Pergulatan Muslim Progresif dan Konservatif Dalam Muhammadiyah 1
Posted by Lestari on 16th November 2017
| 33 views

AktualPress.com – Muhammadiyah, sebagai organisasi Muslim terbesar di Indonesia setelah NU, merupakan organisasi Muslim yang diperhitungkan sebagai penentu arah pergerakan Islam Indonesia. Di tengah Muslim Indonesia sendiri ada proses tarik menarik yang cukup alot antara kelompok Islam progresif dan konservatif. Kelompok Islam progresif adalah mereka yang berupaya untuk menyelaraskan Islam dan tantangan zaman, dengan cara melihat sumber-sumber keislaman secara kontekstual. Sementara itu, kelompok konservatif adalah mereka yang berupaya untuk membawa pola serta tatanan hidup yang pernah dipraktekkan oleh generasi Islam di masa awal. Kelompok progresif akan berpikir bahwa masa sekarang berbeda dengan masa dahulu, dan solusi atas berbagai persoalannya pun berbeda. Sementara kelompok konservatif menganggap masa dahulu adalah masa keemasan, oleh karenanya segala kebijakan orang-orang terdahulu itu patut juga diterapkan oleh generasi saat ini.

Nampaknya, kontestasi dua kelompok ini juga ada dan berkembang dalam tubuh Muhammadiyah, sebagaimana juga ia berkembang dalam tubuh NU. Proses tarik menarik itu tampak begitu jelas pada Muktamar Muhammadiyah yang ke-43 tahun 1995, ke-44 tahun 2000, hingga ke-45 di Malang tahun 2005. Di sudut halaman, pada Muktamar ke-45 itu, berdiri stand yang menjual berbagai perlengkapan ataupun aksesoris, khas muslim konservatif. Contohnya, dipasarkannya baju bertuliskan “Muhammadiyah anti-liberal”. Liberal adalah sebutan kelompok Islam konservatif kepada penganut Islam progresif. Hasilnya, muktamar ke-45 ini memilih Din Syamsudin sebagai ketua umum Muhammadiyah. Terpilihnya Din Syamsudin sebagai ketua Umum dianggap sebagai tanda kekalahan kelompok Islam progresif dalam tubuh Muhammadiyah. Perlu diketahui bahwa Muktamar Muhammadiyah ke-45 ini hanyalah puncak pergolakan antara dua kubu dalam Muhammadiyah yang telah berlangsung pada waktu-waktu sebelumnya.

Berbeda dengan dua periode sebelumnya, saat Muhammadiyah dinahkodai oleh Amin Rais (1995-2000) dan Ahmad Syafi’i Ma’arif (2000-2005). Amin Rais waktu itu dikenal sebagai seorang pembaharu Islam di Indonesia, Bersama dengan Nurcholis Madjid, dan Ahmad Syafi’i Ma’arif. Amin Rais yang dahulu jangan disamakan dengan Amin Rais yang sekarang, yang cenderung lebih pragmatis dan dekat dengan kelompok Islam konservatif. Pada masa Amin Rais dahulu, Muhammadiyah menerbitkan tafsir al-Qur’an tematik yang salah satu isinya memperbolehkan Muslim laki-laki menikahi perempuan non-Muslim tanpa adanya pengecualian. Tak hanya itu, seorang Muslimah bisa menikahi laki-laki non-Muslim, dengan Batasan bukan penganut politeisme (percaya dengan banyak Tuhan). Di bawah kepemimpinannya juga, Majlis Tarjih berubah menjadi Majlis Tarjih sekaligus Pengembangan Pemikiran Islam. Di tambah lagi dengan posisi pimpinan pusat di Muhammadiyah yang diisi oleh Amin Abdullah (Profesor Filsafat Islam di UIN Sunan Kalijaga), Abdul Munir Mulkhan, dan Dawam Rahardjo.

Masing-masing kelompok, baik itu Islam Progresif maupun Islam Konservatif, sama-sama mengklaim diri mereka sebagai pengikut sejati Muhammadiyah. Hanya saja, kelompok konservatif lebih menekankan agar masyarakat Muhammadiyah mengikuti pola dan tatanan hidup umat Muslim generasi awal, yaitu generasi Nabi, sahabat, dan setelahnya. Kelompok konservatif enggan untuk mendasari sikap mereka dengan merujuk pada pencetus Muhammadiyah itu sendiri yaitu Ahmad Dahlan. Sebab, mereka sadar bahwa merujuk kepada Ahmad Dahlan, akan menempatkan mereka pada posisi yang kurang menguntungkan.

Sebaliknya, kelompok Islam Progresif lebih suka melegitimasi argumentasinya melalui teladan yang ditunjukkan oleh Ahmad Dahlan. Bagi mereka, semangat yang diajarkan oleh Ahmad Dahlan, selaku pendiri Muhammadiyah, seharusnya tetap dihidupkan oleh generasi Muhammadiyah saat ini. Ahmad Dahlan, memang dikenal sebagai seorang tokoh yang ramah terhadap perbedaan dan toleran terhadap penganut agama lain. Sikap dan tingkah laku Ahmad Dahlan, lebih dekat kepada kelompok Islam Progresif ketimbang konservatif. Bahkan, Ahmad Dahlan sendiri, menentang karakter konservatif dalam menafsirkan Islam. Cerita bahwa Ahmad Dahlan menentang arah kiblat di Masjid Agung Yogyakarta waktu itu dengan berdasar kepada arah kompas, merupakan salah satu bukti atas keyakinan tersebut. (AL)

SHARE THIS: