Menapaki Teladan Beragama Para Pendahulu Kita
Posted by Lestari on 16th January 2018
| 203 views

AktualPress.com – Menyingkirkan Tuhan dari kehidupan masyarakat Indonesia merupakan tugas yang nyaris mustahil. Tuhan dan percaya dengan sesuatu yang lebih berkuasa di atas manusia telah menjadi warisan rakyat Indonesia sejak zaman purba, sejak wilayah Nusantara ini masih dikuasai oleh para raja.  Hanya saja, cara bertuhan masyarakat Nusantara ditempuh dengan cara yang beragam. Di masa-masa awal, sebelum kedatangan ajaran Hindu-Budha kisaran abad ke-3 dan ke-4, masyarakat Nusantara menganut keyakinan animisme dan dinamisme. Sebuah kepercayaan yang meyakini bahwa segala sesuatu itu memiliki jiwa dan roh, termasuk alam semesta. Menyusul kemudian agama Islam yang diperkirakan datang ke Nusantara pada abad ke-7 Masehi melalui perdagangan. Setelah itu, datanglah ajaran Kristen yang dibawa oleh para penjajah Portugis dan Belanda. Berbagai ajaran keagamaan yang datang itu kemudian mempengaruhi keyakinan masyarakat setempat. Sebagian mereka berpindah dari keyakinan lama, yaitu animisme dan dinamisme, menuju ajaran-ajaran baru yang ditawarkan, seperti Hindu-Budha, Islam, atau pun Kristen. Sebagian lagi ada yang tetap mempertahankan ajaran leluhur mereka serta enggan menerima pembaruan ajaran. Tetapi sebagian ada juga yang mencoba memadukan ajaran-ajaran lama dengan ajaran-ajaran baru yang datang. Contoh yang terakhir dapat kita temukan melalui cara beragama masyarakat Islam pelosok. Di satu sisi, mereka tetap menjalankan shalat dan mengaji sebagaimana dianjurkan oleh agama Islam, tetapi di sisi lain mereka juga tetap memberikan sesajen kepada alam yang mereka anggap memiliki roh dan jiwa.

Berdasarkan atas latar belakang yang begitu heterogen inilah Indonesia lahir. Para tokoh bangsa dididik dan dibesarkan di bawah payung keberagaman. Mereka terbiasa hidup dengan perbedaan. Tidak hanya agama, watak, karakter, dan bahasa pun kerap berbeda. Di pulau Jawa saja, kita bisa menemukan banyak perbedaan. Dari sisi agama, enam keyakinan yang diakui negara seperti Islam, Protestan, Katolik, Konghuchu, Budha, Hindu, dengan mudah kita temukan. Belum lagi setiap agama memiliki cabang di bawahnya, seumpama NU dan Muhammadiyah dalam Islam. Begitu juga dengan agama lainnya. Ini baru dari aspek keyakinan. Dari aspek watak dan karakter, Jawa Tengah cenderung halus, sementara jawa Timur cenderung lebih kasar. Aspek Bahasa pun begitu. Sangat kaya dengan keberagaman.

Kekayanan pluralitas yang luar biasa ini meniscayakan adanya karakter toleran, agar gesekan antara setiap penganut agama dan golongan tidak terjadi. Karakter toleran inilah yang dimiliki serta di ajarkan oleh para pendahulu Kita.

Mohammad Hatta, seorang tokoh besar yang terlibat aktif dalam pembentukan negara Indonesia sekaligus wakil Presiden Soekarno, mengatakan bahwa sila pertama pancasila yang berbunyi, “Ketuhanan yang Maha Esa,” itu bisa berarti bahwa setiap manusia Indonesia mesti menyadari bahwa dirinya adalah makhluk Tuhan yang harus menghargai hubungan antara manusia dan kemanusiaan, serta tidak membangun sekat-sekat antar golongan akibat perbedaan. Lebih lengkapnya, ia mengatakan:

“Masing-masing golongan bisa memahami arti Ketuhanan Yang Maha Esa itu menurut paham agamanya. Tetapi nyatalah bahwa inti dari Ketuhanan Yang Maha Esa itu ialah penghargaan manusia sebagai makhluk Tuhan. Jikalau di antara manusia dengan manusia tidak ada harga menghargai, maka tidak bisa dicapai suatu susunan dunia. Di antara manusia ada yang kaya ada yang miskin, ada yang berbeda kecakapannya, ada yang bodoh ada yang pintar, tetapi sebagai makhluk Tuhan ia dipandang sama (Hatta, 1977).

Meskipun Hatta terlahir dari keluarga yang religius, ia sadar betul bahwa manusia tidak semestinya mengedepankan egoisme kelompok atau pun keyakinan. Hal yang perlu ditekankan agar bangsa Indonesia bisa maju adalah etika saling menghargai dan menghormati segenap perbedaan yang ada.

Tidak hanya Hatta, Presiden Soekarno, sosok yang bahkan suaranya saja sudah dihapal betul oleh para pedagang kaki lima—sebuah bukti bahwa beliau adalah Presiden yang paling merakyat—itu  pun turut menganjurkan hal serupa. Ia mengatakan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamirkan atas dasar keyakinan akan terbentunya suatu wadah bagi masyarakat yang beraneka agama, suku, serta adat istiadat.

“Aku ingin membentuk satu wadah yang tidak retak, yang utuh, yang mau menerima semua masyarakat Indonesia yang beraneka itu dan yang masyarakat Indonesia mau duduk pula di dalamnya, yang diterima oleh saudara-saudara beragama Islam, yang beragama Kristen Katolik, yang beragama Kristen Protestan, yang beragama Hindu Bali, dan saudara-saudara yang beragama lain, yang bisa diterima oleh saudara-saudara yang ada istiadatnya begitu…” Ungkap Soekarno. (Soekarno, 2013: 43)

Ketegasan Soekarno tentang keberagaman Indonesia ini pun semakin dipertegas oleh Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, anak sulung K.H Wahid Hasyim, sekaligus cucu Hadratusy Syaikh Hasyim Asyarie—pendiri oraganisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdhatul Ulama—yang mengatakan bahwa keberadaan para penganut agama dijamin oleh UUD dan negara tidak boleh membeda-bedakan perlakuannya terhadap kelompok atau golongan agama tertentu saja. “Agama-agama dan keperayaan harus diperlakukan sama di muka Undang-undang. Adapun nanti di akhirat, itu urusanya Gusti Allah,” ucap Gus Dur. Karena hal itu, Gus Dur mengingatkan agar mesyarakat Indonesia tidak menciptakan hirarki tatanan masyarakat kelas satu, kelas dua, dan seterusnya berdasarkan perbedaan agama, suku, dan adat istiadat, berbeda paham, dan pemikiran.

Kita tidak bisa menepis bahwa pluralitas yang kini telah ada di Indonesia merupakan jaminan UUD yang telah dirumuskan oleh para pendahulu kita. Oleh sebab itu, jika kini dan nanti, kita bertemu dengan kelompok tertentu yang mencoba untuk intoleran terhadap perbedaan dan keberagaman, maka sudah dipastikan bahwa kelompok yang bersangkutan telah menyimpang dari pesan-pesan serta warisan para pendiri bangsa Indonesia yang tercermin melalui Undang-undang Dasar 1945. (AL)

SHARE THIS: