Kementrian Kelautan Bantah Tudingan Ekspor Ikan Turun
Posted by @Redaksi on 16th January 2018
| 65 views

AktualPress.com – Dua Menteri yang mengurusi laut Indonesia tidak akur. Tak hanya mengkritik kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti yang tegas menenggelamkan kapal pencuri ikan oleh kapal asing di laut Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan juga menuding di bawah KKP, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) perikanan justru turun dan ekspor ikan justru rendah.

Namun tudingan Luhut ini dibantah keras oleh Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementrian Kelautan, M. Zulficar Mochtar. Dalam acara Catatan Awal Tahun Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan 2018, Zulficar menyebut bahwa PDB perikanan dan ekspor justru ikan mengalami kenaikan.

“Tidak benar. Itu salah data,” ujar Zulficar, Rabu 10 Januari. “PDB ikan naik. Memang sempat turun, tapi sudah naik lagi.”

Nilai ekspor ikan pada 2018 sendiri ujar Zulficar mencapai 5,0 Miliar Dolar. Ia menyebutkan justru 2018 ini pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) perikanan justru mengalami kenaikan sebesar 11 persen. Produksi ikan mencapai 33.53 juta ton, perikanan tangkap 9,45 juta ton, perikanan budidaya 24,08 juta ton: 7,91 juta ton ikan dan 16,17 juta ton rumput laut.

Namun meski mengalami kenaikan, anehnya ikan-ikan laut yang ditangkap masih belum banyak dinikmati masyarakat. Menu ikan laut di warung-warung makan, kaki lima, katering nyaris tak berubah.

Menanggapi hal ini, Zulficar menyebutkan, penyebabnya karena musim yang berubah-ubah. Ketika musim baik, ujarnya, ikan banyak, namun ketika musim buruk ikan berkurang. Sehingga tidak tidak dinikmati oleh masyarakat.

Zulficar juga menyebutkan penyebab lainnya karena nelayan atau perusahaan yang mengambil ikan sudah memiliki rantai logistik penyebaran ikan yang tak langsung mendistribusikan ikan ke masyarakat. “Banyak yang ikannya sudah ada yang beli,” ujar Zulficar. “Ada yang dijual ke luar negeri.”

Namun menurut Zulfikar, hal itu tak berarti ikan laut tidak dinikmati masyarakat. Ia menyebutkan naiknya konsumsi ikan di masyarakat bisa dilihat dari jumlah konsumsi ikan per kapita yang dulunya 36 kilogram per kapita sekarang sudah 48 kilogram per kapita. “Jadi ada peningkatan 10-11 kilogram per orang.”

Tenggelamkan Kapal Untuk Proteksi Laut Indonesia

Kebijakan Menteri Susi yang juga menjadi banyak sorotan dan dikritik oleh Luhut adalah ketegasan Susi menenggelamkan kapal-kapal asing pencuri ikan. Tak hanya Luhut, Wakil Presiden Jusuf Kalla pun menganggap peledakan kapal ini berlebihan, ia menganjurkan agar kapal tersebut lebih baik dilelang atau dimanfaatkan.

Menjawab hal ini, Zulficar menjelaskan sebenarnya Kementrian Kelautan sudah melakukannya. Kapal-kapal asing 30 GT yang disita sudah mereka berikan ke beberapa pemda, perguruan tinggi dan nelayan. Namun mereka tidak bisa mengoperasikannya. “Makanya yang kita berikan itu mayoritas yang 5 GT, 10 GT,” jelasnya.

Kapal-kapal besar bertenaga 30 GT atau lebih pun kemudian putuskan untuk ditenggelamkan untuk memberikan efek jera pada para pencuri ikan asing. KKP mengklaim kebijakan ini sangat efektif sebagai langkah deterrent pencurian ikan. Hasil Penelitian Badan Litbang KP dengan University of California Santa Barbara (UCSB) mencatat, kebijakan ini mengurangi upaya penangkapan ikan sebesar 35 persen.

KKP sendiri tidak melakukan lelang kapal sitaan berukuran besar karena dinilai nanti akan kembali dibeli oleh pemilik kapal dan tak ada efek jera. Hal ini juga menurut Zulficar sekaligus untuk mendorong industri kapal dalam negeri.

Lebih jauh, Zulficar menyebutkan 90 ikan di dunia itu sudah overfishing sehinga semua negara itu sudah melindungi lautnya dan melakukan invansi ke laut lain. Hal ini sudah dilakukan oleh Jepang, Korea dan Cina. Sehingga upaya proteksi laut Indonesia dipandang sangat krusial.

Kementrian Kelautan juga mencatat, tipikal nelayan indonesia lebih banyak beroperasi di wilayah karang laut Indonesia, tidak banyak ke luar. Berbeda dengan negara lain seperti Cina, Korea, Jepang yang ekspansif. “Kalau kita tidak protektif di sini, nanti kita justru habis di situ.”

Dengan kebijakan ini, Kementrian Kelautan memproyeksikan biomassa ikan akan meningkat 224 persen, hasil tangkapan meningkat 100 persen, dan keuntungan ekonomi mencapai 3,7 Milyar dollar. Dan bila dilakukan secara global, pada 2050, biomassa ikan meningkat mencapai 619 juta metrik ton, tangkapan 16 juta metrik ton, dan keuntungan perikanan USD 53 milyar. (Joko)

SHARE THIS: