Tetralogi Buru, Kisah Di Balik Sejarah
Posted by Lestari on 24th December 2017
| 164 views

AktualPress.com – Penjara adalah tempat yang sangat akrab dalam kehidupan Pram. Bahkan karya masterpiece nya lahir di sana, yaitu buku Tetralogi Buru. Empat jilid buku yang dibuatnya ketika mendekam di penjara Pulau Buru. Tetralogi Buru terbit dari tahun 1980 hingga 1988 dan sempat dilarang beredar oleh Jaksa Agung selama dua bulan.

Mengenai karya dan pemikiran Pram, saya akan membahas buku masterpiece nya ini. Meski buku ini adalah buku sastra, namun tidak murni fiksi. Ia adalah buku semi fiksi yang bercerita tentang sejarah. Ia mengulas kisah di balik sejarah Indonesia dari sudut pandang rakyat. Karya ini hampir tidak bisa diselamatkan jika seorang warga negara Australia, Max Lane, menyelundupkan keluar dan menerbitkannya di luar negeri.

Karya Tetralogi Buru berisi empat novel yang berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Karya ini berisi kisah pergerakan kebangkitan nasional Indonesia tahun 1898 sampai 1918. Di dalamnya, Pram mengisahkan perjalanan seorang anak pribumi bernama Minke yang sekolah di HBS, sebuah sekolah untuk keturunan orang-orang Eropa. Minke ini adalah nama samaran dari seorang tokoh Pers generasi awal Indonesia, yaitu Raden Mas Tirto Adi Soerjo, seorang pendiri Sarekat Priyayi, organisasi pertama Indonesia. Raden Mas Tirto Adi Soerjo ini adalah nenek moyang Pram yang sangat dihormatinya.

Sebenarnya Minke adalah nama julukan yang diberikan oleh gurunya di HBS. Ini hanyalah nama ejekan dari kata Monkey. Begitulah cara para guru HBS merendahkan anak pribumi.

Minke adalah seorang anak pribumi yang pandai di HBS. Terutama dalam tulisan, sehingga ketika masih muda pun, tulisannya banyak yang dimuat di Koran Belanda pada saat itu karena terlalu mengagumkan pembaca. Sehingga banyak siswa-siswi keturunan Eropa di HBS yang tidak menyukainya.

Minke adalah seorang pemuda revolusioner yang memberontak ketidakadilan dan status pada rakyat di Indonesia. Itu adalah wujud kepeduliannya terhadap Hak Asasi Manusia. Tak hanya Minke, karya ini pun berisi tentang perjuangan seorang wanita pribumi yang ingin menaikkan harga dirinya dalam keluarga dan negara. Ialah Nyai Ontosoroh. Ia dipanggil Nyai karena merupakan istri simpanan dari tuan Millema. Saat itu, seorang Nyai adalah seorang perempuan yang memiliki status kesusilaan rendah, sehingga tidak layak mendapat Hak Asasi Manusia seperti manusia merdeka lainnya. Hebatnya, Nyai Ontosoroh sadar betul dengan status ini. Dan ia berjuang untuk melawan status yang mengkerdilkannya. Ia meyakinkan dirinya dan berjuang keras untuk belajar agar dapat diakui sebagai seorang manusia. Dengan belajar, seorang Nyai pribumi yang tidak sekolah pun dapat menjadi seorang guru yang hebat dengan kekayaan ilmu buku dan pengalaman.

“Untuk melawan penghinaan, kebodohan, kemiskinan dan prihal rendah lainnya hanyalah dengan belajar.”

Ada fakta berbicara di balik uraian fiksinya. Iya, begitulah gaya tulisan Pram. Ia menggambarkan kondisi bangsa Indonesia saat masa kolonial Belanda, dimana hukum dibuat sangat rasis dengan tanpa melindugi penduduk pribumi. Padahal tempat pijaknya hukum itu di pribumi Indonesia. Sungguh miris! Sehingga Minke sebagai penduduk primbumi menggugat dan tidak menyukai pemerintah Belanda.

Menurut Pram dari kaca mata keempat novel ini, sungguh kontradiktif antara apa yang diajarkan dan apa yang direalisasikan oleh pemerintah Belanda pada masa kolonial. Sehingga penduduk pribumi haruslah melawan dan menggugat dengan tulisan dan mobilisasi masa, sebagaimana yang diupayakan oleh tokoh Minke.

“Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan.”

Lewat karyanya ini, Pram mengutarakan, “Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan. Dimana pun ada yang mulia dan jahat. Kau sudah lupa kiranya, Nak, yang kolonial selalu iblis. Tak ada yang kolonial pernah mengindahkan kepentingan bangsamu.” Iya, benar sekali kata-kata Pram ini. Bagaimanapun caranya, yang kolonial pastilah mengindahkan kepentingan bangsanya sendiri.

Pram ingin merangsang seluruh pembaca untuk berjuang dan bergerak demi kebaikan bangsa dan negara. Pram mengimpikan sebuah negeri yang harmonis dengan mengindahkan Hak Asasi Manusia secara pas dan tepat. Ia berkata, “Sudah lama aku dengar dan aku baca ada suatu negeri dimana semua orang sama di depan hukum. Tidak seperti di Hindia ini. Kata dongeng itu juga: negeri itu memashurkan, menjunjung, dan memuliakan kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Aku ingin melihat negeri dongengan itu dalam kenyataan.” Perasaan yang Pram rasakan ini tidak hanya terasa ketika masa kolonial dahulu. Masa sekarang pun, kondisi seperti ini masih kita jumpai. Dan ingatlah selalu tuturan Pram tersebut untuk membangkitkan semangat kita sebagai manusia pribumi. (AL)

SHARE THIS: