Kebakaran di Krukut Membesar Karena Hidran Macet
Posted by @Redaksi on 31st January 2018
| 52 views
AktualPress.com – Bau abu yang tak lagi menyengat dan puing-puing bangunan yang menghitam jadi arang menyambut saat memasuki wilayah RW 03 Kelurahan Krukut, Kecamatan Tamansari Jakarta Barat. Meski api sudah dipadamkan, di beberapa reruntuhan rumah, asap tipis sisa benda yang terbakar masih terlihat.
Kebakaran hebat menghanguskan 268 rumah warga dan membuat 1.137 jiwa kehilangan tempat tinggalnya pada dinihari pukul 02.00 WIB, Sabtu 27 Januari.  Tujuh Rukun Tangga ikut terbakar dalam insiden ini. Kebakaran terjadi di wilayah RT 007, RT 008, RT 11, RT 12, RT 13, RT 14 dan RT 15.
Warga yang kehilangan tempat tinggalnya pun untuk sementara tinggal di tenda-tenda darurat yang dipasang di pinggir kali. Untuk makan warga mendirikan dapur umum, di samping bantuan dari beberapa lembaga pemerintah seperti Dinas Sosial, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Kepolisian, serta bantuan dari masyarakat sipil lainnya.
Seorang warga yang diduga pelaku bernama Soni, telah diamankan oleh kepolisian dan hingga kini masih dalam proses penyelidikan. Lurah Krukut, Agus Setiawan menyebutkan, Soni membakar rumah usai cekcok dengan orangtuanya. Pria yang berprofesi sebagai pekerja ojek online ini juga dikabarkan ditinggalkan istrinya. Akibat frustasi, ia membakar rumah yang kemudian menjalar ke rumah lainnya.
Menurut anggota Kampung Siaga Bencana, Roby, kebakaran terjadi pukul 01.30 WIB. Warga pun melapor ke Pemadam Kebakaran dan 4 mobil pemadam kebakaran datang sekitar pukul 02.00 WIB, namun celakanya, keempat mobil pemadam tersebut tidak berisi air sehingga tak bisa langsung melakukan pencegahan api menjalar ke rumah lainnya.
“Ada satu hidran di sini, tapi macet. Sungai pun kering, tak ada air,” ujar Lurah Agus.
Akibat mobil pemadam tak ada air, kebakaran terus menjalari rumah warga yang rapat berhimpitan. Hingga akhirnya pada pukul 04.00 WIB, mobil pemadam kebakaran mengambil air dari Jl. Gajah Mada dan berhasil memadamkan api. Namun karena terpaut waktu sekitar 2 jam, 268 rumah pun menjadi puing dan arang.
“Masak mobil pemadam enggak ada airnya? Baru jam 4 tersambung air, tapi ya sudah habis kebakar rumah anak saya,” keluh seorang warga, Ratna. “Padahal rumah anak saya jauh dari sumber api.”
Namun Mulyanto Kepala Sesi Pengendali Operasi Damkar Jakarta Pusat menyebutkan, mobil pemadam datang bukan tanpa air, namun air di mobil pemadam sudah digunakan namun api terlalu besar dan belum bisa dipadamkan. Sebagian warga yang baru datang mengira mobil tak membawa air dan emosi. “Kita datang malah direcokin, dipukul, 5 anggota kita kena pukul,” ujar Mulyanto. “Tapi tidak sampai terluka.”
Warga emosi dan memukuli keempat mobil pemadam yang praktis hampir 2 jam tak berfungsi karena tak ada air untuk disiram ke api. Saat sedotan ditaruh di sungai yang kering, hanya lumpur dan sampah yang keluar.
Mulyanto mengatakan mereka menerima berita kebakaran jam 2 lebih, sekitar pukul 2.30 sampai di TKP api sudah besar karena bangunan semi permanen dan padat. Akses masuk pun terhalang karena banyak kendaraan parkir di pinggir jalanan kampung.
Namun Mulyanto mengakui mereka tidak menggunakan hidran yang ada di kampung Krukut karena macet dan jaraknya jauh. Selain itu, Mulyanto menyebutkan, hidran yang ada di sana menggunakan aliran air PAM, hanya untuk mengisi air saja, tekanannya kurang untuk menyemprot kebakaran yang membutuhkan 5-6 bar tekanan air.
Macetnya hidran, serta jaraknya yang jauh ini tentu patut disayangkan. Apalagi di perkampungan Krukut ini perumahan warga padat. Jika tak ada hidran yang bisa digunakan, potensi kebakaran besar bisa terulang lagi. Lurah Krukut Agus Setiawan pun menyatakan nantinya mereka akan meminta agar jumlah hidran ditambah dan dipasang di tengah perkampungan. “Nanti kita pasang hidran baru,” ujarnya.
Saat kebakaran, debit air di kali Krukut juga sedang surut sehingga tak bisa menyedot air untuk padamkan api. Damkar kemudian berkoordinasi untuk membuka pintu air, namun memakan waktu sekitar 1 jam hingga air sungai terisi air dan bisa disedot untuk padamkan api.
Kebakaran di Krukut ini bukan pertama kalinya. Seorang anggota Taruna Siaga Bencana yang juga warga Krukut, Zulfa  menyebut setidaknya ada 5 kebakaran di daerah tersebut dari 2015 – 2018. Kebakaran kali ini merupakan salah satu kebakaran terbesar dari 3 kebakaran besar pada 2015 di Pasar Krukut yang menghanguskan 100-an rumah dan pada 2016 di gang Pondok Dayu yang membakar 20 rumah.
Meski berkali mengalami kebakaran, ironisnya persiapan pencegahan kebakaran masih tersendat. Lurah Krukut, Agus Setiawan menyebut ke depan pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah untuk menambah jumlah hidran di beberapa titik agar bisa mencegah kebakaran meluas. (Joko)
SHARE THIS: