Ditagih Warga, Anies Akan Jadikan Kampung Susun Bukit Duri Percontohan Pembangunan Kampung Jakarta
Posted by @Redaksi on 29th October 2017
| 99 views

AktualPress.com  – Dalam kampanye politiknya menuju DKI-1, Gubernur Anies Rasyid Baswedan menjanjikan kepada warga Jakarta yang tergusur oleh pembangunan untuk memberikan pemukiman yang layak dan manusiawi. Atas janjinya ini, warga Bukit Duri, Tebet, Jakarta yang pada Rabu 25 Oktober memenangkan gugatan gusuran pada Pemprov DKI Jakarta menemui Anies di Balaikota Jakarta untuk menagih janji sang gubernur.

Puluhan warga Bukit Duri yang datang juga berterimakasih pada Anies karena Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tak mengajukan banding atas putusan kemenangan gugatan penggusuran di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ini. Kepada warga, Anies berjanji akan membangun pemukiman baru bagi warga yang tergusur.

“Kita akan bangun pemukiman baru bagi warga Bukit Duri,” janji Anies pada warga, Jumat 27 Oktober.

Janji Anies ini disambut positif oleh warga. Perwakilan warga dari Sanggar Ciliwung Merdeka, Sandyawan Sumardi, kepada Anies menyatakan bahwa warga sudah lama memiliki desain Kampung Susun sebagai solusi pemukiman bagi warga Bukit Duri. Ia berharap Pemerintah Provinsi DKI bisa mengeksekusinya.

Anies menyatakan siap berembug dengan warga. Ia menjanjikan akan melakukan diskusi yang lebih intens terkait rencana desain pembangunan pemukiman baru warga Bukit Duri ini minggu depan. Kamis 26 Oktober sore, staf Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga telah menghubungi warga Bukit Duri dan mengundang mereka untuk mendiskusikan konsep pemukiman baru warga.

Anies sendiri mengaku telah menemui Badan Pertanahan Nasional untuk membicarakan lahan seluas 1,6 hektare di Bukit Duri yang rencananya akan dibangun Kampung Susun untuk warga ini. Lahan baru ini berjarak hanya sekitar 1 kilometer dari pemukiman warga di pinggir kali yang kini telah menjadi jalanan beton.

Anies menyebutkan, sesuai janji kampanyenya saat Pemilihan Kepala Daerah lalu, desain baru pemukiman Kampung Susun untuk warga Bukit Duri ini nantinya akan dijadikan sebagai semacam cetak biru untuk pembangunan kampung-kampung di Jakarta lainnya. “Ini sebagai awal, kita ingin ini dijadikan contoh. Bukit Duri dulu kita beresin, Kampung Akuarium, Kalijodo juga nanti kita beresin,” ujar Anies.

Perumahan untuk warga Jakarta

Di tengah deru metropolitan, Jakarta mengalami problem memberikan pemukiman bagi warga miskin, terutama di kampung-kampung di daerah pinggir sungai dan daerah-daerah yang diproyeksikan menjadi lahan terbuka hijau. Solusi rumah susun sewa atau rusunawa yang sempat digadang-gadang sebagai jalan keluar pun ternyata menyisakan banyak masalah.

Karena dipisahkan dari tempatnya mencari nafkah, warga tak bisa bayar tunggakan biaya sewa. Warga juga terputus dari ikatan sosial dan budaya sewaktu ia ada di kampung. Konsep Rumah Susun (tadinya Kampung Deret) yang digodok oleh warga Bukit Duri bisa menjadi alternatif solusinya. Karena Rumah Susun milik bersama, semua memiliki, bukan menyewa. Ikatan sosial tetap terjaga, sumber ekonomi juga tak terputus.

Konsep Kampung Susun

Konsep Kampung Susun (atau Kampung Deret) sendiri sejak 2012 dirumuskan oleh warga Bukit Duri sendiri, dengan mendatangkan berbagai ahli tata ruang perkotaan dan dari berbagai disiplin ilmu. Tak hanya sudah diketahui dan dipuji oleh Presiden Jokowi pada 2012 sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta, konsep Kampung Susun ini juga sudah menjadi studi banyak mahasiswa dalam dan luar negeri sebagai solusi penataan perkampungan di perkotaan yang partisipatif dan menggandeng warga sebagai pemangku kepentingan utama.

Sandyawan sendiri menegaskan, kemenangan warga Bukit Duri di pengadilan sebenarnya bukan soal mendapatkan ganti rugi 200 juta rupiah. Namun ingin mendapatkan hak pemukiman yang layak bagi warga di Jakarta. Dan rusunawa menurut warga bukanlah solusi yang tepat. Terbukti karena terputus dari mata pencahariannya, warga banyak yang menunggak, tak bisa bayar sewa karena rusunawa itu hanya tempat tinggal. Belum dengan minimnya ruang sosial dan ruang budaya di rusunawa.

“Uang 200 juta di Jakarta itu mana bisa bikin rumah? Belum untuk kebutuhan lain? Tapi kalau itu dikumpulkan, dibangun pemukiman bersama, yang semua bisa dapat,” ujar Sandyawan.

Dalam rancangan Kampung Susun yang ditawarkan warga ini, setiap dataran lantai dapat terdiri dari deretan unit rumah dan beragam kegiatan serupa dengan pola kampung tapak, jadi tidak formal linier kaku seperti pada blok di hunian rumah susun. Deretan unit pada lantai di suatu blok, langsung dihubungkan dengan deretan unit di blok lain, sehingga lantai berbagai blok yang saling berhubungan itu menyerupai sirkulasi pada lingkungan kampung.

Basis dari konsep ini, tutur Sandyawan, adalah berbasis koperasi, di mana setiap anggota memiliki saham. Sehingga kampung susun itu menjadi milik warga, bukan sewa seperti rusunawa yang terbukti memberikan banyak masalah. Kampung Susun ini mengadopsi kearifan lokal kampung-kamung tradisional dari berbagai nusantara yang penuh dengn suasana paguyuban, kerjasama dan berbasis koperasi. “Konstelasinnya berbeda dengan rusunawa yang sewa. Kita tak mau sewa,” tegas Sandyawan.

Sandyawan berharap Kampung Susun ini bisa jadi pilot project bagi kampung-kampung lainnya di Jakarta. Desain Kampung Susun ini sendiri dibuat dengan dukungan dari para akademisi dan praktisi dari berbagai macam disiplin ilmu yang berkumpul di kampugn kota. Dari sistem tata air, teknologi, sistem komunikasi itu semua sudah dirancang oleh para ahli ini. (Joko)

SHARE THIS: