Evaluasi Haji, Menteri Agama Instruksikan Prioritas Pelayanan di Mina
Posted by @Redaksi on 8th November 2017
| 38 views

AktualPress.com – Meski dipuji sebagai penyelenggara haji terbaik di dunia oleh pemerintah Saudi, membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 1438H/2017M di Jakarta, Menteri Agama Lukman Syaifuddin mengingatkan agar Kementrian Agama tidak lena. Lukman menekankan kepada seluruh bawahannya agar memprioritaskan pelayanan haji di Mina yang dinilai paling banyak bermasalah.

Kepada peserta rakernas, Lukman menyebutkan ada tiga masalah utama di Mina sehingga Jemaah haji Indonesia kurang terlayani dengan baik. Pertama adalah kurangnya tenda untuk tempat tinggal jamaah haji, sementara di Arafah dan Mina merupakan puncak kelelahan Jemaah haji. Di sini kondisi kesehatan Jemaah paling rendah.

Angka kesakitan jemaah haji Indonesia sendiri termasuk tinggi. Sejak 6 Agustus hingga 6 September, setidaknya 2.000 jemaah dirawat karena sakit. Jemaah rata-rata dirawat inap di Klinik selama tujuh hari. Padahal, biaya perawatan satu orang selama sepekan bisa mencapai 15 juta rupiah. Jadi, biaya untuk dua ribu orang saja dapat mencapai 30 miliar rupiah.

Lukman menargetkan ada tambahan tenda untuk jemaah haji Indonesia. “Kita akan minta Saudi bisa menambah tenda,” ujar Lukman, Senin 6 November.

Permasalah kedua, adalah persoalan catering di Mina yang kualitasnya rendah karena dibuat di dapur-dapur umum sehingga mempengaruhi kebugaran jemaah haji. Dan hal ketiga adalah mengenai transportasi di Mina yang hanya dibatasi 6-7 bis, yang itu tak bisa menampung semua jumlah jemaah haji Indonesia. Namun untuk transportasi, karena ada di tangan pemerintah Saudi dan Kementrian Agama tak bisa melakukan tambahan, Lukman berharap agar dicari solusi lain agar jemaah bisa terlayani lebih baik lagi seperti dengan menyisihkan 2-3 kloter ditempatkan di hotel yang dekat dengan jamarat.

“Khusus di Mina, diatur tiap maktab soal ini. Tenda dan jumlah toilet diperjuangkan bisa ditambah,” ujar Lukman.

Duta besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh menyatakan, pihak Kedubes sendiri hingga saat ini masih memperjuangkan untuk menambah jumlah tenda dan toilet untuk Jemaah haji Indonesia dengan mempererat hubungan diplomasi. Ini karena kedua hal tersebut adalah wewenang pemerintah Arab Saudi.

Dari 221 ribu jemaah Indoneia yang diberangkatkan ke Saudi tahun ini, 450 lebih pulang nama atau meninggal di Tanah Suci. Jika dibandingkan total jemaah yang berangkat, artinya ada dua orang meninggal di setiap seribu orang. Jumlah ini relatif sama dengan tahun lalu ketika jemaah yang wafat mencapai 342 orang dari 168 ribu jemaah. Kemenkes beranimemprediksi angka kematian jemaah pada tiap tahunnya akan begini terus jika Kementerian Agama tak mengevaluasi sistem yang diterapkan selama ini. Sejauh ini, Kementerian Agama dia anggap tidak mengindahkan Peraturan Kementerian Kesehatan Nomor 15 Tahun 2016 Tentang Istithaah (kemampuan) Kesehatan Jemaah Haji.

Saat ditanya menenai tingginya angka kematian jemaah ini, Lukman menjawab penyebabnya alamiah dan tak bisa diprediksi oleh Kemenag. “Soal nyawan kan urusan Tuhan, ya?” ujar Lukman. Namun Lukman berjanji akan meningkatkan standar istitha’ah Jemaah haji agar bisa menekan jumlah kematian yang tidak perlu.

Menambahkan pesan Menteri Agama, Sekjen Kemenag Nur Syam memberikan beberapa catatan untuk perbaikan pelaksanaan penyelenggaraan haji tahun depan. Catatan pertama adalah perlunya ketegasan dalam menyikapi jemaah furada (non kuota) yang menempati maktab Indonesia.

“Ini sangat mengganggu ketersediaan fasilitas dasar, sepeti toilet dan air. Kita harus berkirim surat komplain, jangan sampai keluguan dan kebaikan jemaah haji kita, ditradisikan untuk dimanfaatkan pihak Arab untuk menempatkan jemaah furada di tenda-tenda kita,” tegas Nur Syam.

Ia juga berharap tahun depan Kementrian bisa menerapkan gelang ber chip atau GPS pada Jemaah untuk memudahkan pemantauan keberadaan jemaah haji Indonesia agar tak ada lagi jemaah yang tersesat dan tak ditemukan.

Penyamaan persepsi terkait istitha’ah kesehatan antara Kementrian Kesehatan dan Kementrian Agama juga menjadi titik tekan penting yang dievaluasi. Selama ini akibat masih belum samanya definisi dan ukuran istitha’ah antara kedua Kementrian, berakibat meningkatnya jumlah kematian Jemaah haji yang mayoritas Jemaah haji berusia lanjut dan beresiko tinggi.

Nur Syam juga meminta disiapkan bank data penyelenggaraan ibadah haji. Dengan itu, Ditjen PHU diharapkan dapat  menyajikan perbandingan data penyelenggaraan haji antar tahun dalam berbagai perspektif. Sehingga bisa digunakan sebagai dasar perbaikan pelayanan haji ke depannya.

Selain soal perbaikan layanan haji, pelayanan umroh juga diingatkan agar diperbaiki. Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin menegaskan Kemenag akan menindak tegas travel-travel pemberangkatan umrah yang tidak memberikan pelayanan dengan baik kepada calon Jemaah. “Kita akan tindak tegas.”

Mengangkat tema “Untuk Penyelenggaraan Haji yang Lebih Baik”. Tampak hadir, seluruh Kakanwil Kemenag Provinsi se-Indonesia, Kabid Haji di Kanwil, UPT Asrama haji, pejabat eselon II dan III Ditjen PHU, Dubes RI di Saudi, KJRI Jeddah, serta staf teknis Kantor Urusan Haji (KUH). (Joko)

SHARE THIS: