Peluang Masa Depan Demokrasi di Indonesia
Posted by Lestari on 30th October 2017
| 119 views

AktualPress.com – Pembahasan tentang Islam dan demokrasi di Indonesia menjadi sebuah pembahasan yang penting karena ini adalah topik yang dibahas oleh para ahli ketika mereka mendiskusikan persoalan seputar perkembangan Islam di Indonesia. Pendapat ini setidaknya saya ketahui dari salah seorang peneliti isu-isu keagamaan dari CRCS, UGM. yaitu Dr. Zainal Abidin Bagir. Sebagai seorang peneleti isu-isu keagamaan, khususnya di Indonesia, setidaknya Zainal Abidin, mengikuti perkembangan dialog akademis antara para pakar tentang perkembangan Islam di Indonesia. Tetapi mengapa persoalan demokrasi yang mesti dibahas? Satu alasan utama menurut saya adalah karena mayoritas masyarakat Indonesia adalah Muslim. Setiap pergolakan yang terjadi di tengah umat Muslim Indonesia akan sangat berpengaruh bagi negara ini, termasuk di antaranya adalah sistem pemerintahan (politik).

Hingga saat ini, Indonesia terbilang sebagai negara yang cukup sukses mempertahankan sistem demokrasi sebagai sistem politik. Tentu saja, kesuksesan ini tidak bisa dilepaskan dari peranan umat Muslim Indonesia. Mengapa? Karena demokrasi didasarkan atas suara mayoritas. Dan mayoritas rakyat Indonesia adalah Muslim. Di dalam tubuh mayoritas Muslim Indonesia, masih ada keyakinan bahwa sistem demokrasi adalah yang terbaik dan masih pantas diaplikasikan. Hal ini tentu tidak terlepas dari serangkaian pondasi teologis dan keagamaan seputar harmonisasi hubungan antara Islam dan demokrasi. Faktanya, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah, masih tetap meyakini bahwa demokrasi sesuai dengan semangat ajaran Islam.

Tetapi, akankah keyakinan ini masih tetap asri, awet, atau pun lestari seperti itu di masa yang akan datang? Jawabannya, bisa iya bisa juga tidak. Iya, jika kelompok muslim inklusif dan toleran mampu mempertahankan dominasi mereka di ruang publik. Tetapi jika tidak, maka opini masyarakat akan dikendalikan oleh kelompok muslim eksklusif dan intoleran. Setidaknya, kelompok Muslim eksklusif ini memiliki potensi untuk merubah sistem demokrasi menjadi sistem lain, yang lebih dikenal sebagai khilafah atau negara Islam. Atas dasar itu, kehadiran kelompok muslim eksklusif ini merupakan ancaman bagi demokrasi, meski demokrasi sendiri masih memperbolehkan kelompok muslim eksklusif untuk tetap hidup dan berkembang.

Tetapi apakah demokrasi seharusnya membiarkan ancaman ini tumbuh dan berkembang? Ataukah demokrasi perlu membuat rem sebagai pembatas aktivitas-aktivitas tertentu yang dapat mengancam demokrasi itu sendiri?  Jika demokrasi dimaknai sebagai sebuah izin kebebasan bagi kelompok apapun untuk hidup dan berkembang, termasuk kelompok yang menentang demokrasi seperti HTI dan yang lainnya, maka menurut saya demokrasi tidak akan bertahan lama di negara ini. Tetapi, jika demokrasi dijalankan dengan batasan-batasan tertentu, maka peluang demokrasi yang akan terus dipakai di Indonesia masih tetap ada. Batasan-batasan yang saya maksud adalah pelarangan berbagai aktivitas atau ideologi yang dapat mengancam demokrasi itu sendiri. (Ayu Lestari)

SHARE THIS: