Pram, Sang Pembela Kebenaran dan Kemanusiaan
Posted by Lestari on 24th December 2017
| 193 views

AktualPress.com – “Aku tidak pernah memihak ideologi manapun. Aku hanya memihak keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan,” ucap Pramoedya Ananta Toer. Sebuah kata luar biasa yang aku dapatkan dari sosok Pramoedya Ananta Toer. Aku kerap menyebutnya dengan satu kata, Pram. Dia adalah salah satu sastrawan dunia asal Indonesia yang sangat menjunjung tinggi kebenaran dan kemanusiaan. Kutipan di atas adalah bukti konkretnya. Ia tak suka dengan penindasan apalagi penjajahan, baik yang dilakukan oleh para kolonial maupun para negarawan sendiri. Ia tak pernah melihat status seseorang. Yang ia lihat hanyalah hakikat diri seseorang tersebut, apakah condong ke arah kebenaran ataukah condong ke arah pelampiasan.

Pram lahir di sebuah kota di Jantung pulau Jawa, provinsi Jawa Tengah, Blora, pada tanggal 6 Februari tahun 1925. Sepanjang hidupnya, ia menghabiskan waktunya untuk menulis produktif. Menceritakan cerita-cerita semi fiksi di balik sejarah. Sebuah peristiwa yang tak semua orang ketahui. Sebuah kisah tersembunyi yang selama ini ditutup-tutupi oleh pemerintah. Ia memotret dan menggali sejarah dari sudut pandang rakyat dan kaum jelata. Namun ia mengurainya dengan indah dan mempesona lewat alunan gerak tangannya. Untuk apa tujuannya? Ya, untuk menguak kebenaran, sehingga menjadi cerminan berharga bagi nusa dan bangsa ke depannya.

Selama 81 tahun, ia produktif menghasilkan lebih dari 200 karya yang sudah diterjemahkan ke lebih dari 41 bahasa dunia, antara lain Yunani, Spanyol, Belanda, Jerman, Korea, Jepang, Turki, Malayalam, Rusia, dan lainnya. Ia sangat diakui di dunia internasional. Meski di dunia nasional, ia sering dianggap bomerang dan sampah negarawan.

Pram adalah anak sulung dari sepasang suami istri sederhana. Ayahnya seorang guru dan kepala sekolah Institut Boedi Oetomo. Sedangkan ibunya hanyalah perempuan penjual nasi. Didikan kedua orang tuanya lah yang membuatnya kuat dan tak pernah menyerah. Meski banyak yang mengkritiknya, menyeretnya masuk ke dalam penjara, dan tak menghargai karyanya. Ia tetap berdiri kokoh, menyapa kebenaran.

Saat kecil, ia menempuh pendidikan di Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya. Di sekolah tersebut, ia banyak belajar tentang berita Indonesia. Sehingga ia selalu mengamati Indonesia dari kaca mata luar. Kemudian belajar pula di Kelas Stenografi, Chup Sangi In selama satu tahun di Jakarta. Ia pernah menghadiri kelas dan seminar perekonomian dan sosiologi di Ciputat Maruto Nitimihardjo. Kemudian melanjutkan sekolah di taman dewasa dan Sekolah Tinggi Islam Kelas Filosofi Islam di Jakarta. Kemudian ia keluar dan bekerja sebagai juru ketik di surat kabar Jepang di Jakarta. Begitulah kehidupannya, ia selalu menulis tidak hanya dalam kerjaan, tetapi juga dalam diam, lelah, dan gelisah. Ia pun pernah tinggal di Belanda karena disuruh mewakili program pertukaran budaya. Kecemerlangan pikirannya lah yang membuat orang percaya kepadanya.

Karya-karya di balik sejarah fenomenalnya lah yang membuatnya sering keluar masuk penjara di Indonesia, padahal di luar negeri sangat ditunggu dan dihargai karyanya. Namun ia tak perna menyerah demi kehidupan masyarakat. Pram pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial, 1 tahun pada masa orde lama, dan 14 tahun pada masa orde baru. Semuanya adalah tahanan politik tanpa proses pengadilan. Betapa miris nasibnya menjadi pejuang kebenaran dan kemanusiaan yang terasingkan, tidak hanya dirinya, namun pula karyanya terasingkan.

Mayoritas karyanya dilarang untuk dipublikasikan dan dicabut hak beredarnya oleh pemerintah karena dianggap kontra dan mengganggu keamanan negara. Setelah dilarang dan dicabut karyanya, dirinya ditahan tanpa proses pengadilan. Itulah selalu menyelimuti perjuangannya. Setelah dibebaskan dari penjara, ia tetap tak seutuhnya bebas karena harus tetap melapor ke kepolisian berapa bulan sekali.

Namun di balik jeruji itulah, ia semakin banyak melahirkan karya-karya besar yang beredar hingga sekarang. Bahkan ia bisa menyelesaikan naskah masterpiece nya di penjara dengan kiriman sebuah mesin tik dari penulis Perancis, Jean Paul Sartre. Beberapa karya luar biasanya adalah sebagai berikut:

  • Sepoeloeh Kepala Nica (1946)
  • Kranji-Bekasi Jatuh (1947)
  • Perburuan (1950)
  • Keluarga Gerilya (1950)
  • Subuh (1951)
  • Percikan Revolusi (1951)
  • Mereka yang Dilumpuhkan (I & II) (1951)
  • Bukan Pasar Malam (1951)
  • Di Tepi Kali Bekasi (1951)
  • Dia yang Menyerah (1951)
  • Cerita dari Blora (1952)
  • Gulat di Jakarta (1953)
  • Midah Si Manis Bergigi Emas (1954)
  • Korupsi (1954)
  • Mari Mengarang (1954)
  • Cerita Dari Jakarta (1957)
  • Cerita Calon Arang (1957)
  • Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958)
  • Panggil Aku Kartini Saja (I & II) (1963)
  • Kumpulan Karya Kartini
  • Wanita Sebelum Kartini
  • Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964)
  • Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963)
  • Lentera (1965)
  • Bumi Manusia (1980)
  • Anak Semua Bangsa (1980)
  • Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981)
  • Tempo Doeloe (1982)
  • Jejak Langkah (1985)
  • Sang Pemula (1985)
  • Hikayat Siti Mariah (1987)
  • Rumah Kaca (1988)
  • Memoar Oei Tjoe Tat (1995)
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995)
  • Arus Balik (1995)
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1997)
  • Arok Dedes (1999)
  • Mangir (2000)
  • Larasati (2000)
  • Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005)

Di samping karya-karya di atas, masih banyak karya-karyanya yang tidak ditemukan karena dibakar pemerintah, terbit di luar negeri, dibawa dubes luar negeri, dan lainnya. Tahun 2006, kesehatannya menurun drastis. Ia didiagnosis menderita penyakit radang paru-paru dan penyakit kompilasi lain, seperti jantung, diabetes, dan ginjal. Ia harus dirawat di Rumah Sakit berminggu-minggu. Karena tidak betah, ia meminta pulang ke rumah dan dirawat di rumah saja. akhirnya keluarga dan dokter dengan berat hati mengabulkan permintaannya. Kemudian beberapa hari setelahnya, ia mengalami kritis kembali dan dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Namun apalah daya, tanggal 30 April 2006, id dinyatakan wafat dalam usianya yang ke 81 tahun. (AL)

SHARE THIS: