Asosiasi Pedagang Pasar: Pemerintah Tidak Tahu Ketersediaan Pasar
Posted by Aktual Press on 1st January 2018
| 15 views
(okezone.com)

AktualPress.com—Ketua Asosiasi Pedagang Pasar, Ngadiran, mengatakan mahalnya harga pangan Natal dan Tahun Baru 2018 disebabkan kelalaian pemerintah. Pemerintah dinilai tidak mengetahui kondisi riil ketersediaan barang di pasar.

“Pemerintah tidak tahu dengan persis ketersediaan barang di pasar. Hanya terima laporan dari bawahan yang mungkin ABS (asal bapak senang),” ujarnya saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Senin (1/1).

Dia melanjutkan, naiknya harga pangan tidak akan terjadi jika data dan fakta cocok. Selain itu, cuaca bukanlah faktor utama dari fenomena kenaikan harga pangan di akhir 2017.

“Saya lihat barang-barang hanya dibanjiri saat menteri datang. Pasar yang dikunjungi sudah direkayasa,” tuturnya.

Dia mencontohkan, untuk komoditas beras dengan harga Rp 7.300 yang diminta pemerintah untuk dijual kembali Rp 7.900 sulit didapat. “Beras ada tidak barangnya? Katanya mau swasembada pangan? Beras Rp 7.300 tidak ada. Beli 5 ton saja tidak ada.”

Dia juga mengingatkan tim satgas pangan untuk benar-benar menindak pedagang nakal jika memang ditemukan. “Pedagang nakal, kan sudah ada aturan, kenapa tidak ditangkap? Kan ada satgas pangan. Harusnya menjadi solusi,” tandasnya.

Masyarakat kencangkan pinggang

Kenaikan ini tidak hanya dikeluhkan pedagang karena menurunnya pendapatan, tapi juga oleh pembeli. Seperti seorang warga Tebet, Diah (33), menuturkan kenaikan harga pokok ini terasa berat. Sebab, dia mesti mengencangkan ikat pinggangnya agar cukup membeli kebutuhan rumah tangganya.

“Iya sekarang semua pada mahal, telur yang tadinya Rp 22.000 per Kg jadi Rp 28.000, itu kerasa banget. Harga naik tapi kan uang belanja saya tetep segitu,” ungkapnya saat ditemui di Pasar Tebet, Jakarta, Senin (1/1).

Meski begitu, ibu satu anak ini tetap membeli kebutuhan tersebut. Saat ini dia hanya mengatur strategi dengan uang belanja normal tetap bisa membeli kebutuhan yang naik.

“Saya paling sedikit kurangi saja. Misalnya cabai biasa lima saya pakai 3 atau 4. Ya pinter-pinter ngatur aja lah,” ucapnya.

Senada dengan Diah, warga Tebet lannya, Lina (35) juga mengeluh dua minggu ini kebutuhan pokok naik. Terutama cabai dan daging ayam.

“Anak saya kan suka banget makan sama daging ayam, kalau terus naik gini ya kerasa juga di kantong,” ujarnya.

Keduanya berharap di 2018 ini kebutuhan pokok tidak ada lagi kenaikan harga. Karena kenaikan ini dinilai tidak hanya memberatkan pedagang tapi juga pembeli. (Zainab/merdeka.com)

SHARE THIS: