KPAI: Media Sosial Banyak Muat Konten Pornografi, Orangtua Harus Lindungi Anak
Posted by @Redaksi on 24th September 2017
| 101 views

AktualPress.com – Tertangkapnya tiga pelaku penyebaran konten eksploitasi penyimpangan seksual pada anak melalui media sosial Twitter dan Telegram oleh aparat Kepolisian di Purworejo, Jawa Tengah dan Garut, Jawa Barat mengungkap betapa berhayanya media sosial bagi anak. Pelaku terbukti memperjualbelikan 750 ribu konten video dan gambar pedhopilia dan gay anak tersebut di Twitter dan Telegram. Hal ini membuat Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyalakan lampu merah.

Dalam siaran persnya, Jumat 22 September, Komisioner KPAI, Retno Listyarti menyatakan bahwa anak saat ini paling banyak terpapar konten pornografi melalui media sosial. Tak hanya itu, anak juga bahkan menjadi korban kekerasan seksual yang kontennya disebarkan dan diperjualbelikan bebas di media sosial. KPAI mencatat dari tahun 2011 hingga 2017 terdapat 2.358 pengaduan kasus pornografi dan kejahatan siber pada anak di dunia maya.

Salah satu yang media social yang paling banyak memuat konten pornografi, tutur Retno, adalah Twitter. Hal ini dikarenakan sistem untuk menyaring konten berbau pornografi di Twitter sangat longgar. Begitu diketik kata kunci pornografi di kotak pencari Twitter, akan langsung muncul konten-konten pornografi tersebut. “Konten pornografi bisa langsung dilihat, baik berupa gambar mau pun video.”

Kelonggaran sistem saring Twitter dari konten-konten pornografi ini, menurut Komisioner KPAI Bidang Pornografi dan Cybercrime Margaret Aliyatul Maimunah, membuat banyak orang memanfaatkan Twitter sebagai sarana menyebarkan konten pornografi. Mereka menyebarkan dan memperjualbelikan konten pornografi lewat Twitter, dengan transaksi uang atau pulsa Rp 100.000,-, konten pornografi biasanya dikirim melalui Telegram atau WhatsApp.

“Dan ketika mereka bertransaksi, makan nomornya akan dimasukkan ke dalam sebuah grup, di mana mereka bisa bebas mengakses 750.000 konten porno,” tambahnya.

Berbeda dengan media sosial lainnya, menurut Margaret Twitter tak memiliki sistem penyaringan konten pornografi yang layak sebagai sebuah media terbuka. Media sosial lainnya, seperti Facebook atau Instagram, tutur Margaret lebih ketat dan tegas menjaring konten-konten negatif berbau pornografi. Ia berharap, dengan kasus viralnya ‘video gay kis’ ini, Twitter mengkoreksi diri dan lebih tegas memblokir konten-konten negatif.

“Itu adalah bagian dari tanggungjawab korporasi,” tegas Ketua KPAI, Susanto.

Lebih jauh, menurut Susanto, meski sebagai korporasi internasional, Twitter Inc ketika beroperasi di Indonesia, maka ia juga harus mengikuti sistem dan tata nilai di Indonesia. Hal yang mungkin dianggap lumrah di Barat, seperti pornografi atau gay, di Indonesia adalah hal yang tabu, dan merupakan tanggungjawab korporasi untuk memblokirnya.

Bahaya Dari Orang Terdekat

Masifnya hantu pornografi ini di media sosial yang sifatnya terbuka dan siapa pun bisa mengaksesnya tentu menjadi kekhawatiran tersendiri, terutama bagi anak-anak. Anak-anak, dalam definisi KPAI adalah dari kandungan hingga berumur 18 tahun. Dalam sela umur ini, Komisioner KPAI Bidang Pornografi dan Cybercrime, Margaret Aliyatul maimunah juga menyebut, kerentanan anak terkena bahaya kejahatan seksual ini kini semakin membesar pada bahkan anak-anak Sekolah Dasar dan Taman Kanak-Kanak. “Kasus kejahatan seksual pada anak trennya juga mulai bergeser pada anak laki-laki,” tambahnya. “Tidak hanya anak perempuan.”

Celakanya, mayoritas kasus pelecehan seksual pada anak ini, dalam catatan KPAI, pelakunya cenderung adalah orang-orang terdekat si korban. Modusnya adalah dia penyayang anak. Dan kecenderungan anak, jika sudah dekat maka ia sulit mengungkapkan apa yang dialaminya.

Salah satu penyebabnya, tutur Margaret, disebabkan karena orangtua masih kurang memiliki kesadaran untuk memberikan pendidikan seks yang sehat pada anak-anaknya, bahwa ada bagian-bagian tubuh tertentu yang tak boleh orang menyentuhnya. Dan jika ada yang melakukannya, anak harus diajari untuk menolak dan melaporkannya pada orangtua.

KPAI juga mencatat, faktor ekonomi juga memiliki pengaruh besar kerentanan kejahatan seksual pada anak. Kasus kejahatan seksual mayoritas terjadi pada keluarga yang memiliki tingkat ekonomi rendah. Karena orangtua sibuk mencari nafkah, mereka tak sempat mengajari anak-anaknya akan bahaya pornografi. Dalam rumah-rumah yang hanya sepetak pun, membuat anak rentan terkena pelecehan seksual, bahkan oleh orang terdekatnya. “Ini banyak ditemui di pedesaan,” ujar Margaret.

Lebih jauh Margaret juga mengkritisi ancaman hukuman yang hanya menggunakan Undang Undang ITE bagi para pelaku penyebar konten pornografi anak ini. Menurutnya, mestinya hukumannya lebih berat. Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak, pelaku bisa dikenani dua pasal, pertama pasal perlindungan anak dari pornografi dan perlindungan khusus anak dari perilaku sosial menyimpang dengan ancaman 5 sampai 15 tahun penjara. “Kalau pakai Undang-Undang ITE sedikit, cuma 6 tahun saja,” ujar Margaret.

Margaret menambahkan, jika pelakunya adalah keluarga tedekat, orangtua atau guru, makan hukuman bisa ditambah sepertiga dari pidana pokok. Menurutnya, para pelaku kejahatan seksual dan perilaku sosial menyimpang pada anak harus dihukum dengan keras dan tegas.  (Joko)

SHARE THIS: