Tradisi Badha Kupat Di Kudus
Posted by Lestari on 6th July 2017
| 55 views

badha kupatAktualPress.com – Di Kudus, lebaran ketupat memiliki nama khas, yaitu “Badha Kupat”. Badha adalah lebaran, sedangkan kupat adalah ketupat yang terbuat dari anyaman daun kelapa (janur) yang dibentuk persegi empat dengan diisi beras. Tidak seperti di kota atau daerah lain, lebaran ketupat di Kudus memiliki moment waktu berbeda.

Biasanya, lebaran ketupat bersamaan dengan lebaran hari raya idul fitri. Ketupat dijadikan makanan sajian khas lebaran dengan opor ayam dan sayur lodeh sebagai pelengkapnya. Namun di Kudus, lebaran ketupat atau badha kupat diadakan pada tujuh hari atau satu minggu setelah lebaran idul fitri. Ketika idul fitri, nasi tetap menjadi santapan utama masyarakat Kudus, namun dilengkapi dengan opor ayam. Selanjutnya, ketupat disajikan ketika badha kupat di hari seminggu pasca lebaran. Tahun ini, badha kupat di Kudus jatuh pada hari minggu tanggal 2 Juli 2017.

Tidak hanya moment waktu, tetapi juga tradisi unik yang ada di dalamnya. Badha kupat seringkali disebut dengan badhane cah cilik yang artinya lebarannya anak kecil. Mengapa anak kecil menjadi simbol khusus di dalamnya? Karena pada saat badha kupat, terdapat tradisi tukar-menukar uang (sangu) dari para orang tua atau tetangga kepada anak-anak kecil di sekitar tempat tinggalnya. Seluruh anak kecil yang belum bisa bekerja mendapat sejumlah uang dari para orang tua. Ada di antara mereka yang kemudian menggunakan uang tersebut untuk ditabung, namun ada pula di antara mereka yang kemudian menggunakan uang tersebut untuk digunakan membeli mainan dan semacamnya di bulusan. Bulusan adalah pasar rakyat khusus badha kupat, yang hanya ada pada saat seminggu setelah lebaran idul fitri saja.

Sejarah badha kupat sudah ada sejak masa Sunan Kalijaga. Pada saat itu, beliau membagi 2 hari raya, yaitu badha lebaran dan badha kupat. Badha lebaran adalah hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa pada bulan ramadhan, sedangkan badha kupat adalah hari kemenangan setelah enam hari berpuasa sunnah di bulan syawal. Itulah mengapa badha kupat memiliki waktu berbeda. Selain itu, terdapat alasan lain, yaitu menghormati dua murid Mbah Dudho yang terkutuk menjadi bulus (kura-kura). Mbah Dudho merupakan seorang ulama penyebar Islam awal di Jawa. Ia mendirikan pesantren pertama di kaki Gunung Muria.

Dua murid Mbah Dudho yang menjadi bulus (kura-kura) akibat ucapan dari Sunan Muria ketika peristiwa malam Nuzulul Qur’an. Pada saat itu, murid tersebut sedang menggarap sawah pada malam hari. Ketika Sunan Muria melewati jalan dekat sawah tersebut, ia berhenti dan berucap, “Malam nuzulul Qur’an kok tidak membaca Al-Qur’an malah di sawah berendam air seperti bulus.” Akibat peristiwa itu, mereka pun tidak bisa kembali seperti semula. Kemudian Sunan Muria menancapkan tongkatnya ke tanah, keluarlah mata air di sekitar bulus tersebut. Sambil meninggalkan tempat itu, Sunan Muria berkata kepada Mbah Dudo sebagai guru dari 2 murid yang telah berubah menjadi bulus itu, “Besok anak cucu kalian akan menghormati mereka setiap satu minggu setelah hari raya bulan syawal, tepatnya saat badha kupat.” (AL)

SHARE THIS: