Kisah Seorang Koruptor: Samadikun Hartono
Posted by @Editor on 6th June 2018
| 219 views

Samadikun Hartono. Namanya kembali mencuat di berbagai media massa saat tiba-tiba di pagi hari yang cerah tumpukan uang kertas berjumlah Rp 87 Miliar hadir di perkantoran Bank Mandiri, minggu lalu. Uang yang tak sedikit itu ternyata adalah uang pengembalian korupsi yang dilakukannya sejak 13 tahun yang lalu.

Siapakah Samadikun Hartono?

Samadikun Hartono adalah pengusaha beretnis Cina kaya yang melakukan korupsi dana BLBI yang merupakan singkatan dari Bantuan Likuiditas Bank Indonesia pada tahun 1998, masa krisis moneter sedang terjadi. Mengawali karirnya bersama keluarga, Samadikun berhasil membuka banyak cabang bisnis modern, PT bank Modern salah satunya. Dirinya sendiri pun dipercaya menjadi presiden komisaris bank tersebut.

Samadikun dari kecil sudah merasakan nikmatnya hidup, karena ayahnya adalah satu-satunya distributor fujifilm pada masa itu di Bone. Selepas ayahnya wafat, Samadikun dan saudara-saudaranya yang memiliki passion dalam dunia bisnis juga membuka rintisan bisnis lainnya.

Masalah mulai terjadi, saat krisis moneter menerpa. Tak terelakkan finansial menjadi masalah utama mereka dan bank Modern khususnya, yang dipegang oleh Samadikun. Bank yang memiliki banyak masalah karena memiliki banyak hutang membuat mereka hampir berada di titik kebangkrutan. Namun, tiba-tiba terbitlah wacana pemerintah untuk memberikan BLBI sebagai dana penyehatan bagi bank-bank yang hampir bangkrut.

Bank Modern pun salah satu dari bank yang mendapatkannya. Mendapat dana pinjaman sebesar 2,5 Triliun, pemerintah (Bank Indonesia) berharap Samadikun sebagai presiden komisaris kala itu mampu menggunakannya dengan baik.

Berbeda halnya dengan Samadikun yang melihat BLBI bak secercah cahaya surga yang begitu menyilaukan matanya sehingga dia pun berani mengambil dana sebesar Rp 169,4 M untuk dirinya sendiri! Dana sisanya sekitar 80 M barulah dipergunakan untuk penyehatan banknya. Melihat ada kejanggalan yang terjadi, pemerintah menyadari ada yang tidak beres. Dimulailah penyelidikan yang berakhir pada sidang di tahun Maret 2003 terkait dana BLBI pada bank Modern, dengan putusan yang hampir menyudutkan Samadikun.

Samadikun seakan-akan sudah mengetahui bahwa pada sidang selanjutnya, pasti dirinya akan ditangkap dan dimasukan ke penjara, enam hari setelah sidang pertama dia pun meminta izin ke Jepang untuk berobat dengan istrinya sebagai penjaminnya. Saat sidang kedua ingin dilaksanakan, Samadikun belum juga bertolak dari Jepang. Dimulailah drama pencarian Samadikun Hartono ini.

Hingga akhirnya sidang kedua tetaplah dilaksanakan pada 24 April 2003 yang menyatakan bahwa Samadikun Hartono bersalah oleh putusan Mahkamah Agung. Samadikun dihukum harus mengembalikan dana korupsinya sebesar Rp 169,4 M ditambah dana hukuman sebesar Rp 20 juta dan hukuman mendekap di penjara selama 4 tahun. Samadikun yang menjadi buronan tidak berani kembali ke tanah air tentunya, dia pun menjalani hidupnya di luar negeri dari mulai pindah-pindah tempat tinggal hingga memiliki 5 identitas kewarganegaraan palsu.

Drama pencarian Samadikun berakhir saat Desember tahun 2016, dirinya ditemukan sedang menonton F1 di Tiongkok, China. Bekerja sama dengan pemerintah China, Badan Intelejen Negara Indonesia segera menangkapnya. Dibawa pulang ke Indonesia, Samadikun pun diminta mengembalikan dana korupsinya. Mulailah dana dikembalikan secara mencicil dari Rp 40 M, 20 M, 20 M, 1 M hingga yang terakhir 87 M.

 

Samadikun Hartono dan Kegemaran Bisnisnya

Melihat dana yang berhasil dikembalikan oleh Samadikun secara utuh (meski dengan dicicil), terlihat mewahnya hidup pria tersebut selama ini baik di tanah air maupun di luar negeri.

Melihat dari tempat saat dia ditangkap yang terbilang cukup mewah, karena sedang menonton pertandingan F1 memperlihatkan dirinya masih bisa mengikuti hobinya. Menurut sebuah media massa, Samadikun memiliki anak laki-laki yang menyukai otomotif sejak dahulu. Jadi, adalah sebuah kemungkinan jika dia menonton F1 pun karena menuruti keinginan anaknya dan mungkin juga dirinya.

Di Indonesia sendiri ternyata dia memiliki sebuah rumah mewah di daerah Menteng senilai Rp 200 miliar! Hal itu dihitung melalui hitungan tanah di sana mencapai 150-170 juta permeter, luas rumahnya sendiri mencapai 1000 meter. Hal ini menunjukkan Samadikun tetap bekerja sebagai seorang pengusaha sukses di luar negeri saat dirinya tengah dicari sebagai buronan korupsi dana BLBI pada tahun 1998.

 

Saat Penangkapan

Pengembalian dana korupsi yang dilakukan oleh Samadikun menuai komentar positif dan negatif dari banyak kalangan negarawan. KPK mengapresiasi kinerja BIN (Badan Intelejen Negara) karena mampu menangkap serta membuat Samadikun yang awalnya enggan mengembalikan dana korupsi menjadi berkenan bahkan sampai mengembalikan semuanya.

Namun, tuaian negatif juga keluar, salah satunya oleh ketua komisi III DPR, Bambang Soesatyo karena saat Samadikun sampai di Indonesia pada tahun 2016, dirinya dijemput oleh ketua BIN, Soetiyoso dan juga ketua jaksa agung, HM Prasetyo. Bahkan penjemputan dari Shanghai China menuju Indonesia menggunakan pesawat carteran yang mengeluarkan dana sampai Rp 288 Juta. Dan saat mereka turun dari pesawat, karpet merah sudah turut disediakan. Selain itu keistimewaan lainnya juga adalah tidak diborgolnya tangan Samadikun saat sampai di Jakarta. Bahkan pesawat itu turun langsung di bandara Halim Perdana Kusuma yang menurut Bambang itu adalah bandara yang biasa digunakan untuk pejabat serta tamu negara. Hal ini pun turut diaminkan oleh sekertaris fraksi PAN di DPR, Teguh Juwarno melalui pernyataan tertulisnya bahwa seharusnya korupsi disamakan dengan banyaknya kejahatan besar lainnya, seperti terorisme dan narkoba, sehingga penjemputan oleh pejabat negara tidaklah perlu dilakukan.

Di sisi lain, pembelaan dilakukan oleh Soetiyoso, menurutnya, hal ini adalah hal yang wajar saat proses operasi intelijen dilakukan.

“Ya, memang operasi intelijen itu mahal.” ucapnya yang dilansir oleh Tribun news.com yang terbit pada  Sabtu, 23 April 2016. Penggunaan pesawat carteran dan bukan pesawat komersiil adalah demi keselamatan dan keamanan buronan. Jika menggunakan pesawat komersiil tentunya akan transit di sana sini dan melewati kantor imigrasi berkali-kali, yang akan menghambat pemulangan, sehingga diperlukan lah pesawat sendiri. (SM)

SHARE THIS: