Mendamaikan Antara Akal Dan Agama
Posted by Lestari on 26th January 2018
| 289 views

AktualPress.com — Pagi ini saya membaca sebuah artikel menarik yang dipublikasikan oleh New York Times. Menjadi menarik karena artikel ini mencoba untuk menampilkan hubungan yang harmonis antara akal dan ajaran-ajaran Kristen. Mungkin karena penulisnya, Peter Wehner, lahir dari latar belakang Kristen, maka konteks pembahasan ini menjadi pergulatan antara akal dan kekristenan. Saya katakan demikian karena persoalan yang sama juga dapat kita temukan dalam sejarah umat Islam. Artikel ini dibuka dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana aku bisa percaya bahwa keimanan (faith) itu lebih baik daripada keraguan (doubt)?”

Kata keimanan (faith) sesungguhnya dimiliki oleh semua agama. Semua agama, tak terkecuali Islam, mensyaratkan semua penganutnya untuk beriman. Perkara objek yang diimani itu bisa berbeda-beda. Di dalam Islam Sunni, ada enam objek yang harus diimani oleh umat Muslim. Keenam objek yang dimaksud itu tercantum dalam enam rukun Iman. Pertanyaannya, keberimanan yang dianggap beriman itu seperti apa. Apakah kita baru disebut beriman ketika meyakini sesuatu tanpa harus mengetahui? Pertanyaan pertama ini mengumpamakan kita seperti orang buta yang percaya pada ucapan seorang penunjuk jalan. Jika penunjuk jalan berkata “berjalanlah lurus ke depan”, maka kita akan berjalan ke depan mengikuti ucapan si penunjuk jalan, meski sebenarnya kita tidak mengetahui apakah jalan lurus itu bisa dilalui atau tidak, bahkan bisa jadi kita diarahkan ke dalam jurang yang mengundang resiko kematian.

Sebuah cerita menarik dalam penggalan artikel itu mengisahkan tentang Thomas, satu di antara 12 murid Jesus yang terkenal. Suatu ketika, murid-murid Jesus lainnya berkata kepada Thomas bahwa mereka melihat Tuhan. Merespon hal itu, Thomas menjawab: “Aku tidak akan percaya sampai aku benar-benar meletakkan jari-jariku di tangah Jesus dan menggenggamnya”. Beberapa Minggu kemudian Thomas pun berhasil menemukan Jesus, dan Jesus berkata kepadanya, “Letakkanlah jari-jarimu di tanganku dan genggamlah”. Thomas pun melakukan seperti apa yang ia inginkan, kemudian Jesus berkata,” Kamu beriman karena kamu telah melihatku; beruntunglah orang-orang yang tetap beriman padaku, meski mereka tak pernah bertemu dan melihatku”.

Pengakuan Jesus, seperti yang tertera dalam penggalan cerita di atas, seolah-olah memposisikan keberimanan yang sesungguhnya adalah keberimanan yang tidak disertai dengan akal dan rasionalitas. Jadi, antara Iman dan akal itu seperti dua hal yang saling berhadapan. Keimanan itu seperti sesuatu yang tidak dibangun di atas bukti-bukti empiris maupun rasional. Jika keimanan tidak dibangun di atas pembuktian, baik empiris ataupun rasional, berarti sama saja dengan mengatakan bahwa syarat utama keberimanan adalah dengan cara membunuh akal dan rasionalitas. Sebab, akal dan rasionalitas selalu akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti: “Mengapa aku harus beriman?” Bagaimana cara beriman yang seharusnya?” dan sederet pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Saya tidak begitu mengerti bagaimana Kristen memosisikan persoalan penyandingan antara agama dan akal ini, tetapi di dalam Islam, agama dan akal bisa berjalan beriringan, bahkan justru akan saling menguatkan. Al-Qur’an bahkan seringkali menganjurkan para pembacanya untuk memfungsikan akal sehat melalui kalimat “ afalā ta’qilūn” yang artinya apakah kamu tidak berpikir. Bahkan dalam salah satu ayat, kita juga bisa menemukan kata “tadabbur” yang artinya berkontemplasi atau berpikir secara mendalam. Tidak hanya berpikir biasa, oleh al-Qur’an, kita bahkan diperintahkan untuk berpikir secara mendalam tentang segala hal.

Seorang yang pada mulanya beriman, akan bertambah keimanannya apabila didukung dengan pembuktian-pembuktian yang ada. Maka dari itu, akal justru bisa berperan sebagai penguat keimanan seseorang. Kadar intelektualitas seseorang bisa menentukan seberapa besar derajat keimanan orang tersebut. Inilah yang menyebabkan keimanan itu bertingkat-tingkat, sesuai dengan kualitas pengimannya.

Keharmonisan antara akal dan agama baik juga digambarkan melalui ungkapan berikut ini:

“Agama tanpa akal beresiko turun kualitasnya menjadi takhayul, dan akal tanpa agama itu seperti membangun dunia tanpa jendela dan pintu” Jika agama tidak dikuatkan dengan pengetahuan, maka pengikut agama tersebut akan rentan sekali menurunkan kualitas agama dari yang seharusnya. Sementara akal jika tidak dilengkapi dengan agama akan menjadi sempit. (AL/AM)

SHARE THIS: