Kampung yang Tergusur di Jakarta akan Dibangun Ulang
Posted by @Redaksi on 18th April 2018
| 118 views
AktualPress.com – Empat dekade dianaktirikan, setelah zaman Gubernur Ali Sadikin, kampung-kampung kecil dan kumuh di Ibukota DKI Jakarta akhirnya menemukan secercah harapan baru. Tak seperti gubernur-gubernur sebelumnya yang tidak memiliki rancangan pembangunan kampung Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan di masa pemerintahannya ia akan memprioritaskan pembangunan kampung di Jakarta.

Hal ini diungkapkan oleh Anies dalam acara peringatan dua tahun penggusuran Kampung Akuarium oleh mantan Gubernur Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama. “Kampung tak boleh dihilangkan, yang dihilangkan itu kemiskinan,” ujar Anies, Sabtu 14 April. “Jangan dibalik, kampungnya dihilangkan, kemiskinannya dialihkan.”

Mengenang penggusuran Kampung Akuarium dua tahun lalu oleh mantan Gubernur Basuki, gubernur yang dalam dalam janji politiknya saat pemilihan mengusung slogan keberpihakan pada kaum marjinal ini menyebut kejadian seperti ini tak boleh lagi terulang. Karena tak hanya menjadi sorotan nasional, dunia internasional pun menyoroti penggusuran-penggusuran di Jakarta pada rezim sebelumnya.

Setelah warga dibangunkan shelter sementara pada November 2017, Anies menyebut nantinya Kampung Akuarium akan direnovasi dan dibangunkan rumah permanen bagi warga. Namun Anies meminta warga bersabar karena masih banyak proses yang harus dilalui untuk bisa membangun ulang Kampung Akuarium.

“Saya tak ingin tanda tangan janji dan orang lain yang melunasi,” ujar Anies, setengah menyindir gubernur sebelumnya yang menandatangani kontrak politik tanpa penggusuran, namun ternyata tetap melakukan penggusuran.

Dua tahun penggusuran Kampung Akuarium memang penuh dengan kisah pahit bagi warga Kampung Akuarium. Tak hanya menghancurkan hidup warga, menghilangkan pekerjaan, juga membuat warga terpaksa berpisah dengan keluarga terkasihnya. Dua tahun terlunta, 24 warga Kampung Akuarium meninggal dunia karena stress, trauma, sakit sakit karena bertahan meski tanah mereka usai digusur penuh debu. Tak hanya orangtua, bahkan anak-anak pun meninggal dunia karena kondisi kesehatan yang buruk selama dua tahun ini.

Sukarti, Ibu dua anak yang sudah kehilangan satu anak perempuannya, Eka Juwanti, kini harus juga merelakan suaminya, Juang meninggalkannya karena sakit. Kini ia hanya tinggal dengan satu-satunya anak lelakinya yang masih hidup, namun terpaksa putus sekolah di bangku kelas 2 SMP karena ia yang tak lagi memiliki pekerjaan tak mampu membayar biaya sekolah anaknya. Untuk membayar biaya pendaftaran 100 ribu rupiah pun ia tak mampu.

“Anak saya, Eka meninggal, lalu 7 bulan kemudian suami saya meninggal, belum sempat menikmati shelter yang dibangun,” kenang Sukarti getir. Bibirnya bergetar dan putik bening airmata membasahi pipinya saat mengenang dua orang terkasihnya.

Berkaca dari kepedihan warga, Anies menyebut, dalam masa pemerintahannya, kebijakan yang dibuat harus berdasar pada prinsip konstitusi keadilan sosial dan mendengarkan aspirasi kaum marjinal. Menurutnya, kemajuan kota bukan berarti harus menyingkirkan masyarakat di lapis bawah. Warga miskin pun punya hak tinggal di Jakarta. “Di Jakarta kata kuncinya adalah keadilan sosial. Kalau gak ikut itu, gak usah ikut barisan gubernur,” tegas Anies.

Warga sendiri bersama elemen masyarakat dari Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) dan Rujak Centre for Urban Studies sudah mendesain bagaimana nantinya kampung mereka akan dibangun ulang. Namun menurut Direktur Eksekutif Rujak Centre, Elisa Sutanudjaja, rancangan ini tidak detail seperti desain Kampung Susun di Bukit Duri, hanya rancangan garis besar aspirasi warga akan bentuk kampung baru mereka nantinya. Untuk eksekusinya akan diserahkan pada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sesuai tender yang dimenangkan perusahaan bangunan.

Dalam proses perencanaan ini, warga didampingi oleh konsultan dan dan JRMK untuk memberi bantuan dan panduan pertimbangan dari sisi desain umum serta dari sisi legalitasnya. Bersama Rujak Centre warga akan membentuk Community Action Planning atau Rencana Aksi Komunitas, yang tak hanya untuk Kampung Akuarium, namun juga untuk 16 kampung lainnya. “Ini yang sedang dikerjakan kita sekarang, tapi sebenarnya tak hanya 16 kampung, nantinya semua untuk kampung di Jakarta juga,” ujar Elisa.

“Ini sejarah. Perencanaan (pembangunan) kampung seperti ini belum pernah ada dalam sejarah Jakarta setelah Gubernur Ali Sadikin,” tambah Elisa.

Elisa menyebut, praktis usai Gubernur Ali Sadikin, kampung-kampung di Jakarta tak pernah masuk dalam perencanaan pembangunan kota secara serius. Malah kampung-kampung Jakarta lebih banyak digusur karena dianggap kumuh dan tidak rapi. “Bukannya ditata, malah digusur.”

Presiden Joko Widodo yang saat menjadi Gubernur DKI Jakarta juga sempat membuat kampung deret. Namun menurut Elisa, kampung deret itu sebetulnya hanya barisan rumah saja, bukan sebesar kampung. Sementara konsep perencanaan kampung yang sedang diracik oleh Anies Baswedan bersama warga, JRMK dan Rujak Centre skalanya lebih besar. “Skalanya seperti ke jamannya Ali Sadikin,” sebut Elisa.

Selain menjadi tonggak sejarah, pembangunan kampung di Jakarta yang lama terabaikan ini menurut Elisa sangat penting dalam tata rancang kota Jakarta. Kampung-kampung di Jakarta menjadi salah satu pendukung penghidupan kelompok pekerja informal seperti PKL, ojek, dan lainnya. Di tengah mahalnya harga hunian, juga mahalnya biaya konsumsi masyarakat di Jakarta, kampung-kampung di Jakarta menurut Elisa adalah oase bagi para pekerja informal tersebut.

Elisa juga menepis anggapan bahwa kampung di Jakarta merupakan sumber kekumuhan dan ketertinggalan. Menurutnya kondisi kampung yang kumuh bukan alasan untuk menggusurnya, tapi mestinya justru ditata dan dibangun oleh pemerintah. “Kampung karena jalannya kecil mereka tidak punya mobil, jadi tidak nambah emisi malahan,” tambahnya.

Gubernur Anies kepada warga berjanji akan komitmen membangun kampung-kampung di Jakarta yang selama ini terabaikan. Ia menyatakan ingin menjadikan Kampung Akuarium menjadi contoh pertama pembangunan kampung di Jakarta. Menurut Elisa jika hal ini benar dilakukan, maka Anies akan mencetak sejarah. “Ini bisa jadi titik tolak Jakarta membangun kampung di Jakarta ke depannya.”

Perwakilan warga Dharma Diyani, yang kepada Gubernur Anies memberikan maket rumah, tak kuasa meneteskan air mata mengucapkan terimakasih kepada Anies yang memiliki keberpihakan pada warga Kampung Akuarium yang tergusur.

“Dua tahun lalu kami tergusur, dan itu adalah mimpi buruk. Kini ada mimpi baru harapan kami,” ujar Diani sembari menangis. “Semoga Bapak Anies bisa mewujudkan mimpi kami semua. Ini mimpi kami, Pak.”

Tak hanya Diyani, warga Kampung Akuarium lainnya yang dua tahun bertahan juga banyak yang terharu dan berebut memeluk dan berfoto bersama Anies. Warga berharap Anies bisa mengobati luka hati mereka dua tahun menjadi korban gusuran mantan Gubernur Basuki. (Joko)

SHARE THIS: