Air Bukan Musuh Kita
Posted by @Redaksi on 12th March 2018
| 137 views

AktualPress.com – Air masih dianggap bagai musuh. Sejak zaman kolonial, solusi penanganan banjir pun masih melawan air dengan pembangunan kanal. Namun kanal terbukti tak menyelesaikan masalah, Jakarta tetap banjir.

Menghadapi banjir, sejak zaman kolonial bertahun-tahun Pemerintah Provinsi Jakarta masih mengandalkan sistem kanal dan membekap sungai dengan beton. Namun kanalisasi ternyata tak menghentikan banjir, justru menyimpan banyak masalah.

Hal ini diungkap oleh penulis buku ‘Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa (1883-1985) ‘ Restu Gunawan dalam Seminar ‘Urban Water and Resilience’ di Universitas Tarumanegara, Jakarta Barat. Menurut Restu, menganggap air sebagai ‘musuh’, tak akan menyelesaikan masalah banjir di Jakarta. Restu menyebutkan, sejak zaman kolonial hingga sekarang, pemerintah cenderung mengandalkan pendekatan struktural dengan pembangunan kanal yang secara teknis memang lebih mudah dan cepat. “Tapi kan terbukti tetap saja banjir,” ujar Restu, Rabu 7 Maret.

Restu mencontohkan, sejak terakhir Belanda membangun Pintu Air di Manggarai, alih-alih banjir diatasi, justru karena sedimentasi dari daerah hulu yang menumpuk di Pintu Air Manggarai, air makin meluap. Pengerukan yang mestinya dilakukan pun jarang dilakukan sehingga air makin meninggi. “Justru Pintu Air Manggarai ini mengakibatkan banjir abadi di atasnya,” ujar Restu.

Pendiri Ciliwung Institute Sudirman Asun yang bekerjasama dengan peneliti dari National University of Singapore Zach Smith menyebutkan selama 2 tahun mengukur 4 titik lokasi Sungai Ciliwung, 2 titik di Pasarminggu, 2 titik lainnya di Ciliwung Lama Matraman Berlan dan Kanal Banjir Menteng Tenggulun menemukan Sungai Ciliwung segmen hilir Jakarta mengalami pendangkalan rata-rata 20 sentimeter per bulan.

Pendangkalan akibat sedimentasi ini, menurut Asun dikarenakan proyek betonisasi membuat aliran air di sungai yang membawa lumpur dari hulu, yang tadinya secara alami parkir terlebih dahulu di sepadan sungai terhalang oleh beton. Sebelum adanya beton, air diserap tanah dan sedimentasi lumpur menebalkan sepadan sungai Ciliwung.

Selain sedimentasi lumpur dari hulu dan membekap pinggir sungai dengan beton, Asun menyebut proyek Reklamasi di Teluk Jakarta juga makin memperparah keadaan. Dari Google Earth jelas terlihat bagaimana sedimentasi pulau reklamasi menutup hilir 13 sungai Jakarta. “Dari hulu air deras, di hilir dihadang reklamasi. Makanya saya suka bilang ini namanya Jakarta Skakmat City!” ujar Asun.

Restu Gunawan

Dalam bukunya ‘Gagalnya Sistem Kanal’, Restu menyebut, “Sistem kanal tidak berhasil karena topografi Jakarta yang datar sehingga air tidak bisa mengalir secara gravitasi. Sedimentasi lumpur dan sampah juga menyebabkan saliran air tidak lancar. Pengendalian banjir dengan pembangunan kanal atau saluran hanya mampu mengurangi beban banjir sesaat. Namun, apabila ada energi baru, yaitu hujan yang lebih tinggi dengan periode ulang lebih lama, maka bahaya dan kerugian akan lebih besar karena kapasitas tampung air akan terlewati, sementara itu daerah sekitar sudah berubah menjadi kawasan terbangun sehingga banjir akan masuk ke wilayah-wilayah di sekitarnya.”

Dalam banyak peristiwa selama satu abad yang dicatat Restu dalam bukunya juga menunjukkan betapa setiap kali kanal atau saluran tertentu selesai dibangun, beberapa tahun kemudian terjadi banjir lagi.

Obsesi pembangunan betonisasi kanal-kanal sejak zaman kolonial ini, selain terbukti tak menyelesaikan banjir, menurut Restu akan makin merusak dan merugikan ke depannya. Restu mengajak agar pemerintah dan masyarakat mengubah paradigma betonisasi ini dan kembali pada kebijakan lokal bangsa ini yang sejak dulu sebenarnya bersahabat dengan air. “Solusinya tak bisa hanya mengandalkan kanal saja.”

Prof. Simon Richter

Peneliti dari University of Pensylvania, Prof. Simon Richter yang juga hadir sebagai pembicara dalam seminar dalam paparannya juga menekankan pentingnya mengubah paradigma ‘memusuhi’ air menjadi ‘bersahabat’ dengan air. Simon menyebutkan bagaimana di Barat, negara-negara Eropa, termasuk Belanda -yang banyak menjadi kiblat kanalisasi sungai- mulai mengubah pendekatan dalam berhubungan dengan air, untuk hidup bersama air.

Simon mencontohkan bagaimana ketika di Los Angeles, yang awalnya mengalirkan air hujan ke laut untuk menghindari banjir, justru kemudian mengalami kekeringan hebat. Selain Los Angeles, Ventura, dan Santa Barbara juga mengalami kekeringan hebat. Berkaca dari itulah, pemerintah kini mengubah paradigma mengelola air, tak lagi dengan kanal beton, tapi dengan konsep ‘Kota Spoon’ seperti yang dilakukan di Cina untuk menyimpan air sebanyak mungkin di tanah alih-alih langsung mengalirkannya ke laut. “Air itu anugerah. Jangan malah disingkirkan, kita harus berifikir untuk menyimpannya.”

Di Jakarta sendiri, Jakarta juga beberapa kali mengalami kekeringan karena air langsung dialirkan ke laut, tidak diberi ruang untuk diserap tanah. Saat hujan, air yang mestinya langsung diserap tanah di rawa-rawa pun sekarang terhalang beton, karena tanah sudah banyak dialihfungsi menjadi beton-beton lahan bisnis dan perkantoran.

Pembicara lainnya, Wied Wiwoho Winaktoe dari IHE-UNESCO menyebutkan upaya untuk berseiring dengan air, dengan memberikan hak-hak air ini untuk menyerap ke dalam tanah, sebenarnya sudah ada dalam naskah Akademik DKI Tata Ruang 2010-2013. Yaitu dalam sistem polder untuk penanganan banjir Jakarta. Namun sayangnya, sistem ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. “Kita tanya ke Dinas Pekerjaan Umum saja mereka tidak paham ini.”

Pria yang sudah meneliti 5 titik polder di Pluit, Pulo Mas, Duri Kosambi, Muara Karang, dan Pantai Indah Kapuk ini menyebutkan dari semua titik polder di Jakarta, hanya 2 polder, di PIK dan Muara Karang yang bekerja efektif. Lainnya masih bermasalah, mulai dari teknis, peralatan, tenaga, dan lainnya.

Padahal dengan memaksimalkan sistem polder ini, tutur Wiwoho, tak hanya bisa mengatasi rob di Jakarta, juga sekaligus memberikan jawaban bagi masyarakat marjinal yang sering terusir dari tempatnya dengan pembangunan kanal.

Wiwoho berharap pemerintah mulai memperhatikan sistem polder ini dan juga membuat lembaga polder yang membawahi polder-polder di bawahnya agar bisa bekerja dengan efektif mengatasi rob Jakarta. (Joko)

SHARE THIS: