Menanti Setya Novanto ‘Bernyanyi’
Posted by @Redaksi on 18th December 2017
| 46 views

AktualPress.com – Drama penangkapan mantan Ketua Umum Partai Golongan Karya, Setya Novanto atas tuduhan korupsi e-KTP terus bergulir. Namun meski sudah dijaket oranyekan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, pria yang akrab dipanggil Setnov ini masih enggan bersuara. Dalam sidang, ia memilih diam dengan alasan masih sakit.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Feri Juliantono, dalam Talkshow akhir pekan ‘Setnov Effect’ di Warung Daun Cikini, menyebutkan, Setnov memegang posisi kunci dalam pengungkapan pihak-pihak yang terkait dalam korupsi e-KTP ini. “Bolanya ada di tangan Setnov,” ujar Feri, Sabtu 16 Desember.

Feri menyayangkan Setnov irit bicara dalam persidangan. Hal ini, tuturnya, membuat upaya untuk mengungkap semua pihak yang terlibat terganjal. Meski menurutnya, jika Setnov ‘bernyanyi’, resikonya tinggi. “Memang tergantung kenekatan Setnov. Bisa saja dibunuh nanti.”

Kekhawatiran Feri ini tentu bukan tanpa alasan, salah satu saksi kunci kasus korupsi e-KTP, Johannnes Saliem, yang dalam rekaman yang diputar di depan hakim menyebutkan Setnov mendapatkan jatah 60 Miliar dalam proyek tersebut, Jumat 12 Agustus mati misterius di Amerika.

Ketua KPK Agus Rahardjo sendiri dalam keterangan persnya menyebutkan Setnov merugikan negara hingga 2,3 Triliun dalam korupsi e-KTP ini. Dan menurut KPK, Setnov tidak sendirian, masih banyak pihak lain yang terlibat korupsi yang belum terungkap.

Menanggapi serangan gencar pada kliennya ini, pengacara Setya Novanto, Maqdir Ismail yang menganggap Setya Novanto memiliki kemungkinan tidak bersalah. “Jangan-jangan ini perkara yang dibesar-besarkan untuk menjatuhkan orang besar,” ujar Maqdir.

Maqdir menyebutkan ada beberapa keanehan dalam pemidanaan terhadap Setya Novanto, pertama terkait isi dakwaan Setya Novanto yang tak sama dengan dakwaan Irman dan Sugiharto padahal mereka bersama melakukan pidana. Maqdir juga mempertanyakan keterangan kliennya menerima uang 7,3 juta dolar dan jam tangan, padahal dakwaan Irman dan Sugiharto tak mencantumkan hal itu.

Maqdir juga mempertanyakan kenapa ada nama-nama yang disebutkan oleh Setya Novanto hilang dari daftar dakwaan. Terlebih nama-nama tersebut ditengarai sebagian merupakan nama dari anggota partai berkuasa saat ini. “Ada belasan nama yang hilang,” ujarnya.

Maqdir pun mengkritik KPK, menurutnya KPK melakukan tebang pilih dan menyerang Setya Novanto untuk menjatuhkannya belaka, dan kasus ini terlalu dibesar-besarkan. Namun hal ini dibantah oleh Feri yang menyebutkan hingga sekarang banyak masyarakat yang kesulitan membuat e-KTP karena korupsi ini.

Wakil Sekretaris Jenderal Golkar, Dave Laksono juga menuntut agar kasus ini harus dibuka total siapa saja yang terlibat. KPK, menurut Dave harus membuktikan integritasnya dengan membongkar semua yang terlibat, “Bukan hanya beberapa individu saja yang dikejar,” ujar Dave.

Meski menurut Koordinator Divisi Monitoring Hukum dan Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW), Emerson Yuntho kemungkinan Setnov bicara kecil, namun Emerson berharap Setnov berani bicara agar bisa membongkar kasus korupsi e-KTP ini.

Lepas dari persoalan hukum, Emerson menyebutkan, uang hasil korupsi proyek e-KTP bisa digunakan untuk melanjutkan proyek e-KTP agar masyarakat yang saat ini masih banyak terlantar bisa terlayani membuat e-KTP. Namun ia menegaskan, uangnya tidak bisa langsung dipakai, harus dimasukkan dalam anggaran pemerintah terlebih dahulu agar pertanggungjawabannya lebih terukur. (Joko)

SHARE THIS: