Bercokolnya Sang Predator Neoliberal Pertama di Indonesia
Posted by Lestari on 7th June 2017
| 77 views

NeoliberalismAktualPress.com – Soeharto berkuasa, kebijakan-kebijakan ekonomi yang pro-barat pun meraja-lela. Kita harus ingat bahwa para pendukung dari kelompok elit maupun barat mengharapkan Soeharto bisa membangun sebuah demokrasi dan pasar yang ramah dengan kepentingan mereka. Sebuah negara dengan pintu terbuka, hingga mereka pun merasa memilikinya, dapat keluar masuk seenaknya.

Orde baru Soeharto ternyata menyoretkan sebuah kebijakan otoriter yang kejam. Soeharto melembagakan sistem korporat otoriter, mendahului organisasi-organisasi independen dan otonom pada saat itu. Memang, Soeharto lah yang sangat efektif membunuh puluhan partai politik, menyisakan partai Golkar, PDIP, dan PPP.

Vedi R. Hadiz mengungkapkan bahwa para pekerja, petani, pemuda, wanita, dan lainnya dipaksa untuk bergabung ke dalam organisasi buruh yang didominasi negara. Lebih lagi, Soeharto tetap komitmen berada di kubu AS menyangkut politik perang dingin. Secara rahasia, dia merancang dan mengarahkan Indonesia menuju bentuk kapitalisme yang sangat predator dan tanpa belas kasih. Akibatnya, Indonesia kian terlilit oleh para kapitalis raksasa dunia.

Dibantu dengan pembangunan internasional, Soeharto mendapat rejeki nomplok dari pendapatan minyak pada tahun 1970an. Dalam prosesnya, para teknokrat ekonom yang sudah belajar ke luar negeri menjadi terpinggirkan.

Para kaum intelektual seperti birokrat dan para pembuat kebijakan di Indonesia telah dibina dan dilatih AS dengan cara memberikan sejumlah program bantuan, misalnya yang dilakukan oleh Ford Foundation dalam membantu mengembangkan infrastruktur ‘modernisasi’ intelektual Indonesia di universitas-universitas terkemuka, seperti; Universitas Cornell.

Ford Fondation pun paling dikenal dalam mengembangkan fakultas ekonomi Universitas Indonesia pada waktu itu. Sehingga ia menjadi sebuah lembaga yang menyediakan para birokrat dan para kabinet kepemimpinan Soeharto dengan keahlian dan keterampilan teknokratik. Sebelumnya, para penerima program tersebut belajar ekonomi dan pembangunan selama beberapa dekade di Universitas Kalifornia di Berkeley, Amerika Serikat. Mereka dijuluki Mafia Berkeley, para ekonom Indonesia binaan Amerika.

Menurut Revrisond Baswir, mereka lah penyebab krisis ekonomi yang menimpa bangsa Indonesia. Mereka dibina AS untuk membelokkan arah perekonomian Indonesia ke jalan ekonomi pasar neoliberal. Para neolib pun bersorak riang menyambut panggilan tangan Indonesia.

Beberapa bantuan kegiatan dari yayasan swasta AS pada tahun 1950-an dan 1960-an sering dikaitkan dengan strategi dan kepentingan geopolitik AS, sehingga muncul dugaan keterlibatan CIA.

Dean Jones, seorang mantan pejabat tinggi Departemen Luar Negeri dan Kepala Yayasan Rockefeller, mengusulkan bahwa agresi komunis di Asia perlu dilawan dengan prajurit-prajurit yang sudah difasilitasi pelatihan militer oleh AS pada puncak Perang Vietnam. Hal ini pun untuk meningkatkan jumlah sekutu Asia-Amerika. Dengan demikian, para teknokrat pro-barat dan para militer pada dasarnya adalah si kembar yang sangat anti-komunis di Indonesia.

Tidak diragukan lagi bahwa yang paling besar menerima manfaat dari kebijakan orde baru adalah perusahaan raksasa AS, seperti; perusahaan minyak Caltex yang kemudian berlari ke Indonesia dan dengan mudah menunjuk Riau sebagai tempat beroperasi mengeruk sumber daya minyak negeri yang kaya ini. Tak cukup hanya itu, perusahaan raksasa pertambangan Freeport pun ikut lari terbirit-birit menunjuk Papua sebagai tempat operasi untuk makin menguras kekayaan bumi pertiwi. (AL)

 

Sumber: Indonesia order and terror in a time of empire karya Vedi R. Hadiz

Facebook Comments

Baca Juga:

Ekspor Ikan Indonesia Naik, Kabar Baik Atau Kabar ... AktualPress, Yogyakarta – Presiden Republik Indonesia Joko ‘Jokowi’ Widodo dalam pembukaan simposium internasional Symposium Fisheries Crime (FishCRIM...
Trump akan Lakukan Kunjungan Negara ke Israel Aktualpress.com—Presiden AS Donald Trump dan Perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu mendiskusikan kunjungan pemimpin Amerika itu ke kawasan pendudu...
Sri Mulyani: Ribuan Triliun Harta WNI Masih Sembun... Sumber: Kompas AktualPress.com˗˗  Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, masih banyak harta warga negara Indonesia (WNI) yang belum melaporka...
Nenek Moyang Kita Pelaut Bukanlah Mitos, Berikut K... Kapal Papua Replika kapal asal Papua ini berbeda dengan kapal-kapal dari daerah lain. Bentuknya besar, panjangnya tak kurang dari 15 meter. “Ja...
Masyarakat AS Tak Setujui Pemotongan Anggaran Bela... Washington, LiputanIslam.com--Rakyat Amerika menolak hampir semua aspek dalam rencana anggaran belanja yang dibuat oleh Presiden Donald Trump karena d...
Mengenal Black Lives Matter AktualPress.com—Black Lives Matter (BLM) adalah sebuah gerakan aktivis internasional yang berasal dari komunitas Afrika-Amerika yang berkampanye melaw...
SHARE THIS: