Tatkala Malcolm X Berada di KAA Bandung
Posted by Aktual Press on 26th November 2017
| 79 views

Collectie / Archief
Fotocollectie Spaarnestad Onderwerpen
Reportage / Serie
Staatsvorming Indonesië: 1965 – Revolte
Beschrijving
staatkunde , bestuur , staatsvorming , grenzen , grondwetten, Indonesië
Locatie
Indonesië
Trefwoorden
bestuur , grenzen , grondwetten, staatsvorming , staatkunde
Fotograaf
[onbekend]
AktualPress.com—Pertengahan April 1955, di kota Bandung, Indonesia, berlangsung pertemuan bersejarah: Konferensi Asia-Afrika (KAA). Konferensi yang menghadirkan 29 negara dan pejuang-pejuang pembebasan dari Asia-Afrika itu membuat negeri-negeri kolonialis bergidik.

Dari namanya, tentu kita mengira KAA hanya menghadirkan wakil-wakil Asia dan Afrika. Amerika Serikat dan Eropa memang sengaja tidak diundang. Namun, siapa sangka, ada orang Amerika Serikat (AS) yang jadi peserta di KAA ini. Dia adalah el-Hajj Malik el-Shabazz alias Malcom X. Tentu saja, Malcom bukan mewakili Negara Amerika, tetapi pejuang hak-hak sipil Amerika.

Kehadiran Malcom di KAA 1955 tidak banyak diketahui orang. Namun, seorang fotografer berhasil mengabadikan gambar yang menunjukkan kehadirannya. Dia muncul dengan gaya khas-nya: mengenakan jas hitam dan kaca-mata tebalnya. Tanggal 30 Januari 2016, blog Indonesia Zaman Doeloe mengunggah foto langka itu.

Malcom sangat terkesan dengan KAA 1955. Di situ dia melihat bangsa-bangsa kulit berwarna, kendati berbeda suku, agama, ras, dan pandangan politik, bisa bersatu-padu untuk melawan musuh bersama: kolonialisme dan imperialisme.

“Di Bandung, semua bangsa berkumpul bersama. Mereka adalah bangsa-bangsa gelap dari Asia dan Afrika. Ada Budha, Muslim, Kristen, Konfusianisme, dan beberapa atheis. Meskipun agama mereka berbeda-beda, mereka berkumpul bersama. Ada komunis, sosialis, dan kapitalis. Meskipun perbedaan ekonomi dan politik, mereka berkumpul bersama. Mereka semua berkulit hitam, coklat, merah, dan kuning,” kenang Malcom.

Di pidatonya di tahun 1963, Message to Grassroot, Malcom menjadikan KAA sebagai rujukan bagi strategi perjuangan bagi kulit hitam di AS. Terutama tentang bagaimana merumuskan musuh bersama dan menyusun persatuan di atas kepentingan melawan musuh bersama itu. Dan, bagi Malcom, musuh bersama kulit hitam adalah kulit putih.

Malcom, yang lahir tanggal 19 Mei 1925 di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, sejak kecil merasai betapa kejamnya politik segregasi sosial. Ayahnya, Earl Little, seorang pejuang hak-hak sipil kulit hitam, berulang-kali diancam dibunuh oleh milisi berkulit putih. Sampai-sampai keluarga Malcom harus berpindah-pindah untuk menghindari pembunuhan.

Namun, Earl tak bisa menghindari kejaran ajal. Ketika Malcom baru berusia 4 tahun, ayahnya ditemukan meninggal mengenaskan. Banyak yang menyimpulkan, ayahnya dibunuh oleh milisi kulit-putih. Malcom kecil tumbuh di tengah masyarakat Amerika Serikat yang masih mengukuhi diskriminasi rasial dan segregasi sosial.

Tumbuh di tengah rasialisme dan segregasi sosial membuat anak-anak kulit hitam hanya punya sedikit pilihan. Walhasil, banyak diantara mereka terperangkap dalam kriminalitas. Termasuk Malcom. Dia terlibat kejahatan kecil dan perampokan. Dia dibuih 10 tahun lantaran kejahatan itu.

Di dalam buih Malcom menemukan pencerahan. Di situ dia mengenal organisasi kulit hitam: Nation of Islam (NOI). Pemimpinnya bernama Elijah Muhammad. Organisasi ini mengajak kulit hitam memisahkan diri dari masyarakat pulit putih. Untuk mendorong emansipasi kulit hitam, organisasi ini memakai masjid dan usaha ekonomi untuk menarik warga kulit hitam.

Makin hari Malcom tambah radikal. Berbeda dengan koleganya pejuang hak-hak sipil yang mengedepankan perjuangan non-kekerasan, seperti Martin Luther King, Malcom menyetujui pembelaan diri dengan kekerasan. “Jika saya bereaksi terhadap rasialisme kulit putih dengan reaksi kekerasan, itu bukan rasialisme kulit hitam. Jika anda (kulit putih) menaruh tali di leher saya dan saya melepasnya, bagi saya itu tidak rasis,” tegasnya.

KAA 1955 di Bandung benar-benar meluaskan cakrawala berpikir Malcom. Dia menjadi tahu rasialisme berkelindan dengan kolonialisme. Dan sejak itu dia menggemakan “revolusi kaum hitam”. “Ketika aku mengatakan hitam, maksudku non-putih: hitam, coklat, merah, atau kuning,” kata Malcom.

Malcom memang lebih memilih sebutan “hitam” ketimbang “negro” Sebab, kata dia, negro sendiri ada dua jenis: negro rumahan dan negro ladangan. Negro rumahan, yang tinggal bekerja di dalam rumah tuannya, merasa dekat dengan tuannya. Sebaliknya, negro ladangan, yang menerima hukuman cambuk hampir setiap hari, adalah negro yang membenci tuan Budak.

Di tahun 1963, seiring dengan meningkatnya tekanan atas perjuangannya, Malcom makin radikal. Dengan merujuk pada revolusi di berbagai tempat, seperti revolusi Amerika, Perancis, Tiongkok, Rusia, hingga perlawanan Mau-Mau di Kenya, dia bilang bahwa setiap revolusi menuntut tanah dan dijalankan dengan berdarah-darah.

“Setiap revolusi berdarah-darah. Revolusi adalah permusuhan. Revolusi tidak mengenal kompromi. Revolusi menjungkirbalikkan dan menghancurkan sesuatu untuk membuka jalannya,” terangnya.

Dan sejak itu dia meninggalkan NOI. Haluan politik Malcom makin berayun ke kiri dan revolusioner. Sayang, pada 21 Februari 1965, ketika sedang berpidato di Manhattan, tiga orang anggota NOI memberondongnya dengan 15 kali tembakan dan merenggut nyawanya.

Kini, setelah setengah abad kematiannya, Malcom X masih menjadi inspirasi perjuangan bagi bangsa-bangsa tertindas di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. (Zainab/berdikarionline.com)

SHARE THIS: