Jakarta Bisa Tenggelam Karena Penurunan Tanah dan Reklamasi
Posted by @Redaksi on 27th July 2017
| 83 views

Aktualpress.com – Meski digadang-gadang sebagai simbol kemajuan dan prestige Jakarta sebagai kota metropolitan ibukota Jakarta, proyek besar reklamasi Teluk Jakarta menyimpan banyak masalah tersembunyi. Tak hanya merusak ekosistem lautan dan mengancam kehidupan puluhan ribu nelayan pesisir Teluk Jakarta, namun juga mengancam tenggelamnya Jakarta.

Hal ini diungkapkan oleh salah seorang anggota Tim Kajian Reklamasi, Perekayasa Muda Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Dr. Agus Setiawan. Berikut wawancaranya:

Bagaimana Balitbang Kementrian Kelautan melihat kondisi Jakarta yang tanahnya mulai banyak turun saat ini?

“Ya, memang itu salah satu masalah yang dihadapi Jakarta saat ini. Misalkan di Pantai Mutiara ada penurunan rata-rata dari mulai Pantai Mutiara dibentuk dari reklamasi sampai sekarang itu 0,113 cm per tahun atau 11 senti per tahun. Ada yang jalannya turun, ada yang daerah perumahan juga turun. Di kampung Dadap, Tangerang, juga begitu.”

“Memang tidak homogeny penurunannya. Ada yang tinggi, ada yang tidak. Makin ke sini makin turun tanahnya. Nah ini bukan hanya di Jakarta, hampir semua daerah pesisir di Pantura juga mengalami hal.  Jadi di Tangerang, di Jakarta ada Muara Baru, Sunter, Muara Angke, Cilincing. Di Bekasi, Subang, Indramayu, Pemalang, sampai Semarang juga. Karena memang, kalau kita lihat antara Pantai Selatan dan Pantai Utara kan hampir semuanya banyak penduduk dan bangunan dibanding di pantai selatan, mereka yang makin tenggelam oleh genangan air.”

Apa penyebab makin tingginya genangan air ini?

“Pertama sea level, tingkat air laut naik. Itu fenomena global, menurut hasil penelitian terakhir itu kan temperatur di bumi meningkat. Dengan meningkatnya temperatur kan berarti menambah volume air. Karena dia fluida maka dia bergerak ke tempat yang lebih rendah. Jadi otomatis secara umum, seluruh dunia, walau tanpa land subsidence saja, itu permukaan air akan naik. Nah ini ditambah land subsidence pula. Hanya saja, memang laju land subsidence ini lebih tinggi dari sea level rise. Ia akan makin memperburuk sea level rise.”

“Yang kedua, soal penurunan permukaan, terutama ini masalah di perkotaan-perkotaan yang semakin padat penduduknya. Jadi bukan hanya di Indonesia saja. Seperti di Cina, semua negara yang pertumbuhan kotanya pesat, perkembangan kebutuhan air tanahnya juga bertambah, itu juga akan bermasalah global juga. Masalah yang berkaitan dengan penambahan jumlah penduduk.”

Bagaimana dengan proyek reklamasi, apakah ia juga punya andil menaikkan air dan menenggelamkan kota?

“Kalau yang reklamasai pulau, itu sebenarnya isu yang lebih dominan itu isu lingkungan saja. Karena apa? Karena Teluk Jakarta itu ada beberapa 13 muara sungai. Nah, beberapa pulau reklamasi itu seperti pulau C dan D itu di depan arah keluar sungainya. Isunya, terjadinya sedimentasi, jadi dia menyebabkan pendangkalan lautnya, pantainya. Itu yang menyebabkan nelayan harus memutar lebih jauh lagi. Pendangkalan ini, juga menyebabkan mangrove di Muara Angke itu terganggu sirkulasi airnya, jadi banyak yang mati, karena dangkal kan? Harusnya pada saat pasang terendam, jadi tidak terendam.”

“Sedimentasi ini, pendangkalan ini, mengubah pola arus laut. Hasil studi saya ada di situ, bagaimana arusnya itu jadi melambat. Jadi kalau arusnya melambat itu ketika sedimen yang harusnya terbawa, dia langsung turun, mengendap di situ. Ini bisa juga menambah, secara tidak langsung, dia kan terhambat nih aliran sungai, sementara ini daerah di sekitar sungai kan rendah, otomatis dia kan akan jadi tujuan air. Nah, secara tidak langsung menyebabkan seringnya terjadi genangan.”

“Karena ini terjadi di muara suangai, di mana reklamasi mengubah pola arus jadi lambat, maka jadi pengendapan, harusnya lancar jadi terhambat karena reklamasi. Karena daerah sini kurang tinggi, ya akan mengalir. Tapi kalau reklamasi dilakukan reklamasi secara betul, dengan membuat aliran di sini tetap bagus, tidak mengganggu fungsi, nah itu tidak akan terjadi. Itu juga satu ancaman jika reklamasi tidak dilakukan dengan benar.”

Itu Pulau C dan D, bagaimana dengan efek pulau lainnya?

“Pulau G itu isunya lain lagi. Di itu berhubungan dengan pipa bawah laut punya PLTU. Ada saluran air panas yang keluar dari PLTU, itu yang terganggu. Jadi pipanya itu lokasinya dekat dengan pulau reklamasi yang besar kemungkinan akan bisa teruruk, dia bisa patah. Juga bebannya bertambah, tadinya dia kan di air, kalau ada pulau bisa tertimbun tanah. Juga air panas hasil olahan PLTU yang harusnya dibuang itu juga bisa terhambat. Dia bisa saja masuk lagi ke imteknya. Dia mengganggu kinerja PLTUnya, ditambah sedimen bisa masuk ke intek mengganggu pltu.”

Bagaimana dampaknya bagi para nelayan di pesisir sendiri?

“Dampaknya memang, kalau pada saat proses reklamasi berjalan, itu pasti di daerah pesirir, terutama yang budidaya nelayan kecil kena. Karena saat kegiatan reklamasi mau gak mau sebabkan itu tadi kekeruhan, larutan sedimen, ada aktifitas yang intensif di situ. Ada pengerukan pasir, lalu lalu-lintas kapal, dan sebagainya. Yang paling terdampak di daerah pesisir, ya nelayan kecil.”

“Setelah tadi reklamasi terjadi, kalau misalnya isu di AMDAL dilakukan, sebenarnya isunya bisa minim. Yang tadinya kekeruhan segala macam bisa tidak terjadi. Cuma, masalah selanjutnya, penggunaan pulau reklamasi buat apa? Jadi kalau di situ untuk pemukiman, isu pentingnya kan akan ada limbah dari kegiatan rumah tangga, limbah domestik. Lalu juga penggunaan air bersih dari mana? Apakah dari air tanah atau dari air lain? Kalau dari air tanah ya jelas menambah land subsidence. Artinya secasra tidak langsung kegiatan reklamasi bisa tambah tenggelamkan jakarta.”

“Tapi kalau misalnya air tanah diambil dari river osmosis, mungkin potensinya adalah limbah air asin. Karena kalau dari air laut kan dia menyaring air laut jd air tawar, kan ada air yang asinnya tinggi. Di industri ada namanya air tua, keasinanya sampai 40-50. Bisa hampir dua kali lebih asin dari air laut. Kalau dia dalam volume yang cukup besar, misalnya untuk memenuhi satu-dua pulau yang penduduknya banyak sampai 24 jam aktifitasnya, artinya kan yang dibuang akan juga banyak. Nah, kalau dia dilepas langsung ke lingkungan, mencemari daerah sekitarnya, itu bisa menyebabkan hal-hal negatif, seperti mangrove pertumbuhan melambat karena air lebih asin. Normalnya dia 20, jadi 40-50. Budidaya juga jelas akan terganggu.”

“Nah itu biasanya di negara maju seperti Singapura, itu dikaji bagaimana buangan itu akan ke arah mana? Jadi harus ada kajian lagi yang menganalisis dampak hasil air buangan itu. Karena semua kegiatan seperti itu akan memberi dampak.” (Joko)

SHARE THIS: