Atasi Krisis Tenggelamnya Jakarta, Apa Yang Harus Dilakukan?
Posted by Lestari on 26th December 2017
| 38 views

AktualPress.com – Jakarta diprediksi akan cepat tenggelam. Untuk menghentikan hal ini, Jakarta perlu menghentikan penggalian sumur ilegal oleh perusahaan atau pembangunan. Jakarta harus menyediakan air bersih, entah bagaimana caranya – dengan biaya miliaran yang tidak terhitung – memperbaiki salah satu dari kota terbesar di dunia.

Membersihkan kanal dan sungai juga perlu upaya kepolisian pabrik yang membuang bahan kimia dan limbahnya ke sungai. Ini berarti Jakarta harus berani bergulat dengan korupsi. Kemudian solusi tersulit yang sudah dilakukan untuk mengurangi krisis Jakarta agar tidak cepat tenggelam adalah penggusuran.

Suatu sore saya bertemu dengan pria bernama Topaz di reruntuhan sebuah kampung tepi laut yang digusur bernama Akuarium. Penyelenggara acara berusia 31 tahun. Topaz menggambarkan dirinya sebagai penghuni generasi ketiga dari tempat yang dulu merupakan lingkungan informal yang berkembang dengan bangunan berlantai empat dan jalan-jalan ramai yang penuh dengan pertokoan.

Itu sebelum buldoser tiba. Akuarium yang saya temukan telah direduksi menjadi gundukan batu bata dan beton yang rusak.

“Pemerintah mengatakan penggusuran tersebut tentang pembersihan sungai, tapi saya yakin ini tentang politik dan pembangunan,” ucap Topaz.

Dia menunjukkan kepada saya di sekitar tenda yang compang-camping dan berangin. Di atas bahunya, beberapa menara apartemen tepi laut mewah sedang dibangun. “Saya melihat iklan yang menunjukkan Akuarium berubah menjadi taman,” lanjutnya.

Gubernur baru Jakarta, Anies Baswedan, berencana untuk membangun kembali beberapa tempat penampungan di kampung Akuarium yang sebelumnya digusur. Kemudian di pemukiman lain yang disebut Bukit Duri, saya bertemu dengan Agus Fadilah, seorang supir taksi sepeda motor, sambil menatap puing-puing bekas rumah di tepi sungai Ciliwuwng, salah satu sungai utama kota. Bulldozer masih memindahkan tumpukan puing, dan beberapa wanita sedang mengais-ngais barang keluarga.

Hulu, beberapa kampung lain telah dibersihkan, sungai melebar tepiannya dilapisi beton dan dikelilingi tembok beton yang tinggi, sekarang ditandai dengan grafiti. Sungai di sana terlihat dipenjarakan, tapi air mengalir lebih mudah.

Warga Bukit Duri mengajukan gugatan class action kepada pemerintah untuk memprotes penggusuran tersebut. Baru-baru ini, seorang hakim pengadilan negeri memutuskan untuk mendukung mereka.

Sering ada pembicaraan di sini tentang upaya melarang pengembang menggali sumur dan meminta penduduk untuk menyimpan air hujan.

Langkah kemajuan selanjutnya adalah pembangunan Dinding Pesisir, yang sekarang naik seperti tebing hitam dari Teluk Jakarta. Ini adalah penghalang sementara kuasi untuk menahan naiknya laut dan memberi kompensasi untuk subsidence – dibangun ekstra tinggi karena, seperti wilayah Jakarta Utara lainnya, diharapkan juga tenggelam. Dengan penurunan pada tingkat saat ini, Dinding Pesisir sendiri mungkin berada di bawah air laut juga pada tahun 2030 mendatang.

Dinding Pesisir adalah proyek besar yang dilakukan pejabat Indonesia tiga tahun lalu bekerja sama dengan pemerintah Belanda. Disebut program Pembangunan Pesisir Terpadu Modal Nasional, ia membayangkan melengkapi Dinding Pesisir dengan penghalang kedua, yaitu Tembok Laut Raksasa atau Tanggul Masif yang panjangnya bermil-mil ke laut, yang pada akhirnya menutup Teluk Jakarta seluruhnya.

Tanggul tersebut tidak hanya menghalangi air yang naik. Menurut rencana semula, ini juga akan menjadi tulang punggung bagi sebuah megadistrict baru dan jalan lingkar yang besar, pembangunan senilai 40 miliar dolar. Ini adalah sebuah rejeki nomplok untuk penguasa real estate dan konsultan Belanda.

Namun sebenarnya tanggul itu bukan sebuah solusi yang baik jika tidak didahului dengan membersihkan sungai dan kanal. Tanggul justru akan mengubah Teluk Jakarta yang tertutup menjadi tempat pembuangan limbah dan sampah terbesar di dunia.

Intinya, solusi dari pemerintah adalah sebuah rencana yang oleh para pemerhati lingkungan dan banyak nelayan miskin sepakat akan menimbulkan malapetaka lingkungan di teluk dan Jakarta Utara disebut-sebut oleh kepemimpinan Jakarta sebagai sarana untuk menyelamatkan kota Jakarta itu sendiri dari perubahan iklim.

Seorang ilmuan iklim bernama Ardhasena Sopalheluwakan berpendapat bahwa pendekatan dan solusi terbaik bukanlah membangun tanggul raksasa tetapi mengembalikan bagian Jakarta Utara ke alam. Idenya ini untuk mengenalkan kembali mangrove dan meremajakan beberapa lusinan waduk yang sebenarnya merupakan bagian dari Jakarta di masa dulu.

Contohnya adalah Tokyo yang memiliki situasi yang sama setelah Perang Dunia II. Tokyo telah tenggelam sekitar 12 kaki sejak 1900. Namun kemudian kota tersebut menetapkan peraturan yang lebih ketat mengenai pembangunan, sehingga dalam satu atau dua dekade dapat membuat model inovasi urban yang terdepan dan terbaik di dunia. Cara ini buktinya lebih mampu mengatasi krisis tenggelamnya kota tersebut. Jakarta bisa meniru Tokyo untuk membangun kembali kota Jakarta yang lebih aman. (AL)

SHARE THIS: