Ternyata Masih Ada Desa yang Kental Adatnya!
Posted by @Editor on 18th May 2018
| 182 views
sumber: Yukepo.com

TENTANG BADUY (1)

Baduy. Pernahkah kita mendengar nama ini? Jika iya, apa yang terlintas di benak Anda saat mendengarnya? Desa tradisional yang masih kental adat budayanya? Desa yang belum tersentuh dengan teknologi? Atau mungkin desa yang tidak tersentuh dengan agama?

Ya, semua itu benar. Baduy adalah desa adat yang masih kental pengamalan adat budayanya. Mereka tidak mau menyentuh dunia luar apalagi mengaplikasikan hal-hal yang terjadi di luar pada kehidupan mereka. Bagi masyarakat Baduy, hidup yang ideal adalah hidup yang sesuai dengan ajaran leluhur mereka, yang sering disebut dengan pikukuh karuhun.

Masyarakat Baduy sendiri terbagi menjadi 2, yakni, Baduy dalam dan Baduy luar. Masyarakat Baduy dalam adalah masyarakat yang masih sangat menjalankan adat istiadat leluhur, mereka hanya memakai baju berwarna putih, untuk menandakan kesucian. Tidak menggunakan alat komunikasi ataupun penerang ruangan dengan lampu atau senter. Tidak memakai alas kaki. Serta tidak adanya stratifikasi sosial yang memperlihatkan satu orang lebih kaya dari yang lain dengan bentuk rumah yang lebih bagus, lebih luas, ataupun lebih berwarna. Semua sama, baik itu kepemilikan tanah ladang, luas rumah, dan lainnya.

sumber: http://bisniswisata.co.id

Sedikit berbeda dengan masyarakat pada Baduy luar yang sudah sedikit terkontaminasi dengan masyarakat luar. Mereka mengenal yang namanya penjualan dengan menggunakan uang sebagai alat tukarnya. Mereka memakai alas kaki. Kepemilikan tanah pun diperbolehkan berbeda. Namun, sekali pun ada yang lebih kaya di antara mereka, bentuk, warna, dan arah rumah mereka sama. Akan terlihat jika seseorang lebih kaya dari yang lain jika dia menggunakan atau pun memiliki banyak emas. Ya, masyarakat Baduy mengalokasikan uang mereka pada emas, utamanya wanita dan anak-anak perempuan yang menggunakannya.

Terlepas dari mulai terkontaminasinya mereka dengan dunia luar, masyarakat Baduy luar juga masih menganut kepercayaan yang sama dengan masyarakat Baduy dalam, yakni Sunda Wiwitan. Pada ajaran itu, mereka meyakini bahwa mereka adalah turunan nabi Adam as dan Siti Hawa. Karena mereka bukan Islam, mereka tidak melakukan ibadah harian seperti shalat, tidak berpuasa pada bulan Ramadhan, serta tidak merayakan hari raya Islam.

Baduy dengan segala keunikannya, tidaklah perlu kita anggap sebagai kemunduran suatu bangsa, karena masih memiliki daerah yang tidak menggunakan listrik sama sekali. Hal ini justru akan membuat bangsa kita menjadi lebih kaya, karena dengan segala keunikannya, Baduy bisa berdiri dan mampu menghidupi hidupnya sendiri. (SZ)

SHARE THIS: