Lahan Gambut Masih Sangat Rentan Terbakar
Posted by @Redaksi on 21st August 2017
| 114 views

AktualPress.com – Kebakaran-kebakaran besar hutan Indonesia pada 2015 lalu, yang sampai membuat negara tetangga terganggu oleh asapnya, ternyata masih belum membuat pemerintah Indonesia belajar. Penanganan lahan-lahan gambut yang rentan terbakar hingga saat ini masih bermasalah, kanal-kanal air masih banyak yang belum ditutup sehingga gambut masih kering dan sangat rentan terbakar oleh api. Titik-titik panas dalam pantauan satelit BMKG pun masih banyak berada di titik yang sama dengan tahun 2015 lalu.

Apa yang sebenanrya terjadi? Berikut wawancara dengan Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Annisa Rahmawati:

Bagaimana sebenarnya awal mula kebakaran-kebakaran hutan ini?

“Kalau kita bicara masalah kebakaran, sebenarnya tak hanya tahun ini atau tahun 2015 saja. Itu sejak awal terjadi sejak tahun 1980-1990 an sejak industri masuk. Kalau kita menelusuri itu terjadinya awalnya dari pengeringan gambut yang dilakukan secara masif oleh industri sawit atau hutan tanam industri. Jadi, ketika pemerintah itu memberikan ijin, itu dia memberikan ijin konsesi kepada perusahaan-perpusahaan ini tidak peduli dia di lahan gambut, hutan, dan sebagainya. Nah, untuk menanam mereka begitu membuka hutan di lahan gambut, gambut itu dikeringkan airnya agar bisa dibakar.”

“Gambut itu sendiri adalah kumpulan atau sisa-sisa dari bahan organik yang sudah mati, yang ribuan tahun terperangkap dalam lapisan tanah, kemudian dia terperangkap dengan adanya air di atasnya. Nah makanya disebut gambut itu adalah cadangan karbon, karena di dalamnya adalah karbon. Kalau kita melihat misalnya minyak bumi, itu adalah cairnya, ini gambut adalah dalam bentuk selesah. Jadi begitu dia kena api, jadilah dia pemicu karbon.”

“Nah, perusahaan ini dia mengeringkan gambut dengan membuat kanal-kanal. Jadi air itu dikeringkan dengan membuat kanal ke laut, sehingga, gambut yang dia kayak spon, dia kempes, maka terjadi subsidensi atau penurunan tanah. Ketika dia kemps ini, kehilangan air, dia menjadi sangat kering dan rentan terbakar. Kemudian yang kedua, terjadinya penurunan penuranan tanah karena airnya keluar. Kemudian ancaman terhadap banjir itu makin parah, khususnya pada gambut yang terletak di pesisir, ini bahaya untuk daerah-daerah pesisir yang punya gambut ini, ini karena air laut lebih gampang masuk, kalau di dalam kan elbih terselamtakan, lebih panjang jaraknya, ini berhadapan langsung.”

Menganpa ancaman kebakaran hutan ini terus terulang dari tahun ke tahun?

“Kebakaran hutan ini memang salah satu ancaman terhadap sumber daya kita. Dia memicu juga perubahan iklim dan banyak menimbulkan korban, baik korban jiwa, ekonomi, dan sebagainya. Ini kita sangat prihatin denga hal ini. Selama ini yang terjadi dari tahun ke tahun dari tahun 90-an, yang luar biasa sampai ke negeri tetangga.”

“Sebenarnya ini tahunan, tapi kita melihatnya orang tak terlalu banyak tahu, lalu kita lupa lagi, kemudian baru besar lagi 2015 orang terhentak lagi, ini kebakaran lagi? Kenapa?  Karena permasalahan kebakaran itu tidak diatasi dari akar permasalahannya, yaitu dari kekeringan gambut tadi. Kalau ngomongin masalah kebakaran hutan, itu biasanya di tanah mineral, itu sekali dibom dengan helikopter, selesai itu. Tapi kalau gambut, dia api itu di dalam, menjalar, ketika itu tidak ada, apinya tidak ada di luar tapi di dalam, asapnya ke mana-mana. Inilah yang menjadi konsen bahwa asapnya ini di lain sisi dia juga menimbulkan dampak kesehatan bagi orang-orang yagn sudah menghirupnya bertahun-tahun.”

“Penelitian oleh Universitas Harvard dan Colombia pd 2015-2016 an itu memperkirakan terjadi kematian dini terhadap 103 ribu orang-orang yang terdampak akibat menghisap polutan asap dari kebakaran hutan ini. Jadi ini sangat luar biasa dampaknya. Belum lagi kita melihat kerugian ekonomi, sebanyak 202 Triliun, itu kalau kita total dengan keuntungan dari industri sawit ya itu jauh sekali.”

Ada tuduhan bahwa penyebab kebakaran adalah masyarakat adat yang membuka lahan dengan membakar hutan. Apakah itu benar?

“Saya pikir ktia harus fokus, ya? Karena apa? Tuduhan kepada masyarakat adat itu, kita di dalam UU kita, itu mengenal atau menghargai adanya keberadaan masyarakat adat, sekaligus juga kearifan lokal yang dilakukan oleh masyarakat adat, misalnya dnegan membakar kebun untuk melakujkan penanaman perladangan berpindah. Dan selama ini tidak masalah.”

“Tetapi, ketika industri masuk, yang secara masif, yang biasanya tak terjadi masalah. Misalnya dulu sebelum adanya industri, mereka mempraktekannya, tak ada masalah, tetapi ketika industri masuk dan menciptakan kondisi mengerikan gambut tersebut, kebakaran makin masif. Karena kita melihat gambut itu sebagai landscape, bukan titik ini titik itu belaka. Ketika perusahaan datang dan membakar di titik tertentu, maka masyarkat di titik lain juga bisa terdampak, sehingga ketika dia mengharapkan api itu mati, biasanya masyarakt itu membakar di musim hujan, mengharapkan api itu mati, rupanya dia tidak mati-mati, kenapa? Karena terlanjur rusak ini gambut.”

“Biasanya mereka mengandalkan musim hujan, atau dibakarnya ditunggui. Sekarang, mereka tak bisa lagi mengandalkan kearifan lokal mereka. Rusaknya itu tadi karena kanal-kanal air yang mengeringkan gambut itu tadi. Jadi itu praktek yang kita menantang perusahaan untuk stop membangun kanal. Jadi perintah Presiden tahun 2014, disuruh kita buat bloking kanal, jadi dibendung semuanya, sehingga tingkat kebasahan gambut bisa naik dan bisa mencegah. Kalau dalam kesehatan kan mencegah lebih baik daripada mengobati. Ini permasalahannya saya yakin akan terus begini, jika akar permasalahannya, itu tidak ditangani. Yaitu dengan menutup kanal-kanal air itu, bukan malah menyalahkan masyarakat adat.”

Titik-titik panas ini sendiri berada di mana saja saat ini?

“Kebanyakan di lokasi yang sama seperti tahun lalu. Kenapa? Karena kan sudah rentan dia, kadang-kadang prakteknya ketika ia membakar, ia ada hujan, kan tidak langsung terbakar semuanya, jadi masih terbakar lagi. Kedua, konsesi-konsesi ini, ijin perusahaan-perusahaan yang di dalamnya ada kebakaran, itu karena dia tidak mematuhi perintah Presiden untuk segera bloking kanal tersebut. Mestinya stop kanal tersebut kemudian lakukan restorasi dan rewetting, pembasahan lahan.”

“Kalau dibandingkan jumlah titip api atau titik panas, hot spot. Dengan tahun 2015, tentunya jauh lebih kecil kalau dibandingkan dengan bulan yang sama, tapi kalau dilihat dari trennya, tren peningkatan titik panas itu, jauh lebih cepat, mendahului di banding tahun lalu. Ini terjadi di wilayah moratorium, di konsesi, lahan masyarakat.”

“Dari pantauan kita itu kalau sekitar 1/3 berada di areal moratorium, di area yang seharusnya dilindungi peemrintah, sisanya di areal konsesi dan lahan masyarakat, serta di lahan yang tak teridentifikasi milik siapa. Jadi dalam pantauan kami sejak  bulan Mei-Juni-Juli 2017 ini, terjadi kenaikan dua kali lipat titik panasnya. Mei itu sekiatar 148 titik api, kita gunakan satelit NASA yang digunakan oleh Lapan, sama dengan YANG digunakan oleh pemerIntah dengan KLHK, itu pada Juli akhir itu kita lihat 283 titik panas. Jadi dua kali lipat.”

“ Itu terjadi karena permasalahan mendasar penyebab kebakaran hutan yang belum ditangani. Yang kedua adalah terjadinya cuaca panas, atau perpanajngan musim kemarau yang diperkirakan sampai September masih terjadi. Sehingga ancaman terhadap kebakaran hutan dan lahan ini masih sangat besar.”

Kebakaran hutan ini selalu membuat pihak-pihak terkait saling menyalahkan, bagaimana pandangan Greenpeace?

“Memang selalu terjadi blaming game, saling menyalahkan. Ini tidak perlu. Padahal Presiden juga sudah tahu, Cuma permasalahannya adalah, pertama pemerintah tidak tegas terhadap perusakan-perusakan pembuat kanal, mereka lebih fokus pada masayarakat yang membakar. Ini jadi pertanyaan, apakah, hukum itu lebih tajam ke bawah daripada ke atas? Sementara yang kongkalikong yang di balik semua itu, yaitu korporasi dan orang yang memberikan ijin, kemudian ada politik mafia penjualan tanah itu tidak diberantas?”

Selama ini pemerintah menggaungkan pentingnya investasi, bagaimana dampaknya sendiri terhadap kelestarian lingkungan?

“Saya melihat ada kontradiksi. Ketika kita ngomongin investasi, ya nggak masalah jangan persulit investasi, tapi juga jangan rugikan lingkungan, dong. Kita jangan silau terhadap keuntungan sekarang saja, lihat ke depannya, apa yang terjadi? Kerusakan lingkungan itu kadang-kadang baru kita ketahui dampaknya itu setelah di depan. Misalnya analisa dampak lingkungan, itu cuma berapa saja yang terhitung, tapi tidak efek ke depannya.”

“Investasi, contohnya Hutan Tanam Industri, sawit, atau apapun harus dilihat pada keberlanjutan untuk melihat bagaimana alam ini bisa mendukung itu. Kalau tidak ada air, bagaimana kita hidup coba? Kalau misalnya tanam sawit terus-menerus, bagaimana dengan kondisi tanahnya? Model-model monokultur industri ini tidak bagus. Itu sudah terbukti. Kita juga harus lihat dari daya dukung lingkungan  biar sustainable.”

“Jadi dalam penegakan hukum itu tadi dan di tata kelola, kita minta supaya tegak, tegas. Jangan terjadi kontradiktif supaya jelas persengketaannya. Harus dijelaskan  investasi macam apa yang mau diterapkan di Indoneisa ini, investasi ekstraktif yang merusak lingkungan atau apa?” (Joko)

SHARE THIS: