Kebijakan Perusahaan Raksasa Untuk Hancurkan SDM Pendidikan Tinggi
Posted by Lestari on 4th July 2017
| 49 views

gerbang universitasAktualPress.com – Apakah kita membutuhkan universitas-universitas lagi? Bagaimana jika universitas-universitas di dunia semakin kehilangan peminatnya, karena fenomena perusahaan raksasa internasional yang kini banyak membuat kebijakan untuk mempekerjakan karyawan non sarjana dan fenomena sarjana menganggur yang menjadi efek fundamental dari kebijakan tersebut?

Perusahaan raksasa Google mengumumkan bahwa mereka mempekerjakan karyawan tanpa gelar sarjana. Perusahaan besar Ernst & Young pun membuat kebijakan yang sama di Inggris pada musim gugur lalu. Kedua perusahaan bertaraf internasional tersebut menilai sebuah universitas dengan pandangan rendah alias kurang begitu penting untuk manusia masa depan.

Apakah dua perusahaan terkenal tersebut membuat kebijakan yang salah? Ataukah mungkin menjadi kebijakan awal yang paling benar dan modern, sehingga kemudian bisa diikuti oleh perusahaan-perusahaan besar lain di seluruh penjuru dunia? Sungguh, jika jawaban dari pertanyaan kedua ini benar, maka nilai sebuah pendidikan di universitas akan secepat kilat menabrak dinding kehancuran, seperti cepat hilangnya kebutuhan membaca di perpustakaan dan hilangnya kebutuhan untuk membaca informasi-informasi penting di surat kabar.

Kebutuhan manusia untuk belajar dan mengisi otak dengan ilmu dan informasi yang tepat berkurang dan bahkan akan hilang. Coba pikirkanlah: Mana yang lebih penting bagi pekerjaan anda, pendidikan di universitas ataukah smartphone yang merupakan universitas di saku baju anda?

Telah banyak uang dikeluarkan untuk menyelesaikan pendidikan di universitas di seluruh dunia. Telah banyak biaya mahal mereka keluarkan untuk menambah pengetahuan dan keahlian di jenjang yang lebih tinggi, unniversitas. Jika perusahaan besar seperti Google dan Ernst & Young tidak begitu membutuhkan karyawan bergelar sarjana, dan jika perusahaan-perusahaan lain mengikutinya, maka ribuan universitas akan hancur dan fenomena sarjana menganggur akan semakin membludak. Cara pandang masyarakat pun semakin dangkal bahwa tidak perlu melanjutkan studi setinggi-tingginya karena toh banyak yang menganggur.

Bagaimana proses pendidikan bisa maju jika banyak perusahaan raksasa internasional yang justru membuat kebijakan yang menjatuhkan harga dan martabat universitas-universitas di dunia sendiri? Bagaimana para mahasiswa bisa menyelesaikan pendidikan dan kuliahnya secara baik untuk mempersiapkan karir yang juga memuaskan jika para pesaingnya sendiri adalah bergelar non-sarjana?

Jika alasan perusahaan-perusahaan raksasa tersebut mengambil karyawan non sarjana karena merasa praktik universitas mengalami transformasional yang masif dan kurang kondusif, seharusnya bukan kebijakan tersebut yang menjadi solusinya. Kebijakan mengambil banyak karyawan non sarjana seolah merupakan sikap frustasi terhadap sistem pendidikan di universitas, dan kemudian menolaknya tanpa peduli untuk memperbaiki sistem apa yang salah. Seharusnya perlu solusi untuk memperbaiki sistem yang salah pada universitas, sehingga menghasilkan para lulusan dengan sumber daya manusia terbaik. Jika bisa, seluruh generasi muda manusia harus memiliki pendidikan yang setara, baik, dan komprehensif tanpa terkecuali.

Terlebih, apakah benar alasan kebijakan frustasi dari perusahaan-perusahaan tersebut? Boleh jadi bukan karena alasan sistem pendidikan di universitas yang kurang kondusif, melainkan alasan gaji atau upah yang bisa dibayarkan lebih rendah kepada para lulusan non-sarjana daripada karyawan sarjana yang memiliki pendidikan dan daya kritis yang baik. Pemberian gaji rendah dengan pemanfaatan tenaga kerja seberat-beratnya tentu lebih baik untuk para kapitalis. Keuntungan mereka pun akan berlipat-lipat.

Jika hal ini benar, tentu akan menjadi tren penjajahan sumber daya manusia yang baru, yang paling modern, dan yang paling tragis. Universitas-universitas pun sudah tidak lagi berfungsi karena peminatnya menurun drastis. Proses pendidikan dan keilmuan menjadi lebih singkat. Tidak ada lagi orientasi memperbaiki ilmu, cara pandang, dan wawasan, melainkan hanya orientasi materi dan karir untuk memenuhi kebutuhan perut semata. Akibatnya, manusia menjadi robot-robot yang semakin miskin ilmu, daya berpikir dangkal, orientasi hanya materi, sehingga mudah disuap dan dihasut untuk menjadi robot penebar kebencian dan pembuat kerusakan.

Universitas tentu mengubah cara pandang mahasiswa menjadi lebih baik, menjadi lebih terbuka, menjadi lebih komprehensif. Hal ini akan membentuk sumber daya manusia yang lebih baik untuk lingkungan maupun untuk manusia lain. (AL)

SHARE THIS: