Etika Berpendapat Dalam Islam
Posted by Lestari on 10th June 2017
| 198 views

IslamAktualPress.com – Di tengah ketegangan yang terjadi antara berbagai pihak yang terlibat dalam dialektika keagamaan, dalam hal ini adalah Islam, ada satu hal yang menurut saya sangat penting untuk diperhatikan. Sebab, jika tidak, maka persoalan ini akan memiliki dampak yang sangat besar (jika enggan disebut membahayakan) bagi kelangsungan peradaban umat Muslim itu sendiri. Hal penting yang saya maksud di sini adalah etika berpendapat.

Dalam mengutip dalil-dalil keagamaan baik itu berupa hadis, terlebih lagi al-Qur’an, harus dengan jujur (karena memang seharusnya seperti itu) menyatakan bahwa apa yang disampaikan itu adalah pendapat yang bersangkutan. Contohnya pemberi pendapat bisa menggunakan redaksi “menurut saya” atau “dalam pandangan saya”, dan berbagai ujaran sejenisnya. Sebaliknya, keliru jika pemberi pendapat menyampaikan pendapatnya, sekalipun bersumber dari hadis terlebih al-Qur’an, dengan menggunakan redaksi ucapan “menurut al-Qur’an” atau “menurut hadis Rasulullah Saw” atau “al-Qur’an mengatakan” atau “Rasulullah mengatakan.”

Mengapa demikian? Karena, apa yang kita pahami atas ayat-ayat al-Qur’an atau pun hadis-hadis Rasululullah Saw itu belum tentu sama dengan yang dipahami oleh orang lain. Dalam banyak hal, justru perbedaan pendapat di kalangan para ulama dan para pemuka agama Islam itu merupakan hal yang biasa terjadi. Sampai-sampai fenomena keragaman pendapat ini, menurut saya mendapat legitimasi atau penguatan dari sabda Nabi Muhammad Saw yang bermakna “perbedaan adalah rahmat”.

Dalam pandangan saya, etika berpendapat semacam ini jarang sekali digunakan oleh para ulama di Indonesia dewasa ini (secara pribadi saya tidak menyetujui penisbatan label ulama pada orang-orang tertentu, yang oleh mayoritas disebut ulama karena alasan tertentu yang tidak akan saya jelaskan di sini). Mereka seringkali “khilaf” dalam menyampaikan pendapat, sehingga apa yang mereka sampaikan itu terkesan benar-benar apa yang Allah Swt maksudkan di dalam al-Qur’an atau apa yang Nabi Muhammad inginkan sampaikan melalui hadis-hadisnya. Contoh penyampaian pendapat semacam ini biasanya disampaikan dalam bentuk kalimat “menurut al-Qur’an ayat ….” atau ” Allah memerintahkan kita melalui al-Qur’an ayat ….” atau “di dalam al-Qur’an secara jelas Allah katakan kepada kita”, dan seterusnya.

Bagi kalangan akademisi atau generasi terpelajar yang memiliki spesifikasi di bidang al-Qur’an dan hadis atau mereka yang mendalami persoalan ini secara baik, ujaran-ujaran yang terkesan mengatasnamakan Allah Swt atas pendapat pribadi ini mungkin tidak menjadi persoalan yang berarti. Sebab, secara tersirat mereka sudah memahami bahwa sekalipun pemberi pendapat mengatakan ” menurut al-Qur’an”, yang dimaksud sebenarnya itu adalah “menurut pendapat saya atas al-Qur’an”.

Berbeda jika yang mendengar ujaran-ujaran tersebut adalah mereka yang tidak memiliki spesifikasi pengetahuan atas al-Qur’an dan hadis atau mereka yang sering bergelut dalam spesifikasi pengetahuan yang berbeda, atau terlebih lagi mereka yang tidak memiliki daya kritis di dalam benaknya (orang-orang awam), maka mereka akan secara langsung beranggapan bahwa yang disampaikan itu benar-benar apa yang al-Qur’an maksudkan atau apa yang Allah ingin manusia lakukan. Buruknya, para pendengar seperti ini, akan beranggapan bahwa ini adalah pendapat satu-satunya sebab ini adalah ungkapan al-Qur’an yang merupakan firman Allah Swt. Dalam perkara ini, kemunculan pendapat lain akan sesegera mungkin mendapatkan label penolakan dalam beragam bentuknya, seperti “Ini liberal” atau “wah ini sesat” atau “wah ini terlalu mengedepankan akal”, dan seterusnya.

Menurut saya, inilah yang terjadi beberapa waktu lalu, ketika aksi demo yang ditenggarai oleh para ulama (menurut sekelompok orang) berhasil membuat kebenaran dan kebatilan itu menjadi buram (disesuaikan dengan kepentingan masing-masing). Yang terjadi waktu itu adalah karena mereka kerapkali menyampaikan pendapatnya tidak berdasarkan etika berpendapat yang jujur. Sehingga hal itu dapat dengan mudahnya menggerakkan massa rakyat yang masih belum memahami al-Qur’an berikut berbagai penafsirannya.

Menurut saya, kita tidak boleh membiarkan hal ini terus terjadi. Sebab, kemungkinan terburuk yang akan ditimbulkannya adalah penyalahgunaan al-Qur’an atas kepentingan tertentu dengan memanfaatkan keawaman masyarakat. Kejadian semacam inilah yang menurut saya disindir oleh al-Qur’an sebagai orang-orang yang memperjual-belikan ayat-ayat al-Qur’an dengan harga yang murah atau seharga isi perut manusia. (AL/AM)

SHARE THIS: