Memperbaiki Pelayanan Kesehatan Haji, Tekan Jumlah Kematian Jamaah Haji
Posted by @Redaksi on 12th October 2017
| 94 views

AktualPress.com – Musim haji tahun ini, merupakan musim haji dengan jumlah jamaah haji yang meninggal sangat tinggi. Pusat Kesehatan Haji Kementrian Kesehatan mencatat pada 2017 ini jamaah haji yang meninggal mencapai 610 jamaah. Jumlah jamaah haji yang meninggal meningkat lebih dari 400 orang dari tahun lalu.

Ini tentu merupakan preseden buruk yang juga menjadi bahan evaluasi Kementrian Agama dan Kementrian Kesehatan. Bagaimana langkah perbaikan untuk menekan angka kematian jamaah haji yang tinggi ini? Berikut wawancara dengan Kepala Bidang Pendayagunaan Sumber Daya dan Fasilitasi Pelayanan Kesehatan Haji Kementrian Kesehatan, Indro Purwoko:

Bagaimana sebenarnya kondisi kesehatan jamaah haji Indonesia? Mengapa banyak jamaah yang meninggal tahun ini?

“Berdasarkan data yang sekarang, jamaah haji itu kita kelompokkan menjadi kelompok risti (resiko tinggi) dan non risti. Kalau non risti itu kondisi fit. Risti itu ada beberapa kategaori, berdasarkan umur, di atas 60 itu sudah risti. Pada umur ini sudah menurun, karena faktor usia. Tapi juga ada risti yang selain umur di atas 60, juga penyakit bawaan, seperti hipertensi. Jadi ada pengelompokan kelompok risti.”

“Risti ini apakah relatif dengan angka kematian, kita gak ngomong ke situ. Kita hanya ngomong soal kesehatan, orang dalam kelompok risti ini, akan memiliki adaptasi fisik psikologis yang beda dengan orang yang fit ketika ke Arab. Adaptasi ini yang jadi titik tekan kita, makin adaptasi rendah tentu potensi dia sakit dan lanjutan-lanjutannya bisa terjadi. Bahkan dari data sekarang itu yang muncul kebanyakan risti, karena kemampuan adaptasinya sangat rendah. Yang lebih tua ini tentu adaptasinya lebih rendah dari yang masih muda.”

“Makanya memang, kalau dilihat, yang meninggal itu pertama kelompok risti, dan kalau dilihat dari penyakitnya adalah gangguan jantung, paru, itu yang kemudian menyumbang jamaah yang meninggal di sana. Artinya tidak bisa dibilang jumlah kematian x saja, tak bias, angka itu tak bisa berdiri sendiri. Harus dikaitkan dengan jumlah jamaah, makin banyak ya makin besar, makin banyak kelompok risti. Dengan makin banyaknya risti, kemungkinan, dikaitkan dengan kemampuan organnya beradaptasi dan beraktifitas tentu makin tinggi.”

Mengenai jumlah 610 jemaah haji yang meninggal tahun ini, menurut Bapak ini angka tinggi atau angka normal?

“Saya tidak simpulkan wajar atau tidak. Tapi kita nanti akan teliti lebih detail penyebabnya. Kalau banyak tidaknya itu variable dilepas tersendiri angkanya. 600 lebih bnayka dari 400, 500, tanpa variable lainnya. Mestinya dia tergantung kan? Nanti kita juga Analisa terkait jumlah yang meninggal itu seperti apa. Saya belum dapat profilnya, tapi dari bahasan yang saya dengar itu, risti pun masih bisa dikelompokkan.”

“Risti yang di atas 60 tahun, itu kayaknya sebagian besar yang meninggal di atas 70 deh. Berarti makin sepuh, Tidak cuma di atas 60, nanti dibreak-down lagi, kok banyak yang 70 tahun. Ini yang secara fisik adaptasi tubuhnya sangat rendah. Jadi memang selain faktor usia, ada juga factor lain yang menyertai. Kalau dari aspek kesehatan harus detail, harus dibreakdown. Bagaimana jamaahnya, ristinya, punya penakit bawaannya atau tidak, dst.”

Memang kerentanan kesehatan apa yang dihadapi Jemaah haji di sana?

“Ini soal kesehatan, ya. Pertama, pada perubahan kondisi lingkungan di mana jamaah haji tinggal. Dalam hal ini kita menganggap bahwa mereka ‘pindah’ dari rutinitas rumah, pindah ke Arab selama rentang waktu 40 hari. Dengan kepindahan itu tentu secara psikologis menjadi stressor buat mereka. Stressor itu tidak hanya fisik, cuaca panas, aktifitas gerak yagn mungkin lebih tinggi daripada di rumah karena menjalankan rukun ibadah haji.”

“Selain itu aktifitas teriknya matahari. Belum leagi secara psikologis. Untuk menghadapi lingkungan yang baru ini. Panasnya, kelemebabannya, itu berbeda semua. Itu untuk orang sehat, apalagi untuk orang sakit. Apalagi dari sini sudah ada bawaan sakit-sakit kronis, hipertensi, atau penyakit-penyakit lain tentu adaptasi tubuhnya tak sebagus orang-orang sehat. Orang-orang sehat saja dibenturkan dengan stressor psikologi-fisik itu pasti menurun, apalgi yang dari sini sudah tidak fit. Pasti memperburuk.”

“Kalau yang umum terjadi penyakit di sini itu jamak, orangtua ada penyakit hipertensi, penyakit jantung, perispatory, pernafasan, itu jamak dihadapi oelh jamaah haji. Karena di usia seperti itu masalah-masalah itu umum terjadi. Untuk itu kita harus sosialisasi, dan ada pembinaan itu, untuk selalu control, jaga kesehatannya. Itu penyiapan yang bisa dilakukan untuk jaga kesehatan.”

 Standar istithaah haji itu sendiri bagaimana?

“Kita memang sudah punya Permenkes tentang istithaah kesehatan. Targetnya pertama tentu saja, regulasi yang ada bisa berjalan dengan maksimal. Jadi penetapan istithaah dan penatapan layak terbang itu maksimal. Dan itu tak hanya di kementrian Kesehatan saja. Kita harus share pengertian itu dengan unit-unit lain yang mengelola. Kementrian Agama, juga DPR, karena banyak pihak yang berjalan di situ. Target itu ada di situ. Kita akan menjadi langkah satu lagi ketika penetapan itu sudah ada, bagaimana outputnya. Baru dianalisa, ini sudah maksimal screeningnya outputnya masih segini ya?”

“Artinya istithaah itu belum jadi mindset banyak jamaah. Kita paham dengan waktu tunggu sekian lama, dengan upaya pembayaran yang begitu penuh perjuangan, dengan usia mereka sekarang, tentu mereka all out. Ya kalau nggak sekarang kapan lagi? Saya sudah tak bias lagi ikut piala dunia tahun depan, ibaratnya begitu. All out sekarang. Itu yang ibaratnya kemudian berbenturan dengan sector kesethatan. Tapi kita tetap harus cek kesehatan jamaah. Memang tantangan bahwa ke depan pelayanan kesehatan, juga koordinasi stake holder supaya bisa lebih kuat.”

Bagaimana pendapat Bapak terhadap jamaah haji yang dikatakan memang berniat meninggal di tanah suci?

Menurut saya hipotesis seperti itu harus diurai lagi lebih jelas. Karena prinsipnya kalau menurut saya tak ada orang yang pingin, secara niat, berangkat haji untuk meninggal, tapi untuk haji mabrur. Tujuannya kan itu. Kalau tujuannya kalau meninggal di sana, itu bukan niat haji, tapi niat meninggal. Secara niat, menurut saya yang awam ya. Mungkin ada yang seperti ituu, tapi terlontar secara emosional. Karena ada masalah di ending, dia sudah seluruh daya, kemudian dia bilang meninggal. Jadi memang statemen itu mungkin ada, tapi tak bisa digeneralisir, tak bias dijustifikasi, sakit gak apa meninggal di sana. Jadi itu bisa dianalogikan, kalau anda dengar ada orang bilang saya mau bunuh diri, pasti kan kita cegah. Pasti respon manusiawi dan respon kesehatannya juga mencegah.”

Istithaah ini memang bukan soal meninggal tidak meninggal, tapi sekedar upaya jamaah yang akan menjalankan rukun haji bias maksimal. Bias dibayangkan, ketika sakit, berangkat sampai di sana sakit, sampai pulang, apa yang didapat? Rukun gak dapat, di sana juga Cuma tidur di rumah sakit. Jadi memang niat atau kenyataan ada yang meninggal ke sana menurut saya lebih ke emosional. Dan harus diluruskan. Dan memang dalam hal ini orang kesehatan tak boleh sendiri menasehati. Itu kan sudah dogma bahwa haji itu itu untuk meninggal. Karena itu, itu bukan pendekatan profesi, tapi pendekatan pemuka masyarkat, tokoh agama, itu akan lebih mengena.” (Joko)

 

 

 

 

SHARE THIS: