Mari Dalami Sejarah Korea Utara, Korban Agresi Bom AS Terbesar di Dunia
Posted by @Editor on 16th December 2017
| 73 views
U.S. troopers move through burning shacks in the Sunchon/Sukchon area of North Korea, Oct. 20, 1950. (AP Photo/Max Desfor)

Aktualpress.com—Ketika dunia sibuk mengkhawatirkan ketegangan yang meninggi dan retorika panas antara AS dan Korea Utara, ada satu hal penting yang luput dari perhatian publik—alasan ketakutan Korea Utara yang membuatnya ngotot mempertahankan senjata nuklir mereka.

Ted Nace, seorang kolumnis dan pendiri CoalSwarm, menjelaskan secara rinci isu ini di situs Mintpressnews pada 8 Desember 2017. Nace menulis, ketakutan Korut itu adalah agresi bom yang dilancarkan Angkatan Udara AS dalam masa Perang Korea dan jumlah korban yang besar akibat pengeboman tersebut.

Meskipun fakta lengkapnya tak pernah diketahui, Nace menilai bukti-bukti yang tersedia mengarah kepada kesimpulan bahwa “pengeboman kota-kota dan desa-desa Korut mengakibatkan lebih banyak kematian warga sipil daripada agresi bom lainnya dalam sejarah dunia.”

Ahli sejarah Bruce Cumings, menjelaskan operasi bom itu sebagai “salah satu episode terburuk kekerasan Amerika terhadap negara lain, namun yang pasti hanya sedikit orang Amerika yang tahu tentang ini.”

Nace menulis, operasi yang dilakukan dari tahun 1950 sampai 1953 ini menewaskan 2 juta warga Korea Utara, atau sekitar 20% populasi. Setidaknya demikian pengakuan dari Jenderal Curtis LeMay, ketua Komando Udara Strategis dan organisator pengeboman di Tokyo dan kota-kota Jepang lainnya.

Sumber lain mengeluarkan angka lebih rendah. Berdasarkan data yang dirilis Pusat Studi Perang Sipil (CSCW) dan International Peace Research Institute, Oslo (PRIO), “perkiraan terbaik” angka kematian sipil Korut adalah 995.000 orang.

Perkiraan angka korban Korut dari CSCW/PRIO ini ternyata melebihi angka kematian sipil dari operasi pengeboman besar lain, yaitu pengeboman pasukan Sekutu ke kota-kota Jerman dalam Perang Dunia II, yang diperkirakan merenggut 400.000 sampai 600.000 jiwa;  pengeboman kota-kota Jepang—330.000 sampai 900.000 jiwa; pengeboman Indochina (1964-1973), 121.000 sampai 361.000 jiwa; total korban Operasi Rolling ThunderOperasi Linebacker, dan Operasi Linebacker II (Vietnam); Operasi Menu and Operasi Freedom Deal (Kamboja), dan Operasi Barrel Roll(Laos).

Nace menemukan bahwa serangan AU AS terhadap Korut menggunakan taktik pengeboman yang dikembangkan dalam Perang Dunia II terhadap Eropa dan Jepang.

Pada tanggal 3 November 1950, Jenderal AS Douglas MacArthur AU AS menyetujui permintaan Letnan Jenderal George E. Stratemeyer untuk menghancurkan kota Kanggye dan kota-kota lainnya di Korut: “Bakar semuanya seperti yang kamu mau. Bukan hanya itu, Strat, bakar dan hancurkan untuk memberi pelajaran kepada kota-kota lainnya yang bernilai tinggi bagi musuh.” Stratemeyer juga menerima intruksi seperti ini: “Semua instalasi, fasilitas, dan desa di Korea Utara sekarang adalah target militer.”

Selama kurang dari tiga minggu serangan ke Kanggye, terdapat 10 kota hancur, yaitu Ch’osan (85%), Hoeryong (90%), Huich’on (75%), Kanggye (75%), Kointong (90%), Manp’ochin (95%), Namsi (90%), Sakchu (75%), Sinuichu (60%), dan Uichu (20%). Sementara serangan berlanjut, AU AS terus menghitung hasil penghancuran kota-kota lainnya:

* Anju – 15%
* Chinnampo (Namp’o)- 80%
* Chongju (Chŏngju) – 60%
* Haeju – 75%
* Hamhung (Hamhŭng) – 80%
* Hungnam (Hŭngnam) – 85%
* Hwangju (Hwangju County) – 97%
* Kanggye – 60%
* Kunu-ri (Kunu-dong)- 100%
*Kyomipo (Songnim) – 80%
* Musan – 5%
* Najin (Rashin) – 5%
* Pyongyang – 75%
* Sariwon (Sariwŏn) – 95%
* Sinanju – 100%
* Sinuiju – 50%
* Songjin (Kimchaek) – 50%
* Sunan (Sunan-guyok) – 90%
* Unggi (Sonbong County) – 5%
* Wonsan (Wŏnsan)- 80%

“Setelah selesainya masa Perang Korea, tidak ada survei yang keluar tentang operasi ini selain peta dari internal AU AS yang memperlihatkan kerusakan kota-kota Korut. Peta-peta ini juga dirahasiakan selama 20 tahun berikutnya,” tulis Nace.

“Ketika peta-peta itu akhirnya diam-diam dibuka pada 1973, minat Amerika dan dunia terhadap Perang Korea sudah hilang. Hanya dalam beberapa tahun terakhir ini saja mulai ditemukan susunan fakta peperangan itu dari hasil penelitian para ahli sejarah seperti Taewoo Kim (Institut Analisis Pertahanan Korea), Conrad Crane (Akademi Militer AS) dan  Su-kyoung Hwang (Universitas Pennsylvania),” tambahnya.

Sampai hari ini, pengeboman kota-kota dan desa Korut masih jarang diketahui oleh media dan masyarakat luas, meski hal ini sangat berhubungan dengan sikap Korea Utara dalam mempertahankan senjata nuklirnya.

Nace berpendapat, jika masyarakat Amerika tidak mengetahui fakta-fakta ini, mereka tidak akan memahami rasa takut yang terpendam di balik sikap dan tindakan Korea Utara. (ra/mintpress)

SHARE THIS: