Penciptaan Alam Menurut Sains
Posted by Lestari on 31st March 2018
| 1862 views

AktualPress.com – Persoalan asal usul alam semesta telah menarik perhatian banyak kalangan, baik para saintis, teolog, maupun filosof. Hal ini sudah sangat lama diperbincangkan dan diperdebatkan. Antara pendukung materialisme dan pendukung adanya Tuhan sama-sama mencari jawaban dari persoalan tersebut. Ketiga kalangan di atas berusaha untuk ikut serta menjawab salah satu dari misteri kehidupan, yaitu bagaimana awal mula dari keberadaan alam semesta yang kita tempati sekarang ini? Sesuai bidangnya, sainstis mencoba mengkaji persoalan tersebut dari pendekatan fisika, teolog mencoba mengkaji persoalan tersebut dari pendekatan teologis, dan kemudian filosof mencoba mengkaji persoalan tersebut dari pendekatan filosofis.

Melalui pendekatan fisika, para saintis melahirkan teori Big Bang dan expanding universe yang kemudian bergerak ke Big Crunch. Melalui pendekatan agama, para teolog melahirkan teori al-hayula atau atomisme dan teori kummun. Kemudian melalui pendekatan metafisik, para filosof melahirkan teori emanasi. Dalam penulisan artikel kali ini, penulis memfokuskan diri pada pembahasan asal usul alam semesta menurut kaca mata sains dan Al-Qur’an sebagai perwakilan dari pendapat Islam.

Penciptaan Alam Menurut Sains

Awalnya, galaksi-galaksi yang berisi bintang-bintang tersebut berada di satu tempat bersama-sama dengan bumi sekitar 15 milyar tahun silam. Materi sebanyak ini berkumpul sebagai suatu gumpalan neutron. Gumpalan neutron ini terbentuk dari elektron-elektron yang berasal dari masing-masing atom yang telah menyatu dengan protonnya sehingga tidak memiliki gaya tolak listrik antara masing-masing elektron dan masing-masing proton. Gumpalan ini berada dalam alam dan meledak dengan sangat dahsyatnya sehingga terhamburlah seluruh materi itu ke seluruh ruang jagad raya. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan teori Big Bang (dentuman besar).

Ledakan atau dentuman disebabkan oleh alam semesta yang terus mengerut menjadi sangat kecil, yang kemudian disebut dengan istilah singularitas. Karena goncangan kevakuman dan tekanan gravitassi negatif menimbulkan suatu dorongan eksplosif keluar dari singularitas, yang mengakibatkan ledakan dahsyat sekitar 15 milyar tahun yang lalu.

Teori Big Bang pertama kali ditemukan oleh Abbe Lemaitre pada tahun 1920-an dengan menyatakan bahwa alam semesta ini bermula dari gumpalan super-atom raksasa yang isinya tidak bisa kita bayangkan, tetapi kira-kira seperti bola api raksasa yang suhunya antara 10 miliar sampai 1 triliun derajat celsius (air mendidih suhunya hanya 100 derajat celsius). Gumpalan super atom tersebut meledak sekitar 15 miliar tahun yang lalu. Hasil dari Big Bang tersebut menyebar menjadi debu dan awan hidrogen. Setelah ratusan juta tahun, debu dan awan hidrogen tersebut membentuk bintang-bintang dalam ukuran yang berbeda. Seiring dengan terbentuknya bintang-bintang, di antara bintang-bintang tersebut berpusat membentuk kelompoknya masing-masing yang dikenal dengan galaksi.

Setelah radiasi dalam bentuk foton yang sangat panas meledak, sekitar 1 menit pertama, alam semesta kiranya lebih panas daripada pusat bintang biasa seperti halnya reaktor fusi nuklir. Kemudian alam semesta mulai mengembang dan mendingin dengan penurunan suhu sampai sepuluh miliar derajat. Terbentuklah sejumlah besar hidrogen, 23% helium, dan segelintir lithium dari beberapa proton dan neutron yang kemudian membentuk bintang-bintang, planet, dan galaksi.

Ketika Einstein sangat mengagungkan teori Big Bang sebagai gambaran sejati asal-usul alam semesta, menurut Hawking, itu adalah gambaran yang keliru. Menurut Hawking, teori Big Bang tidak boleh dipegang terus-menerus, perlu ada teori pembaharu yang lebih valid. Bagi Hawking, teori singularitas oleh Big Bang dan teori-teori lain sezamannya belum cukup mampu menjawab tahapan atau waktu awal terbentuknya alam semesta, maka perlu teori baru (teori kuantum) yang bisa menjelaskan awal waktu tersebut. Kemudian Hawking melahirkan theory of everything yang mencakup hukum-hukum umum (hukum gravitasi Newton, gaya elektromagnetik Orsted, medan gaya Faraday, cahaya gelombang elektromagnetik Maxwell, dan teori relativitas Einstein) dalam seluruh proses fisik alam semesta, semuanya berpadu untuk menghasilkan alam semesta yang begitu kompleks.

Teori Big Bang merupakan teori yang cukup terkenal dan dipegang oleh banyak saintis dan pemikir. Setelah Big Bang, alam mendingin karena ekspansinya sehingga suhunya merendah melewati 1000 trilyun-trilyun derajat. Lalu seluruh kosmos membesar dengan kecepatan luar biasa selama 10-35 sekon. Ekspansi luar biasa cepat tersebut memberikan kesan bahwa alam semesta mengembang dengan tiupan dahsyat sehingga dikenal dengan gejala inflasi atau expanding universe.

Pada awal tahun 1929, seorang astronom Amerika, Edwin Powell Hubble (1889-1953) mengemukakan sebuah teori tentang keberlangsungan alam semesta, yaitu expanding universe. Expanding universe adalah teori yang menyatakan bahwa alam semesta mengembang, sehingga galaksi-galaksi di sekitar Bimasakti pun semakin menjauh. Faktanya, kini planet Pluto sudah tidak tampak lagi di langit bumi kita karena jaraknya yang semakin menjauh.

Lahirnya teori Big Bang dan expanding universe belum bisa menjawab secara keseluruhan pertanyaan mengenai alam semesta. Butuh teori sains lain yang bisa melengkapi dan memuaskan dahaga intelektual para manusia.

Muncullah teori M dan kemudian berkembang menjadi teori of everything oleh Stephen W. Hawking. Teori of everything adalah teori yang mampu mengungkapkan awal mula penciptaan banyak alam semesta yang kompleks. Teori ini bukan merupakan teori tunggal, melainkan kumpulan aneka teori yang masing-masing menjabarkan pengamatan dalam kisaran situasi fisik tertentu.

Teori Big Bang dan expanding universe melihat terbentuknya alam semesta ini dari pendekatan fisika. Ia tidak bisa memberikan penjelasan tentang sesuatu di luar fisika. Pertanyaan apa yang terjadi sebelum terbentuknya materi bola raksasa yang memadat sebelum akhirnya meledak (dentuman besar) tersebut belum mampu dijawab oleh para sainstis. Kedua teori yang diagungkan di dunia barat tersebut tidak dapat memberikan efek penghantar pemikiran ke Tuhan sebagai Sang Pencipta. Inilah yang mendasari kegelisahan para pemikir Islam untuk kemudian menemukan dan melahirkan teori asal usul alam semesta yang bisa menghantarkan kepada pemikiran akan Sang Pencipta. Namun menurut Hawking, pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa dijawab dalam ranah sains saja, tanpa perlu membawa-bawa sosok Ilahi.

Dalam sains barat, seolah ada unsur terputus antara hubungan alam dan Sang Pencipta. sehingga seolah-olah alam tercipta dengan sendirinya dan eksistensi Tuhan diabaikan. Ini adalah efek dari pendekatan sains yang hanya mampu mengamati aspek materi atau fisik saja, tanpa sampai pada aspek non-materi atau metafisik. Tidak ada jawaban kenapa bola raksasa padat kemudian meledak (Big Bang) dan tidak ada jawaban kenapa kemudian alam semesta mengembang saling menjauh, yang kemudian akan berakhir dengan Big Crunch. (AL)

SHARE THIS: