Bahaya! Anak Rentan Jadi Korban Pornografi Lewat Media Sosial
Posted by @Redaksi on 23rd September 2017
| 55 views

AktualPress.com – Bagai hantu, pornografi begitu licin bersembunyi di depan mata kita. Tak hanya orang dewasa, bahkan anak-anak pun menjadi korbannya. Siapa sangka, media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, Telegram yang terbuka dan bisa diakses siapa saja ternyata menjadi salah satu surga konten-konten pornografi, bahkan pornografi anak dalam jumlah masif. Tertangkapnya tiga pelaku penyebaran eksploitasi penyimpangan seksual pada anak oleh aparat Kepolisian di Purworejo, Jawa Tengah dan Garut, Jawa Barat baru-baru ini mengungkap hal itu. Pelaku terbukti memperjualbelikan 750.000 konten video dan gambar pedhopilia dan gay anak tersebut di Twitter dan Telegram.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pornografi dan Cybercrime, Margaret Aliyatul Maimunah menyatakan bahwa kerentanan anak terpapar dan menjadi korban kejahatan seksual makin hari ini makin meningkat karena media sosial. Berikut wawancara dengan Margaret:

Bagaimana KPAI melihat kasus pornografi anak di Indonesia saat ini?

“Kasus pornografi anak hari ini semakin marak dan medianya semakin banyak. Kalau melihat kasusnya, memang kasus pornografi anak ini bukan semakin berkurang, tapi makin bertambah dan modusnya macem-macem. Kalau jaman-jaman dulu itu kita terbatas di paper, terbatas paling di buku, atau di majalah, tapi hari ini, kasusnya makin besar. Dan medianya cenderung melalui media sosial. Karena medsos hari ini mudah diakses, murah, dan semua orang hari ini baik orang dewasa atau anak mudah akses medsos. Terutama pada anak, mereka kan tidak punya filter di medsos, apakah konten itu negatif atau positif. Kita tahu misalnya di Google, bisa buka situs macam-macam, apa saja kan di situ. Belum lagi muncul ada Bigoo, itu juga tidak karu-karuan kan kontennya yang ada di situ.”

“Juga ada ada permainan monopoli anak yang juga ada konten pornografinya di situ. Ada banyak laporan di salah satu toko buku ternama di Indonesia, tapi pas ktia cek begitu dapat aduan, sudah tidak ada. Kemudian hari ini kita rame kan melalui medsos. Dan itu pelakunya bisa siapa saja, korbannya sangat rentan anak-anak, mulai dari misalnya kemari nada video chat porno guru dan siswinya. Jadi memang konten pornografi ini makin emrebak gak karu-karuan dan agak sulit membendungnya.”

Anak umur berapa yang paling rentan terpapar pornografi? Dan melalui media mana mereka terpapar?

“Anak itu dari kandungan sampai 18 tahun. Dulu, kita melihat yang paling rentan itu kan anak SMA, tapi hari ini anak SD juga mulai rentan dengan bahaya kejahatan seksual. Kasus perkosaan akhir-akhir ini, anak yang awalnya melihat pornografi, yang dampaknya mengarah pada implementasi hubungan seksual, dan itu sesama anak-anak. Anak SD kan sudah mulai banyak terpapar, coba dibaca kasus-kasus yang akhir-akhir ini makin berkembang.”

“Kemarin ada kasus anak TK korbannya, pelakunya anak SD, dan tidak sendiri, tiga orang. Namanya ‘main’ setan-setanan. Dan ini orangtua baru tahu saat anaknya sakit kelaminnya saat buang air kecil. Ketika ditanya baik-baik, anak tak berani cerita, katanya kalua dia cerita dia takut tidak ditemani anak-anak ini untuk main. Nanti aku gak dikancani, gak dibolo, bahasanya itu begitu. Dan itu anak SD semua. Dan ketika diungkapkan dia seperti itu, orangtuanya si anak SD ada yang tidak terima. Kadang yang melakukan kelihatannya anak baik-baik, tidak kelihatan, tapi ternyata pelaku kejahatan seksual.”

“Anak-anak itu itu kok bisa tahu kayak gitu itu dari mana coba? Ya ini kaitannya dengan kerentanan atau akibat bahaya pornografi. Ini terkait medsos. Anak-anak ini akses pornografi dari mana? Ya dari medsos.”

“Anak kecil, bahkan TK, saat ini bisa operasikan YouTube. Oke kadang-kadang kepencet kartun. Tapi apa kita tahu saat kita gak dampingin anak, ternyata dia pencet konten berbau pornografi. Tidak hanya itu, bahkan kartun-kartun pun banyak juga yang memberikan konten berbau pornografi. Itu lebih bahaya karena tak terdeteksi kita. Padahal di situ kartunnya berbau pornografi ketika tidak cek yang dilakukan anak apa. Anak kan cenderung meniru yang ia lihat yang ia dapat, pelajari.”

Kita melihat para pelaku kejahatan seksual pada anak, justru biasanya orang terdekat, kenapa itu bisa terjadi?

“Memang. Terpaparnya justru dari orang yang dekat malahan. Apakah itu keluarga, guru, atau teman. Apa pun itu tentu tidak dibenarkan. Dan sebetulnya kan di Undang-Undang Perlindungan Anak itu ada tambahan hukuman berat buat orang dekat jika melakukan kejahatan seksual pada anak. Guru, orangtua, keluarga dekat, itu harusnya dianggap melindungi pada si anak ini. Tapi justru dia melakukan. Itu ada tambahan sepertiga hukuman dari hukuman pokok.”

“Kenapa orang dekat cenderung pelaku kejahatan seksual pada anak? Karena kalua dia melakukan itu pada orang lain, akan cenderung melakukan kekerasan. Dia kan tidak tahu anak itu bicara atau tidak? Tapi kalau orang dekat, kan dia sudah terbangun komunikasinya. Pedofil misalnya, dia cenderung sudah ada hubungan baik dengan si anak. Jadi modusnya cenderung, saya ini penyayang anak, banyak anak yang nempel ke saya. Nempel terus. Tapi sebetulnaya dia modus, dipercaya anak-anak ini. Nah ketika si anak percaya, sering dikasih apa-apa, akhirnya anak mudah menjadi korban.”

“Dan kecenderungan anak kalau sudah dekat itu dia cenderung tidak bisa omong ketimbang orang lain yang melakukan. Dan anak lebih memiliki beban psikologis yang lebih berat kalau pelakunya adalah orang dekat ketimbang orang lain. Karena kan dia harus mengalami hal yang tidak enak tapi sulit ngomong.”

Bagaimana cara kita mencegahnya?

“Orangtua hari ini perlu memberi penguatan pada anak, pertama penguatan bahwa segala sesuatu yang berbau pornografi itu gak boleh atau dilarang untuk dilihat. Intinya begitu. Entah bagaimana caranya. Yang kedua, mengajarkan kepada anak untuk anak itu tegas terhadap siapa pun yang memegang dirinya, ini loh ada bagian-bagian tubuh yang tak boleh dipegang orang lain.”

“Kan kadang anak gak paham. Jadi anak harus diajari. Yang boleh memeluk kamu itu hanya orang terdekat. Orang terdekat itu siapa? Disebutkan, orangtua, paman, misalnya begitu, yang kita asumsikan normal dulu. Kemudian anak harus diajarkan kalau ada yang menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif, maka anak harus menolak dan berani melaporkan ke orangtua. Itu. Kan kebanyakan anak kan kebanyakan tidakberani. Makanya anak sejak awal dibekali, dididik untuk berani ngomong.”

Sayangnya orangtua banyak yang tidak sadar. Banyak yang tidak memahami. Apalagi untuk keluarga yang mohon maaf, harus sibuk untuk mengejar ekonomi, dia agak sulit untuk itu, tidak aware soal ini. Tapi kita tak boleh diam, orangtua juga harus siapkan anak agar terhindar dari kasus ini. Kita juga menyiapkan orangtua untuk perhatian pada kasus ini, termasuk masyarakat sektiar, termasuk guru, kalua semua berperan insyaAllah bias kita tanggulangi Bersama-sama.”

Dengan bahaya yang semakin meningkat ini, bagaimana Ibu melihat pemerintah menanganinya?

“Kita memberikan apresiasi kepada pihak Kepolisian dan Kominfo dalam membendung konten negatif berbau porno. Itu mereka sudah luar biasa mereka membendung konten porno, tapi berapa sih jumlah tim cybernya? Begitu mereka bisa memblok seribu, datang konten baru 100 ribu. Kita berharap negara dalam hal ini Kominfo lebih kuat ya, punya sistem pengawasan dan proteksi dari konten-konten negatif di media sosial, bagaimana itu caranya ya dipikirkan, apakah dengan adanya ini diblokir atau gimana.”

“Jadi memang tidak bisa pemerintah saja, seluruh elemen masyarakat harus bersama-sama menghadapi kasus pornografi, terutama di media sosial. Mulai dari misalkan ya, dari hari ini anak-anak dari kecil sudah punya gadget, sudah punya akses akun-akun medsos, dikontrol orang tua. Masalahnya kan tidak semua orangtua melakukan itu, tapi cenderung asal anak diam, kelihatannya. Padahal ternyata diam-diam yang dilihat adalah konten-konten yang negatif.”

“Guru juga punya peran penting pada anak didiknya terkait penggunaan ini. Kan tidak mungkin kita bilang gak boleh pake medsos an sich. Ada tugas sekolah yang mengharuskan pakai internet, misalnya. Perlu ada keterlibatan orang tua, misalnya untuk anak di bawah 15 tahun, gak boleh pake handphone yang ada internetnya. Kalau untuk tugas didownloadkan dulu, nanti bacanya pas tidak sambung internet. Itu salah satu strategi. Atau orangtua rutin ngobrol dengan anak untuk pilih konten positif atau negatif yang boleh diambil anak. Kalua anak tidak diajak omong kan anak bisa bablas saja dengan konten-konten itu.” (Joko)

SHARE THIS: