2018 Indonesia Resmi Jadi Pengimpor Gandum Terbesar di Dunia
Posted by @Redaksi on 28th February 2018
| 1209 views
Sumber: merahputih.com

AktualPress.com – Gandum mungkin akan menggantikan beras sebagai makanan pokok di Indonesia. Di saat konsumsi beras menurun 200-300 ribu ton per tahun, hanya dalam tempo dua tahun, impor gandum melonjak ke dari 21 persen menjadi 25,4 persen. Tahun ini, Indonesia resmi menjadi pengimpor gandum terbesar di dunia menyalip Mesir.

Sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman budayanya, Indonesia memiliki anekaragam makanan pokok lokal. Mulai umbi-umbian, sagu, sorgum, dan jagung, sejak zaman nenek-moyang menjadi makanan pokok selain padi. Sebelum tahun 60-an, konsumsi beras sangat kecil. Sebelum era 70-an, produksi beras pun hanya sekitar 50 persen produksi pangan saja. Namun sejak pemerintah makin menggenjot produksi beras, terutama pada era 80-an, beras pun menjadi makanan pokok dominan di bumi Nusantara.

Namun masa jaya beras sepertinya akan terganti. Pakar pertanian Andreas Dwi Santosa menyebutkan dalam beberapa tahun terakhir, konsumsi beras konsumsi terus menurun. “Per tahun turun 200-300 ribu ton,” ujar Dwi, Selasa 26 Februari.

Menurut Guru Besar Fakultas Pertanian Institute Pertanian Bogor ini, gandum perlahan-lahan menjadi sumber makanan pokok yang terus naik dari tahun ke tahun. Ia menjelaskan, gandum pertama masuk tahun 1960 saat Indonesia mengalami krisis pangan, Amerika Serikat di bawah payung Public Law 480 memberikan bantuan dalam bentuk tepung terigu. Sejak saat itulah Indonesia menjadi pengimpor gandum. Dan perlahan-lahan gandum pun menjadi makanan pokok kedua terbesar setelah beras.

Mulai tahun 1970-an, masyarakat Indonesia mulai diperkenalkan makanan-makanan berbasis terigu yang terbuat dari gandum. Impor gandum pun terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada 2018 ini. Badan Pusat Statistik dan Pusat Data Informasi Kementrian Pertanian mencatat, Indonesia tahun ini mengimpor gandum 11,2 juta ton gandum untuk tahun 2017. Lebih tinggi dari BPS dan Kementrian Pertanian Indonesia, Departemen Pertanian Amerika Serikat memprediksi tahun 2017-2018 ini Indonesia mengimpor gandum hingga 12,5 juta ton.

“Tahun ini Indonesia resmi menjadi pengimpor gandum terbesar di dunia,” tandas Dwi.

Berubahnya pola makan masyarakat menurut Dwi menjadi salah satu alasan kenapa gandum sekarang makin digandrungi. Menurutnya gencarnya iklan membuat banyak orang memandang mengkonsumsi makanan berbasis terigu itu lebih sehat, lebih modern dan lebih cepat. Ini terutama meningkat sejak dua tahun terakhir, konsumsi gandum melonjak pada 2015 hanya 21 persen menjadi 25,4 persen di 2017. “Pola pangan ini kan dibentuk, salah satunya oleh iklan.”

Ini diperparah, ujar Dwi, karena produksi beras stagnan. Sejak tahun 2000 produksi beras nyaris tidak berubah sementara populasi penduduk meningkat. Gandum pun tak ayal menjadi alternatif pangan pokok.

Akibatnya, konsumsi beras per tahun pun terus mengalami penurunan. Setidaknya per tahun konsumsi beras menurun dari 200 – 300 ribu ton beras digantikan gandum. “Padahal kan logikanya pertumbuhan penduduk meningkat mestinya konsumsi beras ikut meningkat.”

Dari 11,2 juta ton gandum ini, terdistribusi untuk konsumsi masyarakat dalam bentuk tepung terigu untuk industri pangan seperti mie dan roti pada 2017 mencapai di atas 8 juta ton. Sisanya, sekitar 3 juta ton menjadi bahan pangan ternak.

Sebelumnya, tutur Dwi tak pernah gandum dijadikan sebagai bahan pangan ternak. Namun tiba-tiba saja gandum dijadikan bahan pakan ternak hingga 3 juta ton. Hal ini menurutnya merupakan sebuah kejanggalan. Dwi menengarai gandum diubah menjadi pakan ternak ini terkait dengan program swasembada jagung.

Tahun 2015 Indonesia masih melakukan impor jagung hingga 3,6 juta ton. Namun pada 2016, impor jagung menurun menjadi 2,1 juta ton. Mulai 2017, Kementrian Pertanian bahkan berhasil tidak mengimpor jagung. Pada 14 Februari 2018 bahkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan mengimpor 57.650 ton jagung ke Filipina.

Namun demi mencapai ini, Kementrian Pertanian justru mengimpor gandum untuk pakan ternak. Impor jagung memang menurun hingga 2,1 juta ton, tapi impor gandum untuk pakan ternak naik hingga 3 juta ton. “Naiknya hampir 0,3 juta ton. Jadi sebenarnya malah minus. Jadi seolah-olah jagung ini swasembada, padahal diganti gandum.”

Naiknya impor gandum ini yang sangat berpotensi mengganti beras sebagai makanan pokok menurut Dwi sangat berbahaya bagi kedaulatan pangan Indonesia. Dwi mencontohkan bagaimana kebergantungan pada impor gandum di Arab memicu terjadinya Arab Spring pada 2011 lalu. Saat itu indeks rata-rata paangan yang didominasi gandum mencapai 240 yang artinya harga gandum dan pangan lainnya meningkat 2,4 kali lipat dari harga dasarnya. “Apalagi di Indonesia ini gandum kan 100 persen harus impor.”

Dalam perspektif kedaulatan pangan, hal ini tentu menjadi masalah yang sangat serius. Seyogyanya pangan bersumber dari sumberdaya lokal, pemenuhannya dari dalam negeri jangan sampai tergantung pada asing.

Konsen terbesar yang mestinya menjadi prioritas menurut Dwi adalah bagaimana pangan dikembalikan ke pangan lokal. Gandum sendiri merupakan tanaman yang tumbuh di daerah subtropis dan sulit tumbuh di lingkungan tropis seperti di Indonesia. Gandum di Indonesia, terang Dwi kalau pun bisa ditanam di wilayah tropis produktivitasnya rendah dan tidak masuk dalam grade industri pangan.

Solusinya menurut Dwi adalah dengan kembali ke pangan lokal, dengan diversifikasi. Indonesia sejak awal memiliki anekaragam makanan pokok seperti jagung, sagu, atau sorgum yang sebenarnya bisa ditingkatkan. Namun kuncinya, kata Dwi ada pada keinginan politik pemerintah.

“Tapi kalau keinginan politik saja tidak ada, ya sudah, bergantung ke beras. Beras berkurang gantinya gandum (yang 100 persen impor), ya sudah. Cilakanya kan begitu.” tandas Dwi. (Joko)

SHARE THIS: