengedepankan cara damai untuk menjaga kepentingan monopoli rempah-rempahnya.

Tak semua kerajaan mau tunduk dengan VOC, antara lain Mataram dari Jawa Tengah, Gowa-Tallo dari Sulawesi Selatan, Ternate-Tidore dari Maluku, Banten, Palembang dan lainnya.

Namun, VOC memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi militer yang unggul. Setidaknya, VOC punya benteng kuat dan rapat, senjata api yang lebih memadai, serdadu-serdadu sewaan yang terampil serta sekutu-sekutu lokal yang mendukung VOC. Sehingga, banyak kerajaan-kerajaan lokal terpaksa tunduk pada VOC.

Kemudian, orang-orang Belanda VOC adalah orang-orang yang suka menerapkan politik belah bambu alias Devide et Impera, yang intinya: pecah belah dan jajahlah!

Meskipun banyak perang dimenangkan, tapi perang membutuhkan banyak biaya sehingga menguras kas VOC.

Selain itu, anggaran pertahanan alias dana perang ini pun sering jadi ladang korupsi mereka.

Di lain sisi, saingan dagang Belanda di Asia juga tergolong kuat, seperti Inggris dan Perancis. Persaingan usaha antar koloni juga salah satu faktor kebangkrutan VOC.

Sementara itu, VOC juga harus membagikan deviden (keuntungan), sehingga beban VOC makin berat; besar pasak daripada tiang.

Tepatnya pada paruh kedua abad XVIII itu, “kondisi keuangan VOC mengalami kemunduran. VOC sangat letih menghadapi peperangan, dan tidak menghendaki terjadinya perang lagi…Imperium Belanda yang pertama di Indonesia ini terlena dalam tidur yang pulas di tengah-tengah merajalelanya korupsi, ketidakefisienan dan krisis keuangan,” tulis Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 (2009).

Di negeri Belanda, terjadi perubahan akibat Revolusi Perancis (1789-1799) yang membuat Republik Bataaf berdiri pada 1795. Pemikiran demokratis dan liberal yang menganjurkan perdagangan bebas pun berkembang. Monopoli VOC pun terancam.

Utang VOC sendiri mencapai 136,7 juta gulden dan tak tertolong lagi. “Terhitung sejak 31 Desember 1799 VOC dinyatakan pailit, utang dan asetnya diserahkan kepada Pemerintah Belanda,” tulis sejarawan Ong Hok Ham dalam Dari Soal Priayi Sampai Nyi Blorong (2002).

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor keruntuhan VOC: Pertama, korupsi merajalela di kalangan pegawai pejabat dan hampir semua lini pemerintahan VOC di Nusantara; Kedua, banyaknya pengeluaran yang terjadi pada masa itu sebagai dampak dari peperangan melawan Inggris; Ketiga, adanya saingan baru di daerah Nusantara, seperti Inggris dan Perancis; Keempat, perubahan politik di Belanda juga menyebabkan keruntuhannya; Kelima, hutang VOC sangatlah besar; Keenam, lemahnya pasukan militer atau perang VOC; Terakhir, mulai tumbuhnya rasa Nasionalisme di daerah Nusantara. (Zainab/ disadur dari berbagai sumber)

 

SHARE THIS: