Surono Danu: Potret Peneliti Sejati
Posted by Lestari on 2nd February 2018
| 315 views

AktualPress.com – Surono Danu adalah peneliti di bidang pertanian. Ia fokus pada pengembangan dan pembuatan bibit padi yang unggul. Surono adalah pria kelahiran Cirebon, 1951. Pernah menjadi PNS di dinas Pertanian. Tetapi berhenti dan lebih memilih hidup sebagai masyarakat biasa. Kini, Surono tinggal di Lampung Tengah. Di sinilah Surono hidup dan kemudian mengembangkan penelitiannya selama bertahun-tahun, hingga penemuannya membuahkan hasil berupa bibit padi unggul bernama Sertani. Bibit padi temuan Surono ini ditemukan dengan cara memadukan beberapa bibit unggul yang ada. Kabarnya, bibit padi Sertani ini mampu menghasilkan beras berlipat-lipat jika dibandingkan dengan bibit-bibit padi lainnya, terutama bibit padi impor. Waktu penanaman hanya membutuhkan waktu 95 hari. Tak hanya itu, pohon padi Sertani ini juga memiliki antibodi yang membuatnya tahan dari terjangan hama, seperti tikus. Apabila batang padi digigit tikus sebagian, maka pohon padi dengan sendirinya akan memulihkan luka akibat gigitan tersebut dalam waktu 24 jam.

Penelitian Surono memang menggoncang jagat dunia pertanian Indonesia, bahkan dunia. Pernah suatu kali Surono diundang oleh pemerintah Filipina untuk membuktikan hasil penemuan tersebut. Alhasil, bibit padi Sertani pun berhasil mendapatkan pengakuan dari Filipina, Malaysia, Cina, Jepang, dan beberapa negara lainnya. Surono pernah mendapatkan tawaran dari negara lain, agar bersedia menjual bibit Sertani dengan harga 400 juta per gram. Mereka akan membeli empat gram bibit Sertani pada Surono, jika ia mau menjualnya. Tetapi, Surono menolak tawaran itu. Ia bersikukuh bahwa hasil penelitiannya tidak boleh dinikmati oleh pihak asing. Surono hanya ingin rakyat Indonesia yang menikmati hasil penelitiannya itu.

Menolak tawaran uang sebesar itu biasa bagi mereka yang telah memiliki banyak harta. Tetapi, Surono tidak sekaya itu. Ia adalah peneliti yang hidup dengan lahan secukupnya dan rumah bedek. Rumah itu ia sebut sebagai Istana dengan seribu jendela. Jendela yang dimaksud adalah celah lubang dalam dinding bedek rumahnya. “Jika hujan turun, air hujan pun ikut masuk di dalam rumah dan berteduh,” kelakar Surono diikuti gelak tawa.

Saya kagum pada Surono. Di tengah kesederhanaannya itu, ia mampu menghasilkan penemuan yang sangat berguna bagi manusia masa depan. Apalagi penelitian Surono ini dilakukan tanpa sponsor atau modal ratusan juta rupiah. Tak ada yang memodali Surono. Penelitian ini murni ia lakukan karena panggilan jiwa dan kesenangan. Mungkin saja Surono ingin menjadi manusia yang berguna bagi orang-orang di sekitarnya. Dalam bahasa B.J Habibie (Presiden kedua Indonesia) menjadi Mata Air untuk kehidupan. Surono berkeliling mencari bibit padi dari satu tempat ke tempat lain dan mengumpulkannya untuk diteliti dan dikembangkan. Mungkin saja desakan dari istri dan anak-anaknya untuk menjadi kaya itu ada. Tetapi tekad Surono berhasil meyakinkan keluarganya bahwa kaya itu tak melulu soal uang dan harta. Kita bisa menjadi kaya dengan cara bermanfaat untuk orang-orang sekitar. Hingga kini, Surono tetap hidup dalam kesederhanaan. Sambil terus melanjutkan penelitian-penelitiannya tentang pertanian. Semoga mental seorang peneliti seperti pak Surono dapat tertular pada peneliti-peneliti lainnya. (AL/AM)

SHARE THIS: