Soekarno Dan Perlawanan Terhadap Kapitalisme
Posted by Lestari on 24th January 2018
| 222 views

AktualPress.com – Suatu ketika, saat Soekarno masih belum mengenal arti perlawanan terhadap penjajah Belanda dan di saat dirinya berada di rumah guru politiknya, H.O.S Tjokroaminoto di Surabaya, ia sempat mendengarkan obrolan antara Tjokro dan beberapa tokoh pergerakan lain, kalau tidak salah, satu di antara tokoh-tokoh yang hadir pada waktu itu bernama Alimin—seorang tokoh pergerakan yang dekat dengan pergerakan kaum kiri. Kebetulan topik yang dibahas waktu itu adalah seputar harta kekayaan Indonesia yang telah dikeruk oleh pemerintah Hindia Belanda. Para tokoh yang terlibat dalam diskusi waktu itu, termasuk Tjokroaminoto sangat menyayangkan betapa kekayaan rakyat Indonesia benar-benar telah terkeruk habis dan tenaga rakyatnya benar-benar terperas begitu keras. Bahkan, saking banyaknya, Belanda sampai berhasil melunasi hutang-hutangnya pasca perang, dan menghidupi kebutuhan perekonomian negara itu hingga berlebihan. Suatu kondisi yang amat mengarukan. Di Belanda orang hidup begitu nikmat, mewah, menikmati kekayaan. Sementara di Indonesia (saat itu masih bernama Hindia Belanda), orang-orang hidup serba kekurangan, makan seadanya. Padahal, seluruh kekayaan yang dimiliki Belanda pada waktu itu berasal dari Indonesia dan dikerjakan pula oleh orang Indonesia.

Ternyata diskusi tentang nasib rakyat dan kondisi masyarakat sekitar telah memicu Soekarno untuk mendalami persoalan ini dan turun untuk mengatasinya melalui jalur politik. Perjalanannya tentu saja tidak sesederhana itu. Selain aktif mendengarkan diskusi-diskusi singkat, Soekarno muda juga rajin membaca buku-buku yang tersedia di rumah Tjokroaminoto. Terutama buku-buku seputar perjuangan kelas, kaum buruh melawan pemilik perusahaan (kaum modal). Karena itu, terjadilah proses dialektika yang panjang dalam diri seorang Soekarno hingga pada akhirnya ia menyimpulkan bahwa apa yang terjadi di negerinya tidak jauh berbeda dengan apa yang menimpa rakyat kecil di negeri-negeri lainnya. Bedanya hanya satu, perjuangan kelas di negeri lain adalah perjungan melawan kapitalis-kapitalis dari bangsa sendiri, sementara di Hindia Belanda perjuangan kelas berarti perjuangan melawan pendudukan bangsa Asing (Belanda) di atas rakyat di seluruh Hindia Belanda. Semua kesengsaraan ini, menurut Soekarno berpangkal pada satu hal, yaitu kapitalisme. Atas dasar itu, ia pun berjuang melawan kapitalisme.

Kapitalisme Belanda berasal dari suatu hasrat perut yang tidak mampu terpenuhi di negeri Belanda. Di Belanda, mereka tidak memiliki kekayaan alam yang cukup untuk membuat hidup mereka nyaman. Atas dasar itu, mereka pun mencari makan di negara lain. Tetapi, mencari makan di negara lain tidak bisa dengan cara membeli dan memosisikan rakyat lokal sebagai penjual. Sebab, cara demikian walaupun cukup, masih belum bisa memuaskan nafsu serakah manusia. Atas dasar itu, mereka pun melakukan penjajahan dengan cara mempekerjakan rakyat, mengakuisisi lahan-lahan perkebunan, serta menikmati hasil sebanyak-banyaknya. Cara ini, memang akan menghasilkan keuntungan yang berlipat-lipat, tetapi bisa menyengsarakan kelompok tertentu. Inilah yang menjadi sifat dasar kapitalisme dan ini pulalah yang dilawan oleh Soekarno, serta para tokoh-tokoh pergerakan lain yang semasa dengannya. (AL/AM)

SHARE THIS: