Soekarno Muda, Sang Revolusioner
Posted by Lestari on 5th June 2017
| 145 views

SoekarnoAktualPress.com – Soekarno, dialah seorang revolusioner yang memiliki andil besar dalam kemerdekaan bangsa Indonesia. Hampir setiap orang di seantero negeri ini mengenal namanya, terlebih para orang tua yang sempat hidup dalam atmosfer penjajahan dan menyaksikan sepak terjangnya untuk membebaskan bangsa Indonesia dari jeratan Belanda dan Jepang.

Soekarno menyebut dirinya sebagai ‘penyambung lidah rakyat’, dan sebutan inilah yang dia minta untuk dituliskan di atas batu nisannya. Dunia telah melihat kehebatan Soekarno, setidaknya melalui orasi-orasinya yang menghidupkan. Namun apa yang dimiliki Soekarno di masa kejayaannya sebagai presiden pertama republik Indonesia, tidak diperolehnya secara instan. Sesungguhnya, semua kebesaran itu telah dibangun  sejak ia masih muda.

Soekarno muda, dikenal sebagai pemuda yang berkemauan keras dan selalu menonjol dalam setiap perkumpulan. Dia selalu melakukan lebih dari apa yang berhasil dilakukan oleh teman-temannya. Jika Soekarno dan teman-temannya sama-sama memanjat pohon, maka dapat dipastikan bahwa pemanjat yang berada paling atas adalah dia. Sebaliknya, jika di antara mereka ada yang jatuh, maka tidak ada yang keras jatuhnya melebihi dia.

Soekarno muda, banyak menghabiskan hari-harinya bersama buku-buku. Sebab, hanya bukulah yang mampu menjadi sahabat sejatinya dan selalu ada kapanpun ia mau. Di dalam buku, Soekarno muda menemukan kebahagiaan. Inilah suatu fase dalam kehidupannya, yang membuat Soekarno memahami dan melihat dunia dengan kaca mata yang lebih luas. Melalui buku-buku itu, pandangannya tentang baik dan benar semakin tajam. Buku-buku mampu membuka matanya untuk melihat kejamnya penindasan kolonial Belanda. Jika buku bagi Soekarno adalah sahabat, maka perpustakaan adalah peti harta karun yang berisi emas.

Orang-orang besar, selalu menuliskan pemikiran terbaiknya dalam sebuah buku

Melalui buku, Soekarno bertemu dengan tokoh-tokoh besar semisal Thomas Jefferson yang menulis buku berjudul ‘Declaration of Independence’ dan berdiskusi dengannya. Tentu saja, tokoh-tokoh lainnya juga, seperti Karl Marx, Friedrich Engels dan Lenin, Rousseau, Jean Jaures, dan yang lainnya. Semua tokoh-tokoh itu menuliskan pemikiran terbaiknya dalam sebuah buku, dan Soekarno muda telah membaca itu. Dari sini, kesadarannya atas keadilan semakin tinggi. Pengetahuannya ini, membuat kebenciannya kepada penindasan semakin menjadi-jadi.

Suatu malam, di saat semua teman-temannya telah tertidur lelap, Soekarno masih terjaga. Dengan semangat yang berkobar, ia naik ke atas meja belajarnya yang reyot dan mulai meneriakkan pidato sekencang-kencangnya. Aksinya ini berhasil membuat semua orang yang tadinya tidur, melotot menatap ke arahnya, sambil berkata, “He, No, Kau gila?” yang lain menimpali, “ Sakit kau No?”

Semakin hari, Soekarno semakin menyadari ketidakadilan yang diperbuat kolonial Belanda terhadap bangsanya. Hingga akhirnya ia berpikir bahwa seorang pemuda Indonesia tidak boleh lagi larut dalam kesenangan dengan melarikan diri ke dalam dunia khayalan. Pemuda Indonesia harus menghadapi kenyataan bahwa negerinya miskin, malang, dan terhinakan. (AL/AM/Kiat-Kiat Cerdas Cendekiawan Muslim)

SHARE THIS: