Serang Suriah Tanpa Persetujuan Kongres, Trump Dikecam Pejabat AS
Posted by @Editor on 16th April 2018
| 177 views

Aktualpress.com—Pasca serangan udara Amerika ke Suriah kemarin, para anggota Kongres dari partai Republik dan Demokrat mengkritik Presiden Donald Trump karena tidak meminta persetujuan kongresional sebelum memerintahkan aksi militer.

Militer Amerika pada Jumat (13/4/18) malam melakukan serangan ke Suriah dengan kerja sama dengan Inggris dan Prancis. Serangan tersebut dilakukan sebagai respon dugaan serangan kimia di Douma pada 7 April lalu.

Barat menyalahkan pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad atas dugaan serangan kimia yang masih belum bisa dibuktikan itu.

Hanya beberapa jam sebelum serangan, 87 anggota Kongres AS mengirim surat ke Gedung Putih, yang berisi permintaan agar Trump tidak melakukan aksi militer tanpa persetujuan kongresional.

“Keputusan Presiden Trump untuk meluncurkan serangan udara ke Suriah tanpa persetujuan Kongres adalah ilegal dan gegabah,” kata Senator Tim Kaine, anggota Komite Hubungan Luar Negeri.

“Hari ini serangan ke Suriah— apa yang akan menghentikannya dalam mengebom Iran atau Korea Utara selanjutnya?”

Kaine pun mengecam Trump karena tidak melakukan pendekatan kontemplatif atas Suriah.

“Minggu lalu, Presiden Trump bersikukuh bahwa AS akan meninggalkan Suriah secepatnya. Minggu ini, ia membuka front militer baru.”

Senada dengan Kaine, pejabat lain yaitu Thomas Massie, Nancy Pelosi, dan Bob Casey juga memberikan kritikan yang sama, bahwa Konstitusi Amerika tidak pernah memberikan hak bagi presiden untuk menyerang suatu negara tanpa persetujuan Kongres.

Jurnalis independen dan mantan koresponden Wall Street Journal PBB, Joe Lauria, menilai bahwa serangan AS dan sekutunya telah meyeleweng hokum internasional, karena itu tidak sejalan dengan Pasal 51 United Nations Charter.

Menurutnya, karena terjadi operasi bendera palsu, AS akan menyerang Suriah kapan saja dengan alasan apapun.

“Dengan kata lain, mereka [AS] tidak butuh bukti,” kata Lauria, seperti halnya “mereka tidak butuh bukti ketika menuduh Rusia mengintervensi pemilu, atau bahwa Rusia mencoba membunuh seorang mantan agen intelijen. (ra/presstv)

SHARE THIS: