Meniru Orang “Kampung” Memperlakukan Alam
Posted by Lestari on 22nd January 2018
| 394 views

AktualPress.com – Kata kampung memang menjadi kata yang terkesan negative, bodoh, tertinggal dari peradaban, dan memalukan. Contohnya, jika Anda tidak dapat mengikuti perkembangan tekhnolagi atau minimal tidak mampu mengoperasikan tekhnologi yang ada, semisal laptop, gadget, dan serangkaian tekhnologi lainnya (Gaptek), maka Anda akan disebut kampungan. Padahal jika dilihat secara bijak, kenyataannya tidak seperti itu. Ada banyak sekali hal berharga yang bisa kita pelajari dari kampung dan orang-orang kampung, yang oleh sebagian orang mungkin disebut kampungan. Satu aspek saja, lihatlah bagaimana cara orang kampung memperlakukan dan mengelola alam. Setidaknya, cara-cara arif dalam melihat dan memperlakukan alam ini dicontohkan oleh santri dari Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA). Para santri itu pernah berhasil memanfaatkan limbah kotoran menjadi energi terbarukan yang dapat digunakan untuk masyarakat sekitar dan tentu saja ramah lingkungan.

Caranya, para santri itu menampung kotoran para santri di dalam dua tabung besar. Melalui pengelolaan sederhana, kotoran itu pun diubah menjadi gas dan kemudian disalurkan ke tungku. Fungsinya hampir sama dengan gas elpiji yang dipasarkan oleh pemerintah. Hanya saja, sumbernya berbeda. Kreatifitas para santri dalam mengelola limbah tentu saja mendatangkan banyak manfaat, tidak saja untuk lingkungan pesantren, tetapi juga untuk masyarakat di sekitar pesantren. Setidaknya dengan cara ini, masyarakat tidak perlu dirisaukan dengan limbah manusia—yang entah jika tidak dimanfaatkan demikian—yang bisa jadi akan mencemari lingkungan.

Jika direnungkan, setidaknya ada empat keuntungan yang dihasilkan dari pengelolaan limbah ala kaum santri di atas.

Pertama, pengelolaan limbah ini bisa menjadi alternatif bagi kita untuk memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Selain itu, dengan adanya gagasan ini, maka persoalan yang timbul akibat kehadiran limbah bisa teratasi.

Kedua, Pengelolan limbah juga bisa menjadi solusi atas distribusi gas elpiji atau minyak tanah yang belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Terlebih dengan harga gas pemerintah yang terus meroket setiap saat. Jadi, masyarakat Indonesia bisa tetap hidup “menghidupkan dapurnya” tanpa harus bergantung pada gas atau pun minyak tanah bantuan pemerintah.

Ketiga, adanya pengelolaan limbah ini sekaligus menjadi media bagi santri untuk memberdayakan kemampuan mereka dalam memanfaatkan sesuatu yang tampak kurang berharga menjadi sesuatu yang berharga.

Keempat, biogas buatan para santri ini bisa menjadi ajang kampanye edukatif seiring dengan pemanasan global akibat naiknya gas rumah kaca di atmosfir.

Ternyata contoh di atas menjadi bukti bagi kita bahwa meski terkesan tradisional dan kampungan, ternyata para para santri itu juga bisa melakukan hal-hal kreatif yang bahkan memberikan efek positif bagi alam dan lingkungan sekitar. (AL)

SHARE THIS: