Eksekusi TKI Zaini Misrin, Tunda Kebrutalan Arab Saudi
Posted by @Editor on 20th March 2018
| 53 views

Aktualpress.com–Tenaga kerja asal Indonesia, Zaini Misrin, baru saja dieksekusi mati pada Minggu (18/3/18) oleh pemerintah Arab Saudi atas tuduhan pembunuhan, meski ada kecurigaan bahwa Zaini dipaksa mengakui kejahatan itu oleh polisi Saudi.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah dua kali meminta bantuan Raja Salman untuk meninjau kembali kasus pidana Zaini.

Menurut organisasi yang mengurus pekerja imigran Indonesia, Migrant Care, Zaini didakwa membunuh majikannya Abdullah bin Umar Muhammad Al Sindy. Ia telah dijatuhi hukuman mati sejak tahun 2008.

Migrant Care mencurigai bahwa pria berumur 53 tahun itu dipaksa mengakui pembunuhan. Dia juga tidak diizinkan menerima dampingan pengacara selama pengadilan dan hanya didampingi oleh penerjemah.

“Arab Saudi tidak menotifikasi Indonesia [tentang eksekusi] lewat jenderal konsulat di Jeddah atau Kementerian Luar Negeri,” kata badan itu dalam pernyataan terbuka.

Menurut perhitungan dari media AFP, lebih dari 30 orang dari berbagai kewarganegaraan dieksekusi di Arab Saudi sejak awal tahun ini.

Angka eksekusi di Saudi telah meningkat dua kali lipat sejak Mohammed bin Salman ditunjuk sebagai putra mahkota pada 2017.

Berdasarkan data dari badan anti hukuman mati, Reprieve, terdapat 133 eksekusi yang dilakukan selama 8 bulan setelah Mohammed bin Salman menjabat, dibandingkan 67 kasus selama 8 bulan sebelumnya.

Direktur Reprieve, Maya Foa menilai, peningkatan angka eksekusi di bawah kekuasaan putra mahkota ini memperlihatkan bahwa di balik citranya yang baik, Mohammed bin Salman adalah “salah satu pemimpin paling brutal dalam sejarah kerajaan [Saudi].”

Saudi melakukan 153 eksekusi selama tahun lalu. Kasus yang paling menyoroti perhatian dunia adalah eksekusi atas ulama Syiah, Sheikh Nimr al-Nimr, dan 46 tahanan politik lainnya.

Pemerintah Saudi sendiri mengaku tindakan tersebut dilakukan untuk “mempertahankan keamanan dan merealisasikan keadilan.”

 

Kisah Zaini Misrin

Zaini Misrin yang tinggal di Bangkalan, Madura tersebut pertama kali datang ke Arab Saudi pada 1992. Ia mendapatkan pekerjaan sebagai sopir pribadi bagi satu keluarga di kota Mekah. Kemudian pada 1996 dia kembali ke Indonesia.

Di tahun yang sama Zaini berangkat kembali untuk kedua kalinya dan bekerja pada majikan yang sama, hingga terjadinya peristiwa 13 Juli 2004. Saat itu Zaini Misrin ditangkap Kepolisian Mekah atas dasar laporan anak kandung korban. Tuduhannya adalah melakukan pembunuhan majikannya yang bernama Abdullah bin Umar

Pada November 2008 Mahkamah Umum Mekah menetapkan keputusan hukuman mati qhisas bagi Zaini.

Segera setelah menerima putusan tersebut, pengacara zaini mengajukan banding dan kemudian dilanjutkan kasasi. Namun, baik di pengadilan banding dan kasasi, tetap menguatkan kembali keputusan yang telah ditetapkan pengadilan sebelumnya, yaitu hukuman mati qhisas.

KJRI Jedah maupun KBRI Riyadh telah melakukan kunjungan ke penjara sebanyak 40 kali. Sejak 2011 pemerintah sudah menunjuk dua pengacara. Pada 2011 hingga 2016 kemudian pengacara kedua yang sampai saat ini masih menjadi pengacara Zaini 2016 hingga 2018.

Setidaknya dalam kurun waktu tersebut sudah 42 nota diplomatik dilayangkan. Juga termasuk surat yang dikirimkan baik oleh KJRI Jeddah, KBRI Riyadh, maupun surat pribadi dari Duta Besar Indonesia di Riyadh kepada tokoh-tokoh masyarakat maupun pejabat tinggi di pemerintahan Arab Saudi.

Presiden RI setidaknya sudah mengirimkan surat kepada pemerintah Arab Saudi sebanyak tiga kali, satu di era SBY dan dua kali di era Jokowi. (ra/presstv/tempo)

 

SHARE THIS: