Perlukah Melawan Kapitalisme Bangsa Sendiri?
Posted by Lestari on 24th January 2018
| 182 views

AktualPress.com – Dalam artikelnya yang termuat di dalam harian Pikiran Rakyat ia menegaskan bahwa sebagai seorang nasionalis, sekaligus mencintai kemanusiaan, sudah seharusnya kita melawan kapitalisme dimana pun dan dalam bentuk apapun, tak terkecuali di Indonesia. Terkait hal ini, Soekarno menjawab:

“Ya, kita juga harus anti kepada kapitalisme bangsa sendiri itu! Kita harus juga anti isme yang ikut menyengsarakan marhaen itu. Siapa yang mengetahui keadaan kaum buruh di industri batik, rokok kretek, dan lain-lain dari bangsa sendiri, dimana saya sering melihat upah buruh yang kadang-kadang hanya 10 sampai 12 sen sehari—siapa mengetahui keadaan perburuhan yang sangat buruk di industri-industri bangsa sendiri itu—ia mustilah juga menggoyangkan kepala dan dapat rasa-kesedihan melihat buahnya cara produksi yang tak adil itu. Pergilah ke Mataram, pergilah ke Lawean, Solo, pergilah ke Kudus, Pergilah ke Tulung Agung, pergilah ke Blitar—dan orang akan menyaksikan sendiri “rahmat-rahmatnya”cara produksi itu”.

Mengapa Soekarno sangat benci pada kapitalisme, sekalipun itu dikerjakan oleh anak bangsanya sendiri? Alasannya adalah karena kapitalisme itu selalu berujung pada kesengsaraan rakyat di satu pihak dan kebahagian sebagian orang di pihak lain.

Memang, di masa-masa perjuangan, meski kapitalisme bangsa sendiri sudah ada dan berkembang di Indonesia dalam jumlah kecil, ia belum melakukan perlawanan terhadap kapitalisme bangsa sendiri. Sebab, menurut Soekarno, cara terbaik untuk melawan kapitalisme pada waktu itu  adalah dengan cara membangun gerakan nasional untuk mengalahkan Belanda. Menurut Soekarno, ada hal yang harus diutamakan dari perjuangan kelas—kelas buruh melawan pemilik modal—yaitu, perjuangan nasional untuk menyingkirkan mesin kapitalisme yang lebih besar, yaitu pemerintah Hindia Belanda.

Perlawanan melawan pemerintah Hindia Belanda harus diiringi dengan perjuangan untuk mendidik rakyat agar anti terhadap kapitalisme, sehingga dengan demikian, mereka pun enggan untuk menjadi kapitalis-kapitalis baru pasca runtuhnya kapitalisme besar yang dibawa pemerintah Belanda.

Tetapi godaan kapitalisme merupakan godaan kenikmatan duniawi yang sulit sekali dihindari oleh setiap manusia. Bagaimanapun Bung Karno telah mendidik anak-anak bangsa untuk benci terhadap kapitalisme, tetap saja benih-benih sistem yang menyengsarakan itu ada dan masih hidup di negeri ini, bahkan puluhan tahun setelah Indonesia merdeka. Ajaran-ajaran Bung Karno seperti angin segar sesaat yang hangat dibahas akal dan orang-orang idealis, tetapi rumit untuk dipraktekkan. Faktanya, umat manusia selalu hidup dengan hasrat untuk mendominasi dan mendapatkan pengakuan, serta lebih tinggi derajatnya dari manusia-manusia lainnya. Jadi, “Harus ada yang miskin, jika Anda ingin dianggap kaya” atau “harus ada yang hina jika Anda ingin dianggap mulia”. Bahkan, ketika segala kebutuhan pokok telah terpenuhi, selalu ada keinginan untuk mencari lebih, hingga pada akhirnya berujung pada ekspansi dan pemerasan terhadap keringat orang lain atas nama pemilik modal.

Tidak hanya Soekarno, betapapun para pemimpin dunia alam sejarahnya yang begitu panjang telah mencoba melawan sistem “zhalim” ini, kapitalisme tidak pernah mati. Ia tetap tumbuh dan terus ada di seluruh peradaban manusia. (AL/AM)

SHARE THIS: