Tahun 2018 Diprediksi Adanya Indikasi Krisis Ekonomi Siklus 10 Tahunan
Posted by Aktual Press on 1st January 2018
| 257 views
(blog.davestpay.com)

AktualPress.com—Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 diprediksikan akan mengalami lonjakan meskipun menghadapi tahun politik dan indikasi krisis ekonomi 10 tahunan  seperti yang pernah terjadi pada 1998 dan 2008.

Pemerintah pun menargetkan pada 2018 pertumbuhan ekonomi 2018 mencapai 5,4 persen atau meningkat 0,3 persen dari target 2017 sebesar 5,1 persen.

Menurut peneliti dari Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, angka yang ditargetkan oleh pemerintah terlalu tinggi pasalnya pertumbuhan ekonomi tahun 2017 stagnant atau tidak melaju derastis.

“Untuk target pertumbuhan ekonomi terlau tinggi 5,4 persen, sedangkan 2017 ini targetnya 5,1 persen nah sekarang masih 5,01 persen  kalau dilihat dari capaian sekarang sih harusnya targetnya 5,1 persen,” ungkap Bhima kepada Tribunnews.com, Rabu (27/12/2017).

 Terlebih dengan digelarnya pemilihan kepala daerah (PILKADA) serempak di 171 daerah saat tahun 2018 para investor asing diprediksikan lebih memilih ‘wait and see’ hingga pilkada selesai.

Meskipun investor asing menurun tetapi investor dari dalam negeri diperkirakan akan melonjak.

“Terpengaruh pilkada iklim investasi didominasi investor domestik, dan investasi juga tidak akan mengalami lonjakan yang signifikan di tahun 2018,” ungkap Bhima.

Sementara itu Bhima menuturkan dengan adanya Pilkada belanja negara diperkirakan akan meningkat daya beli negara.

Terlebih selain Pilkada pada tahun 2018 Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan besar seperti Asian Games 2018 dan International Monitory Fund (IMF) 2018.

Maka pemerintah pun diharapkan berhati-hati dalam menentukan keputusan dibidang ekonomi terutama soal pajak untuk menjaga iklim usaha.

Kemudian ekspor barang-barang jadi juga disarankan agar ditingkatkan karena memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

“Agar lebih kondusif menjaga stabilitas keamanan itu penting dengan mengoptimalkan ekspor barang jadi karena nilai tambahnya bagus dan infrastruktur juga harus makin tumbuh optimal, jadi percepatan konektivitas bukan cuma orang tapi juga barang,” ungkap Bhima.

 Sedangkan mengenai siklus krisis 10 tahunan, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Sri Soelistyowati menyebutkan tidak akan terjadi.

Indonesia dan negara dengan pengaruh perekonomian terbesar di dunia atau G20 disebutkan telah memiliki program-program agar tidak terjadi krisis ekonomi pada tahun 2018.

 “Perlu saya jabarkan, krisis ekonomi membuat negara G20 itu aware, sehingga di G20 sepakat menyusun data gap inisiatif jadi sedang menyusun yang namaya sectoral account dan balancing,” ujar Sri Soelistyowati saat ditemui beberapa waktu lalu.

Sri Soelistyowati menyebutkan dari sektor-sektor yang dapat menimbulkan krisis seperti pembangunan ekonomi, laju inflasi, maupun obligasi Indonesia dinilai aman dari indikasi krisis.

Namun yang perlu diwaspadai adalah kebijakan ekonomi negara lain, karena banyaknya kerjasama ekonomi yang dilakukan Indonesia dengan berbagai negara.

“Kalau negara besar meberikan shock ya kita juga terpengaruh tapi saat 2008 krisis melanda Indonesia masih bertahan. Saya pikir akan seperti itu karena pemerintah kan dari awal selalu memonitor,” pungkas Sri Soelistyowati. (Zainab/tribunnews.com)

SHARE THIS: