KLHS Belum Bisa Putuskan Soal Status Karst Watuputih Rembang
Posted by redaksi2 on 14th April 2017
| 139 views
Sumber: Republika
Sumber: Republika

AktualPress.com˗˗ Salah satu polemik soal pabrik Semen Indonesia di Kabupaten Rembang adalah belum adanya status karst untuk kawasan cekungan air tanah (CAT) Watuputih. Penelitian tentang kawasan karst terhenti di kawasan Sukolilo, Kabupaten Pati.

“Penelitian geologi memang baru berhenti di Sukolilo (Pati), dia ketahuan jadi kawasan bentang alam karst (KBAK). Kita belum bisa putuskan (CAT Watuputih) karena belum ada yang membuktikan,” ujar Ketua Tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) San Afri Awang, seusai berkunjung di lokasi pabrik semen Rembang, Kamis (13/4/2017).

Afri mengungkapkan, proses satu kawasan menjadi KBAK harus dilalui dengan kajian secara komprehensif. KBAK itu terbentuk karena melalui proses batuan kapur. terdapat proses selama jutaan tahun, ketika air hujan terjadi pelarutan batu kapur, sehingga di permukaan yang terlihat adalah ponor, yakni satu fitur karst permukaan yang mana air dapat masuk ke dalam sistem jaringan air bawah permukaan. Selain itu, bentuk lain yang terlihat adalah adanya goa dan jaringan sungai bawah tanah.

Dia juga mengatakan, sampai saat ini belum ada penelitian yang membuktikan adanya jaringan sungai bawah tanah di bawah kawasan CAT Watuputih.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Planologi ini menyatakan bahwa contoh pengeboran di titik pabrik semen belum bisa mewakili secara keseluruhan. Afri juga tidak menyangkal jika di kawasan CAT sudah ada ponor dan goa.

“Ponor, goa itu proses pembentukan itu jutaan tahun. Kalau tambang kena itu, tidak ada cerita reklamasi, tapi adanya kehancuran. Itu sifatnya ponor alamiah,” jelasnya.

Maka dari itu, tim KLHS akan menungu kajian dari Badan Geologi ESDM untuk melakukan penelitian secara mendalam. Rekomendasi yang diberikan dalam hasil KLHS adalah diadakannya penelitian lebih lanjut.

Dia juga menambahkan, problem mendasar lain adalah adanya fungsi yang tumpang tindih dalam pemanfaatan kawasan lindung. semua CAT masuk sebagai kawasan lindung geologi, namun di sisi lain, CAT juga mengatur kemanfaatan.

“Itu masalahnya di sana. Lalu karena ada aturan daerah lindung geologi dan kemanfaatan tambang, maka aturan ke bawah seperti itu,” katanya. (Sihab/Kompas)

SHARE THIS: