Mentalitas Kolonial Kikis Solidaritas dan Keadilan Sosial
Posted by Lestari on 28th June 2017
| 62 views

BANKSY-ARTAktualPress.com – Apakah seluruh manusia benar-benar terlahir setara seperti apa yang kita pahami selama ini? ataukah semua itu hanya ungkapan kosong tanpa makna belaka? Aksi teror dan penjajahan terus saja terjadi di belahan dunia ini khususnya dunia ke-3 (Asia-Afrika).

Banyak kita saksikan aksi-aksi teror dan penjajahan. Tanah yang semula milik penduduk asli sebuah negara telah direbut tanpa belas kasihan. Dan penduduk asli diusir atau disiksa di tanah mereka sendiri, sehingga kehidupan penduduk asli justru menderita dibandingkan dengan para pendatang jahat yang tak lain adalah penjajah kolonial. Hidup penduduk asli lebih menderita dan bernilai lebih kecil daripada para pendatangnya.

“Apa yang terjadi di Dunia ke-3 (Asia-Afrika) tidak lagi atau tidak secara serius menjadi perhatian dunia barat (dunia yang memunculkan para penjajah, imperialis, kolonial), jadi mengapa kita harus memperhatikan dunia ke-3? Budaya dan penampilan dunia barat berbeda dengan dunia ke-3, jadi mengapa tidak membiarkan saja? Toh bukan negara kita.” Pertanyaan-pertanyaan ini yang gencar-gencarnya ditanam dalam mental seluruh manusia, untuk membentuk sebuah mentalitas kolonial.

Jika kita mau menjawab, jawaban sederhananya adalah karena kita sama-sama manusia. Apa yang terjadi dengan mereka selayaknya menjadi perhatian kita bersama sebagai umat manusia. Apa yang telah merusak mereka berarti pula merusak diri kita karena merusak esensi kemanusiaan. Solidaritas dan keadilan sosial lah yang harus kita tumbukan dalam mental untuk melihat seluruh insiden yang terjadi di dunia ini, khususnya dunia ke-3 yang selalu menjadi korban.

Para penjajah kolonial barat adalah orang-orang yang telah memanfaatkan tanah dunia ke-3 selama berabad-abad. Penjajah tersebutlah yang menjadi alasan mengapa hidup mereka tidak sebebas hidup kita di negara ini.

Penjajah telah mencuri sumber daya dunia ke-3, memperbudak populasi mereka, mendikte undang-undang mereka selama berabad-abad. Selain itu, penjajah telah membuat perjanjian perdagangan dengan negara-negara makmur lainnya, sehingga penjajah dapat melanjutkan kemakmuran ekonomi mereka, sementara kesenjangan ekonomi dunia ke-3 terus meningkat.

Seluruh dunia seolah menangis ketika serangan teror terjadi di barat, namun hal yang sama tidak berlaku bila terjadi insiden serupa di negara-negara dunia ke-3. Contohnya; serangan teror di London menimbulkan sebuah protes besar, tidak seperti tanggapan terhadap insiden ledakan mobil di Baghdad yang menewaskan 40 warga dan atau tewasnya 2.000 warga di Jalur Gaza.

Berita utama mengenai terorisme di wilayah Timur Tengah dianggap normal di dunia barat, karena berita serupa seringkali muncul. Begitulah mentalitas kolonial yang terus diboomingkan.

Kita terbiasa mendengar angka korban tewas di Timur Tengah hampir setiap hari, seperti: 10 korban tewas di Palestina, 17 korban di Irak, atau 40 korban di Suriah. Namun, kita harus ingat bahwa sesungguhnya tidak normal orang terbunuh di manapun di dunia ini. Seharunya memang kita tidak menganggapnya normal. Begitu kita mengganggapnya normal, kita kehilangan salah satu hal yang membuat kemampuan berempati kita tumbuh.

Kita harus fokus kepada hak asasi manusia. Kita harus mendidik diri kita sendiri tentang semua insiden yang terjadi di dunia ini. Kita harus selidiki secara serius. Kita harus selalu bertanya kepada diri kita sendiri, “apakah ini benar-benar adil untuk seluruh manusia, untuk dunia ke-3?”.

Mentalitas kolonial yang mungkin secara tidak sadar telah sedikit terpatri dalam diri harus segera diganti dengan mental solidaritas. Kebaikan yang kini makin meninggalkan jiwa masyarakat internasional dan keadilan sosial yang terus terkikis harus segera dipulihkan kembali. (AL/PNN)

SHARE THIS: