Carut-Marutnya Indonesia Pasca Perang Dingin
Posted by Lestari on 7th June 2017
| 206 views

indonesiaAktualPress.com – Era kemerdekaan sungguh menyodorkan waktu yang sangat berharga. Terusirnya para penjajah menjadi sebuah harapan besar bagi bangsa. Namun harapan besar hanya harapan. Harapan besar telah dirusak, dirusak oleh kepentingan-kepentingan elit dan pro-barat. Proses demokrasi terukir secara tidak murni dan tidak suci. Semua telah diwarnai merah darah para pejuang nasional, yang sama-sama meneriakkan bebas dan merdeka. Namun apakah teriakkan mereka berhasil secara mudah, atau sebenarnya para jenderal militer dan para elit Indonesia telah membukakan pintu dan menarik kemerdekaan rakyat ke jurang kesengsaraan berikutnya?

Untuk memahami proses demokrasi yang bergejolak di masa setelah kemerdekaan Indonesia – sebuah masa dimana bertepatan dengan tatanan dunia pasca Perang Dingin – kita harus mengingat bagaimana seorang Jenderal besar Soeharto yang didukung kekuatan barat meraih kekuasaannya, meraih penghormatan tertinggi negara, melalui sebuah kampanye berdarah dan upaya memberantas komunisme di Indonesia.

Vedi R. Hadiz melalui tulisannya yang berjudul Indonesia: Order and Terror in a Time of Empire menyatakan bahwa korban tewas kampanye nasional tersebut tidak dapat diketahui secara rinci hingga sekarang, hanya konsensusnya berada pada nominal sekitar 800.000 jiwa. Beberapa ratus ribu diantaranya adalah berasal dari para anggota komunis dan simpatisan yang ditahan tanpa diadili selama bertahun-tahun.

Tentu ini sangat berdampak bagi Indonesia. Ada apa di balik teriakan-teriakan untuk membenci dan memberantas komunisme di Indonesia tersebut?

Pemberantasan yang sukses terhadap komunisme di masa orde baru tersebut telah sukses pula memfasilitasi kebijakan untuk mengesampingkan dan membiarkan kepentingan masyarakat, penduduk pada waktu itu.

Banyak analis yang mencatat, seperti Mortimer 1974 yang diucapkan Hadiz bahwa Soekarno lebih dekat dengan PKI di tahun-tahun terakhirnya berkuasa, karena ia ingin memeriksa kekuatan militer Indonesia yang saat itu kian meningkat. Sudah terbukti bahwa kekuatan militer pada saat itu mengambil alih nasionalisasi banyak perusahaan asing pada akhir tahun 1950-an. Selain itu, militer juga semakin mendominasi operasi pemerintah daerah, seperti di Sumatera Barat dan Sulawesi Utara.

Di sisi lain, PKI adalah satu-satunya pesaing yang layak untuk kekuatan militer Indonesia pada permulaan tahun 1960-an. Semakin sering perseteruan antara PKI dan militer (tentara dan para jenderal) pada waktu itu.

Amerika jelas berada di pihak para jenderal, militer. Hubungan erat AS dengan para petinggi militer tersebut telah terlihat melalui berbagai program bantuan, misalnya; pelatihan militer di AS dan pasokan perangkat keras dari AS. Program-program semacam itu dilakukan setelah pemerintah AS menyatakan kegagalan kebijakan Soekarno secara rahasia kepada para pemberontak terselubung yang membuat Indonesia kian carut marut, hingga menawarkan Soeharto sebagai gantinya.

Meninggalnya sang pahlawan nasional Soekarno dan naiknya Soeharto ke tampuk kekuasaan, sebenarnya difasilitasi oleh koalisi kepentingan yang dipimpin para militer. Mereka melibatkan kelompok elit dan menengah perkotaan. Tentu koalisi semua pihak itu adalah kekuatan-kekuatan sosial yang tidak hanya terancam oleh populisme sayap kiri PKI, tetapi juga kebijakan ekonomi Soekarno sendiri. Oleh sebab itu, meninggalnya Soekarno menjadi semacam obor kemenangan yang akan segera ditanggapi secara kilat.

Memang, militer adalah salah satu komponen orde baru yang sangat penting selama tahun-tahun awal kemerdekaan. Ia bertahta sangat lama karena difasilitasi oleh keterlibatan Indonesia dalam politik perang dingin global.

Setelah berkuasa, Soeharto merangkul kebijakan-kebijakan ekonomi yang pro-barat. Soeharto membukakan pintu selebar-lebarnya kepada barat untuk berpijak dan bercokol di negeri ini. Kebijakan-kebijakan ekonomi pro-barat tersebut membangun basis dalam periode yang lama, mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan tatanan politik nasional, hingga berakhir dengan krisis ekonomi Asia tahun 1997-1998. (AL)

SHARE THIS: