Pergulatan Muslim Progresif dan Konservatif Dalam Muhammadiyah 2
Posted by Lestari on 16th November 2017
| 38 views

AktualPress.com – Kembali kepada Muktamar Muhammadiyah ke-45. Muktamar kali ini dianggap sebagai kemenangan kelompok Islam konservatif di Muhammadiyah. Sebab, berbagai kebijakan yang telah dirumuskan oleh dua ketua umum sebelumnya dirubah. Di antaranya adalah Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam dirubah kembali menjadi Majlis Tarjih dan Tajdid. Orientasi perubahan nama ini selain bermakna simbolis, bukti atas kemenangan kelompok konservatif atas kelompok progresif, juga bermakna perubahan program menjadi pengkajian terhadap ilmu-ilmu tradisional seperti Ilmu Falak, yang berguna untuk menentukan awal dan akhir puasa.

Selain itu, beberapa tokoh progresif yang sebelumnya duduk di kursi Muhammadiyah pusat, saat itu sudah tidak lagi ada pada posisi itu. Tokoh yang dimaksud adalah Amin Abdullah dan Abdul Munir Mulkhan. Akibatnya, Muhammadiyah benar-benar dikendalikan oleh tokoh-tokoh dari kalangan Islam konservatif. Amin Abdullah dan Mulkhan sebetulnya juga ikut mencalonkan diri agar masuk dalam jajaran pimpinan pusat Muhammadiyah. Tetapi, hasil muktamar memutuskan bahwa mereka gagal meraih posisi itu. Besar kemungkinan bahwa kekalahan mereka terjadi karena  kekalahan opini kelompok Islam Progresif untuk menarik mayoritas anggota Muhammadiyah. Sebagai gantinya, masuklah beberapa tokoh baru seperti Yunahar Ilyas, seorang alumni Universitas di Arab Saudi, yang getol melawan pemikiran Islam Progresif di Muhammadiyah.

Berubahnya kepemimpinan pun meniscayakan perubahan dalam hal-hal lainnya, seperti posisi perempuan di Muhammadiyah. Pada masa kepemimpinan Ahmad Syafi’i Ma’arif, perempuan diberikan hak untuk menjabat sebagai pimpinan pusat Muhammadiyah. Walaupun, belum ada satu pun perempuan yang menduduki posisi itu. Tetapi, pada Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang, suara penentangan terhadap hak-hak kaum perempuan atas kursi kepemimpinan pusat terdengar semakin keras. Orang-orang dari golongan konservatif menolak adanya hak tersebut, dan meminta agar Aisyah—organisasi perempuan Muhammadiyah—dibubarkan saja jika hak-hak itu ingin diteruskan. Hasilnya, kebijakan yang dimulai pada masa Ahmad Syafi’i Ma’arif itu tumbang melawan tantangan tersebut.

Dampak lain yang dapat dirasakan dari perubahan itu adalah kuatnya penolakan terhadap pemikiran kelompok progresif yang dianggap liberal. Walaupun perkembangan pemikiran liberal di Indonesia sudah ada dan dilakoni oleh beberapa intelektual muda Muslim, khususnya mereka yang hidup di kampus-kampus Islam seperti UIN Jogja dan UIN Jakarta, tetapi istilah liberal yang disertai dengan penolakan yang cukup keras baru bergema ketika Ulil Abshar Abddalla dan Luthfi Asysyaukanie mendirikan organisasi bernama JIL (Jaringan Islam Liberal). Di saat istilah liberal sering dianggap negatif oleh kelompok muslim konservatif Muslim di Indonesia, tetapi Ulil dan Luthfi justru terlihat bangga menggunakan istilah liberal dan menamai organisasinya dengan kata itu.

Di dalam tubuh Muhammadiyah, pemikiran muslim progresif pun ada dan dilakoni oleh aktor-aktor muda. Karena itu, terbentuklah JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah). Setelah Muktamar ke-45 itu usai, penolakan terhadap eksistensi JIMM sebagai bagian dari Muhammadiyah mendapatkan tantangan keras dari kelompok konservatif. Mereka menuntut agar JIMM melepaskan diri dari Muhammadiyah, dan menghilangkan kata Muhammadiyah sebagai nama organisasi itu. Perlu diketahui juga, bahwa kebencian kelompok muslim konservatif terhadap JIMM seringkali membuat mereka menyebut JIMM sebagai Jaringan Iblis Muda Muhammadiyah.

Tetapi, tampaknya kemenangan kelompok konservatif dalam tubuh Muhammadiyah itu tidak bertahan lama. Pasalnya, kini Muhammadiyah telah dipimpin oleh Haedar Nashir, sosok yang terlihat penolakannya kepada kelompok Islam konservatif. Selain melalui pidato-pidatonya, ia juga menulis beberapa buku yang terkait dengan perkembangan ideologi Islam konservatif di Indonesia. Karya ini lahir dari penelitian disertasinya yang kemudian diterbitkan oleh Mizan. Untuk saat ini, segala label yang ingin mengaitkan Muhammadiyah dengan gerakan radikal, masih sulit dibuktikan. Tetapi, kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Semoga saja, Muhammadiyah terhindar dari hal-hal yang merusak. (AL)

SHARE THIS: