Mempertanyakan Universalitas HAM yang Dianggap Universal
Posted by Lestari on 15th November 2017
| 31 views

AktualPress.com – Setelah perang dunia ke-2 berlalu, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) akhirnya mendeklarasikan hak-hak mendasar yang dimiliki oleh manusia. Deklarasi inilah yang kemudian kita kenal sebagai HAM.

Dalam anggapan umum, HAM ada sebagai bentuk penyesalan masyarakat internasional yang terwakilkan oleh PBB atas kekejaman dan hal-hal mengerikan yang menimpa umat manusia selama masa peperangan, baik itu perang dunia pertama atau pun kedua. Memang tidak bagus untuk selalu berprasangka buruk terhadap sesuatu, tetapi berhati-hati dan teliti dalam memandang sesuatu justru adalah prilaku positif yang sudah seharusnya diaplikasikan dalam kehidupan. Sisakan ruang di dalam akal kita untuk bertanya, benarkah HAM yang dianggap universal itu benar-benar sesuai untuk seluruh manusia yang berbeda-beda suku, agama, serta adat-istiadatnya?

Nampaknya, Universalitas HAM itu telah mendapat tantangan dari masyarakat Muslim. Banyak Muslim yang menolak gagasan HAM, bahkan mendirikan rumusan HAM tandingan yang bernuansa syar’i—suatu istilah yang dibangun dalam sejarah ortodoksi dalam Islam. Inilah bukti bahwa universalitas HAM itu telah menemukan cacatnya.

Bagaimanapun juga, kita harus ingat bahwa HAM bukanlah sesuatu yang turun dari langit dan lepas dari konteksnya. Ia lahir dalam suatu masyarakat tertentu, yaitu masyarakat Barat yang khas dengan ke-Barat-annya. Akibatnya, HAM disusun dengan suatu rangkaian yang abai terhadap budaya lain yang non-Barat, contohnya Islam. Maka dalam sudut pandang HAM yang disusun Barat tersebut, segala hal yang tidak sesuai dengan gambaran mereka tentang HAM pasti akan dianggap tidak manusiawi, meski oleh masyarakat yang dituju belum tentu begitu.

Sampai di sini, HAM yang terstruktur dalam rumusan-rumusannya itu benar-benar masih rapuh dalam hal universalitasnya. Ia tidak mampu menjangkau keragaman umat manusia yang memiliki tolak ukur sendiri tentang arti dari kata “manusiawi”. Walaupun begitu, kita tidak selalu serta merta antipati terhadap HAM. Ada prinsip dasar, seperti yang disampaikan oleh Abdullahi Ahmed an-Naim, yang bisa berlaku untuk umat manusia secara universal. Prinsip tersebut disebut sebagai prinsip timbal balik (the principle of reciprocity). Artinya, perlakukanlah orang lain seperti Anda ingin diperlakukan.

Semua manusia, pada dasarnya suka diperlakukan secara baik dan benci mendapatkan perlakuan diskriminatif. Kekurangan-kekurangan yang ada dalam HAM khas Barat, atau pun HAM khas Islam perlu kita lihat dalam sudut pandang ini. Akhirnya, kebijakan-kebijakan turunan atas nama HAM bisa dibangun berdasarkan prinsip timbal balik seperti yang telah tertera di atas. Jika hal ini diterapkan, maka terciptanya sebuah aturan yang menghargai hak-hak dasar manusia secara keseluruhan bukanlah hal yang tidak mungkin di masa yang akan datang. (AL)

SHARE THIS: