Polemik Piagam Jakarta Tak Perlu Runtuhkan Toleransi Kita
Posted by Lestari on 16th January 2018
| 114 views

AktualPress.com – Memang sejarah berdirinya bangsa Indonesia pernah diisi oleh perseteruan seputar tujuh kata dalam Piagam Jakarta (meminjam Bahasa Mohammad Yamin, sebab oleh Soekarno naskah serupa diberi nama Mukaddimah, dan oleh Soekiman Wirjosandjojo diberi nama “Gentlemen’s Agreement”.). Tujuh kata yang dimaksud merupakan anak kalimat dari kata “Ketuhanan” yang kini telah disambung menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sebelumnya, kata “Yang Maha Esa” itu belum ada, dan kata ketuhanan itu dilanjutkan dengan tujuh kata yang berbunyi “ Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Tujuh Kata dalam Piagam Jakarta inilah yang dikemudian hari, oleh Habib Rizieq Shihab—Imam besar FPI (Front Pembela islam)—coba diisukan kembali tetapi dengan membawa semangat superioritas umat Islam di atas agama-agama selainnya. Tapi usulan Habib Rizieq Shihab beserta kolega dan pendukungnya tidak disambut oleh mayoritas rakyat Indonesia, khususnya umat Muslim. Sebab, masyarakat Muslim menyadari betul bahwa kebijaksanaan para pendahulu untuk menghapus tujuh kata itu merupakan kebijaksanaan yang dibangun berdasarkan prinsip Islam agama rahmatan lil alamin.

Jika dilihat secara baik, benar bahwa penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta itu memang keputusan yang tepat. Sebab, Indonesia tidak dibangun berdasarkan kepentingan agama Islam, walaupun mayoritas penduduknya adalah Muslim. Indonesia dibangun berdasarkan cita-cita luhur untuk menyatukan segenap elemen bangsa yang berbeda-beda agar bergabung dan membentuk suatu wadah berupa bangsa dan negara.

Seperti yang dikatakan oleh Yudi Latief bahwa semangat pencantuman tujuh kata kontroversial dalam Piagam Jakarta itu didasarkan atas semangat politik identitas yang sempat terbawa oleh sebagian politisi terdahulu. Jika politik identitas itu yang dipertahankan, maka indonesia pasti sudah terpecah dan larut dalam konflik, seperti terpecahnya India dan Pakistan.

Bangkitnya semangat baru yang mencoba untuk mengangkat kembali gaung lama, seperti yang dilakukan oleh FPI itu, merupakan alarm yang mengingatkan kita bahwa politik identitas yang menyimpang dari semangat berdirinya bangsa Indonesia sudah mulai muncul. Kita harus berada pada sikap yang telah diwariskan oleh mayoritas pendahulu, dan melawan sikap-sikap yang mencoba untuk menggemboskan bangsa Indonesia itu. Apabila tidak demikian, maka sia-sialah pengorbanan dan warisan yang telah diberikan kepada kita untuk tetap merawat kebhinekaan Indonesia, dulu, kini, dan nanti. (AL)

SHARE THIS: