Pesona Laki-laki Bergelar “Raja Tanpa Mahkota”
Posted by Lestari on 11th January 2018
| 15 views

AktualPress.com – Dua tahun lalu, tepatnya pada 9 April 2015, sebuah film tentang ‘Orang Besar’ bergelar Guru Bangsa dirilis dan tayang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Saya pun tak mau ketinggalan cerita dan segera bergegas menuju bioskop terdekat. Sebagai seorang penikmat sejarah—khususnya sejarah para tokoh bangsa—menyimak cerita perjalanan tokoh yang satu ini, merupakan kewajiban. Bahkan bila perlu, mengurangi jatah makan pun saya rela.

Melalui film ini, masyarakat diperkenalkan dengan sosok manusia berkumis tebal dan kerapkali menggunakan blankon di atas kepalanya. Dengan melihatnya saja, orang pasti tahu bahwa laki-laki yang satu ini bukanlah manusia biasa. Memang, ungkapan semacam itu tidak terlalu dilebih-lebihkan. Sebab, semasa hidupnya, laki-laki ini telah disebut oleh Belanda sebagai raja Jawa tanpa mahkota. Oleh rakyatnya ia dikenal sebagai Herucokro (sang juru selamat), sementara di dalam buku-buku sejarah ia disebut dengan panggilan H.O.S Tjokroaminoto atau Guru Para Pendiri Bangsa. Gelar Raden Mas, sebagai bukti bahwa dirinya keturunan berdarah biru, ia buang jauh-jauh. Bagi Tjokro, gelar semacam itu merupakan penghinaan atas harkat dan martabat manusia. Sebab, tidak seharusnya kemuliaan manusia itu diukur melalui gelar dan keturunannya. Bukankah pandangan seperti ini serupa dengan ajaran Nabi Muhammad Saw (Manusia utama dalam Islam) yang seumur hidupnya tidak pernah membeda-bedakan antara budak dan tuan, antara si fakir dan si hartawan?

Penyematan gelar Guru Bangsa kepada Tjokroaminoto memang memiliki alasan yang sangat kuat. Pasalnya, dari tangan beliau lah, para tokoh bangsa seperti Soekarno, Hamka, Semaon, dan yang lainnya lahir. Bukan dalam arti ayah dan anak, melainkan guru dan murid. Kelak murid-muridnya inilah yang mengisi daftar para tokoh nasional Bangsa Indonesia. Tjokro adalah sosok yang terbuka, berpandangan luas, dan tidak anti terhadap suatu pemikiran atau pun golongan tertentu. Ia suka menerima kebenaran yang datang dari mana saja. Lagi-lagi, terlihat kesamaan antara Tjokro dengan salah satu figur utama dalam sejarah Islam, yaitu Sayyidina Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah Saw. Semasa hidupnya, Ali pernah berpesan kepada orang-orang di sekitarnya:

Lihatlah apa yang dibicarakan, bukan siapa yang berbicara.”

Tjokro adalah tokoh besar yang hidup layaknya orang biasa. Di Surabaya ia dan keluarga menempati sebuah rumah di Gang Peneleh VII. Meski pengaruhnya terbentang di seluruh pulau jawa dan sebagian pulau Sumatra, hidupnya tidaklah bergelimang harta, seperti para politisi saat ini. Bahkan, beberapa kamar rumahnya pun disewakan untuk meringankan kebutuhan hidup. Soekarno (Presiden Pertama RI yang berhaluan nasionalis), Semaun (Ketua PKI), dan Kartosoewirjo (Penggagas gerakan Darul Islam/NII), adalah contoh orang-orang yang pernah “ngekos”  di rumah Tjokro. Di rumah Tjokro, para pemuda itu tidak hanya hidup dan tinggal, tetapi juga belajar dan memperkaya wawasan melalui buku-buku yang tersimpan atau pun diskusi-diskusi Tjokro dengan para tokoh politik lainnya.

Tjokro adalah sosok yang terbuka dan berwawasan luas. Ia tidak pernah melarang siapa saja, termasuk para pemuda, untuk mempelajari apa pun. Bahkan, buku-buku karya tokoh-tokoh komunis seperti Karl Marx dan Friedrich Engels tersedia dan dinikmati oleh para pemuda itu. Andai, Tjokro adalah tokoh yang berpikiran eksklusif dan suka menyalahkan pandangan orang lain, kira-kira apa yang akan terjadi? Mungkin saja dia tidak akan dihormati oleh banyak orang kecuali oleh golongan tertentu saja, atau mungkin murid-muridnya seperti Soekarno akan tetap menjadi rakyat biasa, dan tak akan pernah menghantarkan Indonesia menuju kemerdekaan serta menjadi presiden RI.

Tjokro tetaplah Tjokro. Ia telah menentukan pilihannya untuk menjadi pemimpin yang berwawasan luas dan toleran terhadap segala perbedaan. Akibatnya, ia berhasil menyatukan berbagai macam suku dan watak orang-orang Indonesia yang beragam dalam satu perhimpunan bernama Sarekat Islam. Ini adalah warisan yang diberikan Tjokro untuk kita, para pemuda, para generasi penerus bangsa Indonesia. Toleransi dan tenggang rasa merupakan resep rahasia tergabungnya berbagai suku dan agama menjadi satu bangsa bernama Indonesia. Tapi sayang, resep rahasia warisan Tjokro secara perlahan mulai dilupakan dan diganti dengan resep lain yang entah datangnya dari siapa dan belantara mana. Toleransi kini hanya tinggal basa-basi penghias bibir di meja-meja diskusi, tetapi tidak dipraktekkan oleh rakyat di seluruh penjuru negeri. Buktinya, masih ada orang-orang yang tega menyakiti sesamanya karena berbeda agama, keyakinan, pemikiran, suku, dan golongan. Padahal tidak ada yang salah dengan perbedaan. Justru perbedaan itu indah jika dipandang dengan kacamata yang positif.

“Jika toleransi adalah modal utama terbentuknya bangsa Indonesia, maka toleransi juga yang akan menjadi “lem” perekat utuhnya bangsa Indonesia kini dan nanti.”

Seorang teman pernah memberikan ilustrasi sederhana tentang perbedaan dan keberagaman melalui kue-kue yang tersaji di rumah-rumah saat hari raya. Bayangkan reaksi anda jika bertamu ke sebuah rumah yang hanya menyajikan satu jenis kue saja? Bandingkan jika kue-kue itu tersaji dalam bentuknya yang berbeda-beda dan beragam jenisnya, maka pasti siapa pun—tak terkecuali saya—akan suka melihat dan segera ingin menikmati kue-kue tersebut. (AL)

SHARE THIS: