Penciptaan Alam Menurut Islam
Posted by Lestari on 31st March 2018
| 342 views

AktualPress.com – Dalam kesempatan ini, penulis mengambil perspektif Al-Qur’an sebagai pengejawantahan konsep penciptaan atau asal usul alam semesta menurut kaca mata Islam, meskipun ada banyak konsep lain yang diutarakan oleh para filosof dan teolog mengenai hal tersebut.

Al-Qur’an adalah pedoman yang tidak hanya ditujukan untuk manusia, tetapi juga ditujukan untuk seluruh ciptaan Allah Swt. Ayat-ayat yang ada di dalam Al-Qur’an serta fenomena-fenomena alam yang kita lihat adalah tanda dan isyarat akan realitas Allah Swt sebagai Tuhan yang menciptakannya, sebagaimana bunyi QS. Fushshilat ayat 53:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Di dalam Al-Qur’an, terdapat kata khalaqa dan kun fa yakun yang menjelaskan mengenai penciptaan alam semesta. Menurut Al-Qur’an, proses penciptaan alam semesta berasal dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada, seperti dalam kalimat kun fayakun (jadilah, maka terjadilah). Lafadz kun dengan konteks penciptaan alam disebutkan sebanyak 6 kali dalam Al-Qur’an, yaitu Al-Baqarah ayat 117, Ali Imran ayat 47, An-Nahl ayat 40, Mu’min ayat 68, dan Yasin ayat 82.

Allah adalah Maha Pencipta. Dia menciptakan sesuatu dengan tidak mencontoh kepada apa yang telah ada, tidak menggunakan suatu bahan atau alat yang telah ada. Allah menciptakan dari yang tidak ada. Demikianlah Allah menciptakan langit dan bumi, dari semula tidak ada menjadi ada. Allah menciptakan sesuatu dengan perkataan Kun (jadilah). Perkataan ini adalah simplifikasi atau penyederhanaan tentang Maha besarnya kekuasaan Allah, apa saja yang dikehendaki untuk ditetapkan semua terjadi dengan mudah. Kemudian tentang cara Allah mengadakan sesuatu dan bagaimana proses terjadinya sesuatu, hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Kata “fa yakun” yang berarti maka jadilah di sini tidak mesti diartikan bahwa sesuatu itu terjadi seketika itu juga, melainkan melalui tahapan proses yang memerlukan waktu. Setiap tahapan proses yang berlangsung dalam alam ini pasti akan berlaku hukum alam yakni ketentuan-ketentuan Allah atas sunnatullah. Perintah kun bukanlah perintah tanpa hikmah. Perintah kun selalu diikuti fi’il mudori’yakun” setelah dijeda dengan fa. Sebagai fi’il mudori’, yakun dapat dipandang sebagai proses yang mungkin rumit atau sebaliknya, sangat sederhana.

Di sisi yang lain, para filosof muslim memiliki pendapat yang berbeda. Menurut mereka berdasarkan apa yang mereka pahami dari Al-Qur’an, penciptaan merupakan proses menjadikan sesuatu dari materi yang sudah ada. Pendapat ini didasarkan pada QS. Fushshilat ayat 11:

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi” “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.”

Masa awal mula alam semesta dijelaskan dengan ungkapan “apakah penciptaanmu lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya” pada QS. An-Nazi’at ayat 27. Menurut para ahli astronomi, hal ini ditafsirkan sebagaimana pendapat para sains. Big Bang terjadi sekitar 15 miliar tahun yang lalu dan menjadi permulaan terciptanya ruang dan waktu dari kondisi singularitas. Alam semesta tercipta sedemikian cepat sehingga disebu sebagai Big Bang.

Pertama kali yang tercipta adalah energi dan partikel foton, kemudian partikel foton membentuk proton, neutron, dan elektron. Dari proton dan elektron, terbentuk hidrogen sebagai unsur pertama pembentuk bintang-bintang.

Big Bang tidak berada pada titik tertentu, melainkan hanya satu titik yang tidak berdimensi. Tidak ada satu titik pun yang dianggap pusat ledakan, sehingga Big Bang tidak terkesan seperti ledakan bom di satu titik tertentu, karena alam semesta secara keseluruhan ikut serta dalam ledakan tersebut. Dalam bahasa Al-Qur’an, ini disebut sebagai satu kesatuan materi dan proses seperti yang diungkapkan dalam QS. Al-Anbiya’ ayat 30:

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya, dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

Hal ini sejalan dengan teori Big Bang yang menyatakan bahwa dahulu sebelum ada langit dan bumi, alam ini merupakan gumpalan padat yang kemudian meledak dan berpisah menjadi planet dan bintang-bintang. Dapat disimpulkan bahwa menurut tafsir ilmi, penciptaan jagat raya tafsir ilmi menganut Creatio ex Nihilo dengan menyatakan bahwa alam semesta ini bermula dari Big Bang dan alam semesta ini terus berkembang.

Mengenai waktu penciptaan, disimpulkan bahwa waktu penciptaan langit, bumi, dan isinya adalah 6 masa. Informasi ini diungkapkan sebanyak 7 kali dalam Al-Qur’an, diantaranya adalah QS. Yunus ayat 3:

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”

Enam masa tersebut kemudian dijelaskan pada tafsiran QS. Al-A’raf ayat 54 yang menjelaskan bahwa ke-6 masa tersebut adalah: Masa pertama, masa sejak Big Bang dari Singularitas sampai pada Gaya Gravitasi dari Gaya Tunggal, dan ruang waktu mulai berpisah. Masa kedua, masa terbentuknya inflasi alam semesta, namun belum jelas bentuknya. Di sini gaya nuklir kuat memisahkan diri dari gaya elektro lemah, sehinga mulai terbentuk materi-materi quarks, antiquarks, dan lainnya. Alam semesta pun mulai mengembang. Masa ketiga, masa terbentuknya inti-inti atom di alam. Gaya nuklir lemah mulai terpisah dari gaya elektromagnetik. Di sini, antara ruang, waktu, materi, dan energi mulai terlihat terpisah. Masa keempat, elektron-elektron mulai terbentuk, namun masih dalam keadaan bebas. Masa kelima, terbentuk atom-atom yang stabil, materi dan radiasi saling terpisah, alam semesta terus mengembang dan mulai tampak transparan. Masa keenam, atom-atom mulai membentuk agregat menjadi molekul-molekul, kemudian membentuk proto galaksi, galaksi-galaksi, lalu bintang-bintang, tata surya, dan planet-planet.

Enam masa yang digambarkan di atas berkorelasi dengan sembilan periode yang dibentuk Hawking dalam teorinya:

Periode 1: Era Plank (t = 0 sampai dengan 1- 43 detik) yang terjadi sejak terjadinya Big Bang dari Singularitas sampai waktu 10 – 43 detik.

Periode 2: Era Grand Unified Theory yang dimulai ketika umur alam semesta baru sekitar 10 – 43 detik. Pada periode ini, keseimbangan materi dan anti-materi akan dimenangkan oleh materi.

Periode 3: Era Gaya Nuklir Lemah dimulai ketika umur alam semesta mencapai 10-35 detik. Di era ini, mulai terbentuk materi-materi fundamental seperti quarks dan antiquarks.

Periode 4: Era Hadron-lepton yang diawali ketika umur alam semesta mencapai 10 – 10 detik. Di era ini, quarks membentuk materi penyusun inti atom seperti proton, neutron, meson, dan baryson.

Periode 5: Era Nucleosyntheses yang dimulai ketika umur alam semesta mencapai umur 1 detik. Di era ini, proton dan neutron saling bergabung membentuk inti-inti atom.

Periode 6: dimulai ketika umur alam semesta mencapai 3 menit. Pada periode ini, terbentuk untuk pertama kalinya inti atom yang stabil dan terjadinya pemisahan materi dan radiasi.

Periode 7: dimulai ketika umur alam semesta mencapai 300.000 tahun. Periode ini pun terjadi pemisahan antara materi dan energi.

Periode 8: dimulai ketika umur alam semesta mencapai 1000 juta tahun. Di sini, cluster-cluster materi membentuk quarsar, bintang-bintang, serta proto-Galaksi.

Periode 9: dimulai ketika umur alam semesta mencapai 15.000 juta tahun. Galaksi-galaksi baru mulai membentuk tata surya. Atom-atom bergabung membentuk molekul-molekul kompleks, sebagai awal dari sebuah kehidupan.

Pada periode 1 dan 2 digolongkan sebagai masa pertama penciptaan, kemudian periode 3 sebagai masa kedua. Lalu periode 4, 5, dan 6 sebagai masa ketiga, dan selanjutnya sampai pada 6 masa.

Al-Qur’an mengajak manusia untuk menyaksikan eksistensi Tuhan melalui ciptaan-Nya dan menyingkap tabir keghaiban-Nya melalui perhatian mendalam akan realitas konkret yang terhampar luas di langit dan di bumi. Sains bisa menggapai Tuhan melalui observasi yang diteliti dan tentang hukum-hukum yang mengatur fenomena alam itu. Al-Qur’an menunjukkan adanya realitas Intelektual Yang Agung, yaitu Allah Swt. Lewat penelitian yang cermat dan mendalam akan semua ciptaan-Nya.

Semua proses penciptaan alam semesta ini memang sepenuhnya berada dalam kendali dan perintah Sang Khalik yang telah membentuknya secara sempurna, seperti QS. Al-Mulk ayat 3-4:

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.”

Selain menciptakan, Allah pun menjaganya, seperti QS. Az-Zumar ayat 62:

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.”

Dari kedua ayat di atas, kebenaran sains ternyata tidak tunggal, mutlak, dan abadi. Kebenaran-kebenaran sains pun terus berdialektika dan berkembang. Sains memang tidak membuktikan Tuhan sebagai sesuatu yang non-fisik dan non-materi yang telah menciptakan alam semesta melalui metodologinya, namun justru sains menegaskan adanya Tuhan melalui hukum-hukumnya. Perkembangan sains telah membantu kita menempatkan Al-Qur’an sebagai wahyu dalam proporsinya. Al-Qur’an tidak berpretensi menjadi buku pintar yang hendak menjawab segala persoalan yang ada di dunia ini. Al-Qur’an bukan sumber jawaban atas berbagai persoalan ilmu alam, sejarah, dan lingkungan masa sekarang. Kesadaran juga makin tumbuh bahwa unsur wahyu Ilahi tentang Tuhan dan kehendak Tuhan mengenai manusia dalam Al-Qur’an merupakan rimba mahalebat yang tidak akan dapat diketahui secara tuntas oleh manusia itu sendiri. Kemajuan sains memberikan arti positif dalam eksegese dengan mempertajam interpretasi Al-Qur’an dalam tingkat signifikansi religius. (AL)

SHARE THIS: